Helen Wong: 100% Tuhan Bisa Bela Diri

DIKUTIP dari email yang dikirimkan Helen Wong ke sebuah milis terbatas. Dimuat atas seizin Helen. Helen adalah dosen bahasa Inggris di Universitas Atma Jaya, Jakarta, yang sekarang sedang menjadi teaching assistant jurusan bahasa Indonesia di University of Hawaii at Manoa (UHM). Email ini adalah komentarnya atas film Fitna karya Wirlders, dan hal-hal serupa tentang itu. Selamat menyimak.

HEHEHEHE…
Memang orang itu diciptakan sebagai mahluk yang kreatif.

Jadi ingat kampung halaman nih. Kalo orang di sini ditanya asalnya, mereka akan jawab: “I was born and raised in Hawaii.”

Kalo saya: I was born and raised a “minority.”

Sudah anak paling bungsu, cewek, Kristen, Cina pula… jadi kalau masalah makan-memakan ati itu sudah menu sehari-hari.

Dan ngomong masalah anak bungsu, katanya anak paling disayang dan dimanja, hmmmm engga salah sih hehehe… Tapi kalo udah sampe ke masalah konflik dalam rumah tangga (wadhuh kok resmi banget sih istilahnya), maksudnya kalo pas bertengkar ama saudara, maka anak bungsulah yang harus minta maaf duluan meskipun engga salah. Nah, kalo begini nih yang paling susah. Karena sudah bukan masalah bener ato salah lagi, tapi ini masalah harga diri…

Sama halnya dengan YouTube dan Fitna versi apapun juga, dan publikasi-publikasi lainnya. Sebenarnya ini hanya masalah harga diri manusia.

Karena kalau dibilang untuk membela agama dan Tuhan, kedengarannya kok engga masuk akal. Bukannya selalu kita, yang dibela sama Tuhan, dan bukan kebalikannya. Tuhan kita (agama apapun) adalah Tuhan yang maha kuasa dan kalau Dia memang mau membela diri sendiri Dia bisa 100% kok.

Kalau Dia mau kasi pelajaran ke orang-orang tertentu yang sudah memperlakukan anak-anak-Nya dengan tidak adil, Dia juga bisa. Cuman kadang memang Dia “ijinkan” (bukan merencanakan) hal-hal seperti itu terjadi agar kita, anak-anakNya “berolah-raga”. Karena pada hakekatnya kan hidup beragama itu demikian. Tidak selamanya mulus, tapi mesti ada naik turun dan ujiannya, dan kalau kita bisa tetep sabar dan bertahan disitulah kondisi kita jadi lebih sehat dan kuat. Kalo kita lulus ujian kelas 4 ya kita naik kelas 5 lah. Kalo di kelas 4 aja ga lulus-lulus gimana mau dinaikin ke kelas 5.

Sama halnya kayak bikin pisang goreng (hehehehe … nyontek resepnya). Pisang itu mesti dikupas, dipotong-potong, kadang malah perlu dipenyet-penyet (minjem istilah bahasa jawa) biar aromanya keluar, dicampur ini itu dan akhirnya digoreng… panas… sebelum akhirnya dimakan.

Tapi buktinya malah piasng goreng tadi jadi wangi, laris manis dan mengenyangkan orang banyak tho. Nah, seandainya pisang itu ga terima dan menolak dikupas, dipotong, dipenyet-penyet apalagi digoreng dan dimakan, maka apa yang terjadi… mulanya pasti heboh… ada pisang bisa berontak (hehehe just kidding), tapi yang jelas pasti dibuang dan kemudian dilupakan orang. Mau dibuat kompos juga kasihan tanahnya… alot hehehe…

Jadi ya begitulah, bukannya persoalan serang-menyerang dan ketidakadilan mesti dibiarkan saja. Tapi lebih cenderung ke bagaimana kita menyikapinya. Bijaksana, pikiran jernih dan akal sehat bukan emosi.

Blessings,

Helen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s