In the Name of the Father

BEGITU ketua majelis hakim mengetuk palu dan menyatakan dirinya tak bersalah, laki-laki berwajah tirus dan berambut ikal gondrong itu melemparkan ke udara bunga putih yang tadi diberikan ibunya.

Berdiri di atas meja sambil membuka jas dan mengipas-ngipaskannya, Gerry Conlon melabrak barisan polisi yang berusaha menahan langkahnya.

“Aku orang bebas, dan aku akan keluar dari pintu depan.”

Di belakang Gerry Conlon, pengunjung sidang melakukan hal serupa. Bunga merah dan putih bertebaran memenuhi ruang sidang.

Di depan saya beberapa teman wanita kembali mengambil tisu mereka, menyeka airmata yang menetes satu dua.

Untuk ketiga kalinya saya menonton film itu. Kali ini hari Selasa lalu (7/10) di kelas Indigenous Politics setelah pekan sebelumnya kami membahas buku “Ireland After History” yang ditulis David Lloyd yang juga berkisah tentang konflik Irlandia dan Inggris, kolonialisme yang masih berlangsung dan kesadaran nasionalisme Irlandia.

“Aku orang yang tak bersalah. Aku menghabiskan 15 tahun di penjara untuk sesuatu yang tak kulakukan. Aku menyaksikan ayahku meninggal di penjara Inggris untuk sesuatu yang tak dilakukannya. Dan pemerintahan ini masih menyatakan dia bersalah. Aku berkata kepada mereka bahwa sampai ayahnya dinyatakan tidak bersalah, sampai semua yang terlibat dalam kasus ini dinyatakan tidak bersalah, sampai pihak yang sesungguhnya bersalah dibawa ke pengadilan, aku akan berjuang. Demi nama ayahku dan demi kebenaran,” teriak Gerry Conlon di depan demonstran yang berkumpul di depan gedung pengadilan di London, menunggu pembebasan kelompok “Guildford Four” dan “Maguire Seven”, 17 Oktober 1989.

Lahir dan besar di Lower Falls, salah satu pemukiman miskin di Belfast, Irlandia Utara, seperti kebanyakan pemuda Irlandia lainnya Conlon muda menyimpan kebencian pada Inggris Raya yang mereka anggap sebagai  penjajah. Konflik antara Inggris dan Irlandia adalah cerita lama. Seperti konflik antara Palestina dan Israel yang menjajah tanah mereka, konflik antara Irlandia dan Inggris adalah konflik di era modern yang paling lama dan paling sulit diselesaikan.

Film “In The Name of the Father” yang diproduksi tahun 1993 ini dibuat berdasarkan autobiografi Gerry Conlon berjudul “Proved Innocent” yang diterbitkan tahun 1990. Tahun 1993 dan 1994 Gerry merilis ulang buku itu dan mengubah judulnya menjadi “In the Name of the Father”.

Bersama seorang teman wanitanya, bulan Agustus 1974 Gerry pindah ke London. Di kota itu dia bertemu dengan komunitas baru, pemuda dan pemudi yang seperti mereka juga funky. Sebagian dari teman-temannya itu adalah orang Irlandia, dan sebagian lainnya adalah orang Inggris.

Hanya sebulan Gerry bisa bertahan hidup di London. Ia yang kembali ke kampung halamannya di Belfast pada pertengahan Oktober 1974, ditangkap polisi rahasia Inggris pada suatu malam di akhir November.

Bersama tiga orang temannya, Paul Hill, Patrick Paddy Armstrong dan Carole Richardson, Gerry menjadi korban pertama Prevention of Terrorism Act (PTA) yang diundangkan Parlemen Inggris hanya tiga hari sebelum Guildford Pub, sebuah pub di London, dibom tanggal 5 Oktober 1974.

Dan keempat anak muda itulah yang dituduh sebagai pelaku utama dalam aksi pengeboman yang menewaskan lima orang dan melukai ratusan orang itu. Mereka yang selanjutnya dikenal publik Inggris sebagai “Guildford Four” dijatuhi hukuman 30 tahun penjara. Hukuman itu lebih ringan dari tuntutan JPU yang meminta agar keempat anak muda ini juga dijerat pasal pengkhianatan dengan ancaman hukuman mati.

