Rakyat Semakin Siap Sambut Presiden Kulit Hitam

SEMAKIN banyak rakyat Amerika Serikat yang siap bila negaranya dipimpin oleh keturunan kulit hitam.

Demikian hasil survei politik yang digelar CNN/Essence Magazine/Opinion Research Corp. yang hasilnya dirilis hari Kamis (3/4) waktu Washington.

Menurut poling itu, lebih dari tiga per empat atau 76 persen rakyat Amerika tidak mempersoalkan warna kulit presiden yang akan memimpin mereka. Angka ini 14 persen lebih tinggi dari poling serupa yang digelar akhir 2006 lalu.

Faktor pendorong kesiapan ini adalah kehadiran Senator Illinois Barack Obama dalam bursa pemilihan presiden Amerika Serikat, kata Keating Holland, direktur poling CNN.

“Kami tidak mengajukan pertanyaan dalam ruangan hampa. Dalam banyak kasus, responden memikirkan Obama ketika memberikan jawaban mereka, walaupun namanya tidak disebutkan dalam kuisioner,” kata Holland.

Dalam poling itu, keturunan kulit putih lebih banyak yang menyatakan siap bila presiden Amerika berikutnya adalah keturunan kulit hitam (78 persen). Sementara keturunan kulit hitam yang menyatakan siap bila presiden berikutnya adalah keturunan Afro-Amerika sebesar 69 persen.

“Berdasarkan pengalaman hidup mereka, dapat dipahami bila keturunan kulit hitam lebih skeptis dibanding keturunan kulit putih,” ujar Bill Schneider, koresponden senior CNN.

Holland menambahkan, sikap optimis laki-laki keturunan kulit hitam untuk menerima presiden kulit hitam lebih tinggi dibanding perempuan kulit hitam. Kalangan berpendidikan kulit hitam juga lebih optimis dibandingkan kalangan yang tidak berpendidikan. Begitu juga dengan optimisme di kalangan pemuda yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kalangan orang tua.

Tidak hanya itu, poling ini juga memperlihatkan rakyat Amerika lebih memilih presiden kulit hitam daripada presiden perempuan. Sebanyak 63 persen responden mengatakan hal itu. Angka ini 13 persen lebih tinggi dibanding yang menyatakan siap bila presiden Amerika mendatang adalah keturunan kulit hitam.

“Mereka melihat lebih banyak hal negatif tentang perempuan ini daripada keturunan Afro-Amerika itu. Ini benar, lebih banyak orang yang tidak senang pada Hillary Clinton dibandingkan pada Obama,” kata Schneider.

Poling ini digelar antara tanggal 26 Maret sampai 2 April, dengan jumlah responden sebanyak 2.184 orang. Dari jumlah itu sebanyak 1.014 adalah keturunan kulit hitam, dan 1.001 keturunan kulit putih.

Hasil survei ini dirilis bertepatan pada malam peringatan 40 tahun pembunuhan Martin Luther King Jr.

2 Replies to “Rakyat Semakin Siap Sambut Presiden Kulit Hitam”

  1. Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2008, dari Invisible Man menjadi Visible man?

    Dalam proses pemilihan presiden, di manapun, kalah atau menang dalah hal biasa. Bila seseorang mampu meraup suara terbanyak, dia menang; sebaliknya bila dia memperoleh suara lebih kecil dari pesaingnya, berarti dia kalah. Namun, akan menjadi lain, bila Obama mampu meraih kemenangan dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat. Mengapa demikian?. Saya mencoba memberikan ulasan sebagai berikut.

    Sekilas tentang Black American
    Orang Amerika kulit hitam, yang memiliki sejumlah sebutan: Negro, Black American, dan African American. Sebutan negro atau niger dan black American, kini, jarang dipakai. Tampaknya, sebutan popular hari ini adalah African American.
    Orang Amerika kulit hitam, awalnya, orang Afrika yang dipekerjakan sebagai indentured servant dan kemudian sebagai budak (slave).Para budak itu, umumnya, bekerja di perkebunan, dimiliki oleh pemilik budah (slave owner), dan diawasi oleh para mandor. Mereka bisa diperjualbelikan. Hingga dalam beberapa generasi, mereka menjadi budak. Walaupun Amerika telah mendapatkan kemerdekaannya, perbudakan masih berlangsung, hingga pecahnya Perang Saudara (Civil War).
    Perang saudara itu terjadi antara pihak pro dan kontra perbudakan. Pihak pro pebudakan adalah Amerika bagian Utara (Northern America) dan Amerika bagian Selatan (Southern America). Salah satu faktor utama penyebab meletusnya perang saudara adalah pandangan kelompok Utara, bahwa perbudakan melanggar hak asasi manusia (human rights); perbudakan bertentangan dengan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence), khususnya “…. all men are created equal” (Semua manusia tercipta dalam kesamaan). Para budak harus ditingkat status sosial mereka sebagai orang bebas (free men), yang memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama, dalam semua aspek kehidupan (idelogi, politik,ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan-keamanan.
    Setelah secara de jure, perbudakan itu dihapuskan, namun secara de facto, perlakuan terhadap free men tidak serta merta sama dengan warga Amerika lain, khususnya dengan White American. Warga kulit hitam lama sekali berada di bawah dominasi kulit putih (white domination). Warga kulit putih menganggap diri mereka sebagai superior; sementara warga kulit hitam, sebagai inferior.
    Sejarah mencatat, di bawah white domination itu, warga Amerika kulit hitam dihadapkan pada kehidupan yang serba sulit dan berat. Mereka dihadapkan pada purbasangka (prejudice), diskriminasi (discrimination), pemisahan (segregation), bahkan hukuman mati secara sadis tanpa proses hukum (lynching).
    Pengalaman warga Amerika kulit hitam banyak terefleksikan dalam kaya-karya sastra. Ambil contoh, novel berjudul Uncle Tom’s Cabin, Native Son dan Insivible Man. Dalam Uncle Tom’s Cabin, seorang perempuan kulit hitam, Harriet Beecher Stowe, mengisahkan perbudakan di Amerika Serikat. Ketika novel ini ditulis, di negera itu telah terjadi silang pendapat tentang adanya perbudakan. Kelompok yang pro dengan perbudakan adalah terdiri dari orang-orang kulit putih yang umumnya berada di Amerika bagian Selatan, yang memiliki banyak budak atau yang diuntungkan dengan adanya perbudakan itu. Sedangkan kelompok yang kontra adalah mereka yang berada di Amerika bagian Utara (didukung oleh kelompok kulit hitam). Menurut catatan sejarah, novel Uncle Tom’s Cabin memiliki daya provokatif yang luar biasa, membawa rakyat Amerika ke kancah perang saudara.
    Novel Native Son, karya Richard Wright, terbit pada tahun 1940-an, dan Insvisible Man, karya Ralph Ellison, terbit tahun 1950-an, keduanya masih merekam inferioritas kaum kulit hitam. Dalam masa ini, secara de jure, perbudakan telah dihapuskan; namun secara de facto, dominasi kulit putih terhadap kulit hitam masih cukup kuat. Yang menarik untuk diungkap di sini adalah invisible man dalam novel Invisible Man. Pernah ada penerjemah, menerjemahkan Invisible Man dalam bahasa Indonesia dengan istilah “Manusia Gaib”. Yang dimaksud dengan invisible man bukanlah “manusia gaib”; tetapi manusia yang secara fisik seperti manusia lain, bisa dilihat, dan dia tidak bisa menghilang. Dia adalah manusia yang secara sosial-budaya kurang (atau bahkan tidak) diakui eksistensinya.

