Jepang dan Amerika, Hibakusha dan Romusha

APA boleh buat, dalam perang kekejaman adalah hal yang lumrah.

Kadangkala, Konvensi Jenewa Keempat tahun 1949 yang diadopsi dari Konvensi Den Haag tahun 1907 yang mewajibkan pihak-pihak yang terlibat perang untuk tidak menjadikan penduduk sipil sebagai sasaran pun seakan menjadi lelucon yang paling tidak lucu.

Setelah Perang Dunia Kedua kita masih menyaksikan korban di pihak sipil berjatuhan. Di perang Korea (1950-1953), perang Arab-Israel (1960an), perang Vietnam (1970an), perang Iran-Irak (1980-1988), invasi Uni Soviet (1979), perang Irak I (1991), sampai perang yang digelar Amerika Serikat belakangan ini. Baik perang untuk menghabisi apa yang mereka sebut jaringan terorisme internasional, ataupun perang untuk menghancurkan Saddam Hussein.

Paul W. Tibbets, pilot yang menjatuhkan Little Boy di kota Hiroshima, dalam memoarnya menulis, perang adalah tragedi kemanusiaan. Dan dengan sendirinya, “the tragic consequences of humanity are erased from one’s thought in wartime.”

Ada Hibakusha, ada pula Romusha dan Jugun Ianfu. Bila Hibakusha adalah status yang diberikan kepada rakyat sipil Jepang yang menjadi korban keganasan perang, dalam hal ini Amerika Serikat, maka Romusha atau tenaga-kerja-paksa dan Jugun Ianfu atau wanita-penghibur-paksa adalah julukan untuk rakyat sipil di banyak negara di kawasan Asia Pasifik yang menjadi korban keganasan Jepang selama Perang Dunia Kedua.

Sebelumnya rakyat Jepang tak peduli pada pembantaian yang dilakukan tentara Jepang terhadap penduduk sipil, termasuk pengerahan Romusha dan Jugun Ianfu, di banyak negara, termasuk di Indonesia, selama Perang Dunia Kedua.

Di era 1930-an masyarakat sipil Jepang, kelas menengah, kaum cendekia dan media massa, bahkan sangat aktif mendukung invansi tentara Jepang ke Manchuria, China. Kemenangan besar Jepang dalam perang melawan Rusia di awal abad ke-20 membuat rakyat Jepang percaya bahwa mereka adalah saudara tua seluruh Asia. Rakyat Jepang menjadi begitu peduli pada konsekuensi perang setelah mereka menyaksikan dan merasakan serta menjadi korban kekejaman perang.

Sikap seperti ini kita temukan di mana-mana. Manusia cenderung peduli pada konsekuensi perang yang sangat tidak manusiawi setelah ia dan kelompoknya, langsung atau tidak langsung, menjadi korban perang. Sebelum konsekuensi di luar batas-batas nilai kemanusiaan itu tiba di halaman rumah kita, kita nyaris tak peduli pada perang dan kekejamannya.

Demonstrasi menentang sejumlah perang di kalangan masyarakat sipil Amerika Serikat juga didorong oleh kekhawatiran mereka akan kemungkinan (dampak) perang yang menimpa mereka baik langsung maupun tidak langsung.

Mereka baru berkomentar dan menentang perang setelah anggota keluarga mereka yang dikirim ke medan perang menjadi korban, atau setelah mereka menyadari bahwa pajak yang mereka bayar digunakan lebih banyak untuk membiayai perang, bukan untuk membangun infrastruktur, meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan anak-anak mereka.

One thought on “Jepang dan Amerika, Hibakusha dan Romusha”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s