Bersama dengan “Guildford Four”, polisi Inggris juga menangkap kelompok “Maguire Seven” yang terdiri dari Anne Maguire dan suaminya Patrick Maguire, serta dua anak mereka, Patrick Maguire Jr. dan Vincent Maguire; juga adik Anne Maguire, William Smyth; dan seorang teman keluarga Maguire, Patrick O’Neill. Anggota terakhir kelompok ini adalah Patrick Giuseppe Conlon, abang ipar Anne Maguire yang juga ayah dari Gerry Conlon, yang berangkat ke London untuk menolong anaknya.

Bila “Guildford Four” dituduh melakukan pengeboman, maka “Maguire Seven” dituduh sebagai kelompok yang mendukung aksi terorisme itu.

Hukuman untuk kelompok tujuh ini bervariasi. Anne yang ketika ditangkap berusia 40 tahun dan suaminya (42) dihukum selama 14 tahun. Anak mereka, Patrick Jr. (14) dihukum empat tahun, dan Vincent (17) dihukum lima tahun. William (37), Patrick O’Neill (35) dan Giuseppe Conlon dihukum 12 tahun. Malang bagi Giuseppe, dia meninggal dunia dalam penjara di bulan Januari 1980.

Di dalam bukunya, Gerry mengaku bahwa awalnya dia bukanlah seorang aktivis pro-kemerdekaan Irlandia Utara. Dia hanya seorang happy-go-lucky dan hard-drinking petty thief yang suka mengejar perempuan.

Namun bagaimanapun juga, kenyataan bahwa dia telah diperlakukan secara tidak adil oleh otoritas negara dan pengalamannya selama berada di penjara membawa dia pada sebuah kesadaran baru: bahwa nama baik dan harga diri harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Setting politik dan konflik panjang antara Ingrris dan Irlandia Utara pun menyadarkan Gerry pada ketidakadilan dan kekerasaan yang jauh lebih besar dari yang pernah dihadapi dan dipahaminya saat dia masih menjadi anak funky dan bandit kecil-kecilan di jalanan.

Tanggal 17 Oktober 1989, pengadilan banding membebaskan Gerry dan kelompok “Guildford Four” dari semua tuduhan. Pengadilan juga membersihkan nama “Maguire Seven”.

Namun tidak seorang pun pelaku pengeboman sesungguhnya yang ditangkap dan diadili serta dipenjarakan.

Ada beberapa perbedaan mendasar antara yang ditulis buku Gerry dalam bukunya dan yang diceritakan dalam film “In the Name of the Father”.

Misalnya, pada kenyataannya Gerry (diperankan Daniel Day Lewis) dan ayahnya (diperankan Pete Postlethwaite) tidak pernah dikurung di penjara yang sama. Juga tidak seperti yang diceritakan dalam film, Gerry berangkat ke London bersama seorang teman wanitanya, bukan atas permintaan ayahnya, apalagi sampai diantar sang ayah hingga ke tangga kapal laut yang ditumpanginya.

Begitu juga dengan pengacara muda yang membantu mereka, Gareth Peirce (diperankan Emma Thompson), tidak muncul dalam sidang banding yang dilakukan untuk menguji kembali keputusan pengadilan London memejarakan Gerry Cs selama 30 tahun.

9 Februari 2005 Perdana Menteri Tony Blair menyampaikan permohonan maaf kepada “Guilford Four” dan “Maguire Seven” beserta keluarga mereka atas ketidakadilan yang pernah dilakukan negara terhadap mereka.

“Saya sangat menyesal mereka menjadi korban dari ketidakadilan. Nama baik mereka harus dipulihkan,” kata Blair.

Paul Hill menikah dengan Courtney Kennedy, anak dari almarhum Senator Robert Kennedy dan keponakan mantan presiden AS John F. Kennedy.

Sarah Conlon, ibunda Gerry yang selama 16 tahun berjuang untuk membersihkan nama anak dan suaminya, meninggal dunia 20 Juli 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s