Lucky Dragon yang Tak Seberuntung Namanya

SAYA diundang East West Center (EWC) untuk ikut memantau pemilihan umum di Federated States of Micronesia (FSM).

Didanai Bureau Democracy, Human Rights and Labor, the US State Department (Deplu AS) dan dikoordinir Pacific Islands Development Program (PIDP) di EWC, Election Observation Mission (EOM) ini adalah salah satu kegiatan Asia Pacific Democracy Partnership (APDP) yang didirikan dua tahun lalu usai konferensi tingkat tinggi APEC di Sydney.

Ini adalah misi ketiga EOM APDP setelah memantau pemilu di Mongolia (Juni 2008) dan di Bangladesh (Desember 2008).

Tetapi sebelum menulis tentang pemilihan umum di FSM dan Chuuk, salah satu negara bagian Federasi Mikronesia, saya akan melanjutkan cerita mengenai ujicoba bom atom Amerika Serikat di Pasifik dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan itu. Tulisan ini juga merupakan bagian dari pengantar seri perjalanan ke Mikronesia.

***

Ujicoba bom hidrogen berkekuatan superdashyat hingga 1.000 kali kekuatan bom atom di Hiroshima di Pulau Bikini, Marshall Islands memakan begitu banyak korban, baik di pihak rakyat sipil Marshall Islands maupun tentara Amerika Serikat yang terlibat dalam ujicoba itu.

Angin yang tanpa diduga bertiup ke arah timur menyebarkan radioaktif yang dihasilkan ledakan Castle Bravo dengan begitu cepat. Penduduk di dua pulau karang atau atol Rongelap dan Rongerik, misalnya, terpaksa diungsikan ke pulau-pulau lain di sekitarnya. Namun radiasi telah terlanjur menyebar. Beberapa laporan menyebutkan hingga hari ini masih banyak bayi yang lahir di Marshall Island dalam keadaan cacat akibat dari ujicoba Castle Bravo lebih dari 40 tahun lalu.

Lucky Dragon No. 5 pun tak seberuntung namanya. Kapal nelayan berbendera Jepang itu sedang berlayar di sekitar Marshall Islands tanggal 1 Maret 1954 ketika ia tersapu gelombang radiasi Castle Bravo. Para pelaut Lucky Dragon yang terkena radiasi hebat mengalami cacat, dan salah seorang diantaranya meninggal dunia. Kejadian ini sempat menimbulkan ketegangan baru antara Jepang dan Amerika Serikat. Publik Jepang yang masih ingat kejadian pahit sepuluh tahun sebelumnya ketika Hiroshima dan Nagasaki dihancurkan bom atom Amerika Serikat menyebut peristiwa yang menimpa Lucky Dragon itu sebagai Hiroshima Kedua.

Untuk meredakan ketegangan, pemerintah kedua negara menandatangani kesepakan politik. Dalam kesepakatan itu pemerintah Amerika Serikat setuju membayar kompensasi untuk semua pelaut Lucky Dragon sebesar 2 juta dolar AS. Sementara untuk menyelamatkan muka Amerika Serikat, pemerintah Jepang berjanji tidak akan memberikan status Hibakusha kepada pelaut Lucky Dragon.

Hibakusha adalah status yang diberikan kepada korban bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Termasuk bayi yang dilahirkan oleh wanita yang menjadi korban bom atom. Dengan sendirinya Hibakusha bermakna politis.

Ia menggambarkan kekejaman Amerika Serikat dalam Perang Dunia Kedua: Little Boy yang dijatuhkan Enola Gay di Hisroshima tanggal 6 Agustus 1945 menewaskan 70 ribu orang, dan sampai 1950 korban Little Boy diperkirakan mencapai angka 200 ribu orang. Sementara Fat Man yang dijatuhkan di Nagasaki tiga hari kemudian menewaskan 40 hingga 75 ribu orang, dan angka ini terus bertambah hingga di akhir tahun itu diperkirakan menjadi 80 ribu orang. Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s