    Kondisi Dilematis?
    Secara sosiologis, berdasar pengelompokan ras, masyarakat Amerika digolongkan dalam tiga golongan besar. Pertama adalah kelompok kulit putih; kedua, kulit merah; dan ketiga, kulit hitam. Orang kulit putih ini berasal dari imigran Eropa (khususnya, Inggris); orang kulit merah adalah orang Amerika Asli (Native Americans); dan orang kulit hitam berasal dari/keturunan Afrika. Orang kulit putih menduduki kelas pertama (the first class); orang kulit merah, kelas kedua (the second class); dan orang kulit hitam (dan imigran lain), kelas ketiga (the third class).
    Bila orang kulit dan kulit hitam disandingkan, stratifikasi sosial mereka adalah : orang kulit laki-laki (male white people), orang kulit putih perempuan (female white people), orang kulit hitam laki-laki (male Black Americans), dan orang kulit hitam perempuan (female Black Americans).
    Ketika Obama bersaing dengan Hillary Clinton dalam penjaringan kandidat presiden dari Partai Demokrat, di atas kertas, diprediksi dia (Obama) sulit mendapat dukungan untuk menjadi salah satu penghuni Gedung Putih. Mengapa? Karena, Hillary itu perempuan (Female American); sementara Obama itu keturunan kulit hitam (African American). Secara sosiologis, posisi sosial Hillary lebih tinggi ketimbang Obama. Berdasar sudut pandang sosiologis pula, pertarungan Obama dan Hillary menciptakan kondisi dilematis bagi rakyat pendukung mereka. Memilih Obama yang kulit hitam atau Hillary yang kulit putih tapi perempuan.
    Sebab, sejarah menunjukkan bahwa belum pernah ada orang kulit hitam atau kulit putih perempuan menjadi Presiden Amerika. Sebab, selama ini, dominasi kulit putih (white domination), khususnya, kulit putih yang terkategori WASPs (White Anglo-Saxon Protestants). Klausa “…all men are created equal..” seperti tertera dalam Declaration of Independence, selama ini, masih berpihak pada Man White Anglo-Saxon Protestant. Namun, kini, “tradisi” bahwa Presiden Amerika Serikat itu laki-laki, kulit putih, keturunan Inggris, dan beragama Protestan, telah runtuh seiring dengan kemenangan Barack Obama.
    Apakah kemenangan Obama ini berarti mengantarkan status invisible man –seperti yang dicita-citakan oleh Ralph Ellison dalam novelnya Invisible Man—ke status visible man? Saya kira, hanya orang-orang Amerika yang mampu dan berhak menjawabnya.

    Pelajaran berharga
    Sejumlah pengamat menyatakan bahwa kemenangan Barack Obama dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat ini hendaknya dijadikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Dalam Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden kita nanti, atau Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota, kita hendaknya mengambil sisi-sisi positif dari proses demokrasi di negeri Paman Sam itu.
    Satu sisi yang perlu dicermati adalah kenyataan bahwa seorang Barack Obama bukanlah orang terkategori sebagai bagian dari White Anglo- Saxon Protestants. Artinya, siapapun –asalkan Warga Negara Indonesia dan tentu memenuhi syarat-syarat sebagai kandidat presiden, bupati atau wali kota- beri kesempatan untuk maju ke pemilihan presiden. Bila beliau terpilih, dialah presiden, gubernur, atau bupati/wali kota kita. Beliau harus didukung, dan hendaknya tidak diprotes, diboikot program-programnya, dan tindakan-tindakan sejenisnya. Bagaimana menurut anda? (Penulis: Alumnus Kajian Amerika, Pascasarjana-UGM)

Leave a reply to teguhtimur Cancel reply