Mengintip Kamar Tidur Bung Karno

TAK BANYAK pihak yang mau membantu perawatan Istana Gebang. Itu sebabnya perumahan di Jalan Sultan Agung, No. 56, Sanan Wetan, Blitar itu hendak dijual oleh pemiliknya, keturunan Ny. Soekarmini Wardoyo, kakak kandung Bung Karno.

Harga yang ditawarkan pihak keluarga sebesar Rp 50 miliar. Dikabarkan, sudah ada beberapa penawar dari pihak swasta. Tetapi konon keturunan Ny. Wardoyo lebih sreg bila yang membeli adalah pemerintah.

Atas: Rumah induk Istana Gebang tampak dari Jalan Sultan Agung. Lukisan besar di sebelah kiri dibawa Rachmawati dari Jakarta, dipasang untuk menyambut Haul Bung Karno.
Tengah: Pedagang wayang di pagar rumah Bung Karno.
Bawah: Prasasti pemugaran Istana Gebang tanggal 20 Mei 1998, sehari sebelum Soharto mengundurkan diri di Jakarta. Pemugaran dilakukan Dewan Harian Daerah Angkatan 45, Jawa Timur. Prasasti ditandatangani Sudjito, Ketua DHD Angkatan 45.

Rumah itu awalnya milik Bung Karno. Namun puluhan tahun lalu diserahkan kepada Ny. Wardoyo. Itu sebabnya, anak-anak Bung Karno, terutama dari Ibu Fatmawati, merasa tidak berhak mencampuri rencana penjualan rumah ini.

Menurut pemberitaan sejumlah media massa, saat ini di depan rumah itu terpancang sebuah papan pengumuman bertuliskan:

”Dijual: Rumah bersejarah Komp. Istana Gebang Blitar. Luas tanah 13.200 M2. Rumah peninggalan Kakak Presiden Pertama Ir. Soekarno, Proklamator tercinta. Sertifikat hak milik. Tanpa perantara, pemilik langsung. Hub. Ibu  Rita atau Bpk. Gambiro.”

Bulan Juni 2005 silam saya sempat mengunjungi Istana Gebang bersama Rachmawati Soekarnoputri. Berikut ini adalah foto-foto yang saya ambil dalam kunjungan yang dilakukan bersamaan dengan Haul Bung Karno.

Salah satu dinding di ruangan belakang yang ditempeli foto Ny. Wardoyo dan kerabatnya.

Salah satu pojok di ruangan depan. Dilihat dari sayap kiri ruangan. Pintu di bagian kanan foto adalah pintu penghubung ruang depan dan ruang belakang.

Salah satu pojok yang berisi foto-foto keluarga Bung Karno. Foto Megawati Soekarno mendominasi. Di atas patung Bung Karno adalah foto ibundanya. Juga ada foto Bung Karno dengan Ibu Fatmawati sebelum Ibu Fat meninggalkan Bung Karno karena si Bung kawin lagi dengan Hartini. Lukisan besar di dinding itu berjudul  Indonesia Menggugat, diinspirasi pengadilan atas diri Bung Karno di Bandung tahun 1930.

Dinding di antara dua kamar. Kamar kanan (pintu terbuka) adalah kamar Bung Karno. (Sebentar lagi kita masuk ke dalamnya…)

Sayap kiri ruangan depan. Beberapa foto Bung Karno dan lukisan besar menghiasi dindingnya.

Pojok yang sama dari arah pandang yang berbeda. Lukisan besar di dinding menggambarkan Bung Karno mengajak rakyat merebut kekuasaan dari kolonialisme Belanda.

salah satu dinding yang didominasi lukisan raksasa Bung Karno dan lukisan kedua orang tuanya.

Kalau tidak salah ini adalah ruangan kecil yang menjorok ke dalam sayap kiri ruangan depan. Kalau salah, maaf ya.. Maklum sudah agak lupa…

Pintu yang menghubungkan dua ruang utama. Kotak di sebelah kana bertuliskan: sumbangan sukarela.

Tempat tidur Bung Karno. Ada sesisir pisang dan dua gelas air putih dan teh manis di atas atas meja kecil di sisi tempat tidur. Tiga lukisan dan gambar masing-masing adalah lukisan diri Bung Karno (bawah), foto Bung bersama Ibu Fat dan kelima anak mereka (tengah), dan foto Bung Karno bersama Ibu Fat (atas).

Lemari kaca dan tiga keris dari Keraton Yogyakarta.

Lemari hias di seberang tempat tidur. Foto di dinding adalah foto Ny. Wardoyo bersama dua kerabat.

Tempat tidur Bung Karno yang ditaburi bunga melati.

7 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s