Delapan Bahaya di Depan Mata Kita

KAWASAN Asia Pasifik menghadapi tantangan yang semakin besar di masa depan. Berbagai tantangan itu hanya dapat dihadapi dengan mengembangkan sikap saling memahami dan kerjasama.

Tanpa itu, tantangan-tantangan ini akan berubah menjadi bahaya besar.

Demikian disampaikan Presiden East West Center Charles Morrison dalam kuliah umum yang disampaikan di Imin Conference Center, Jefferson Hall, Honolulu, Hawaii, Rabu malam (2/4) waktu setempat.

Menurut Morrison yang terpilih sebagai Ketua Pacific Economic Cooperation Council (PECC) bulan September 2005 lalu, kawasan Asia Pasifik tengah menghadapi delapan persoalan besar yang berpotensi menjadi bahaya.

Pertama, berkaitan dengan persoalan demografi setiap negara. Perbedaan demografi antara satu negara dengan negara lain akan memiliki konsekuensi pada relasi ekonomi dan politik antarnegara.

Jepang yang dikenal sebagai negara paling kaya di dunia saat ini, misalnya, diperkirakan akan menghadapi persoalan demografi di tahun 2050.

Menurut perkiraan, di masa itu Jepang akan mengalami ketimpangan penduduk, dimana penduduk usia produktif lebih sedikit dari penduduk usian senior yang sudah tidak produktif lagi. Hal ini didorong oleh kecenderungan pertumbuhan jumlah pendudukan Jepang yang kini terbilang kecil. Semakin banyak orang Jepang yang merasa menikah dan berkeluarga bukan merupakan keharusan.
Pilihan hidup melajang semakin besar di kalangan wanita Jepang.

Persoalan kedua berkaitan dengan ketimpangan ekonomi internasional. Beberapa negara di kawasan Asia Pasifik akan tetap menghadapi persoalan serius dalam pertumbuhan ekonomi mereka. Hal ini akan semakin diperparah oleh persoalan ketiga, yakni ketimpangan pendapatan di tingkat domestik. Ketimpangan ini akan mendorong arus imigrasi yang kuat. Pada titik tertentu, imigrasi akan mempengaruhi persoalan sosial dan politik juga diplomatik antarnegara.

Dari diagram yang diperlihatkan Morrison, untuk beberapa tahun yang akan datang Indonesia tampaknya belum akan beranjak dari posisi papan bawah bersama India. Sementara Malaysia, Thailand dan Filipina akan berada di atas Indonesia.

Isu kesehatan juga akan semakin menjadi pusat perhatian di kawasan Asia Pasifik. Beberapa negara tampaknya akan mampu menghadapi perkembangan wabah penyakit baru, sementara beberapa negaranya lainnya masih akan menghadapi kesulitan.

Setiap negara di kawasan Asia Pasifik juga semakin dituntut untuk mampu mengembangkan riset yang ditujukan untuk menkonservasi lingkungan hidup.

Dua hal terakhir berkaitan dengan persoalan pemerintahan dan isu keamanan di kawasan Asia Pasifik.

Morrison yang juga merupakan pendiri The U.S. Asia Pacific Council dan The U.S. National Committee for Pacific Economic Cooperation menambahkan di banyak negara Asia Pasifik, sejauh ini, pemerintah tidak tampil sebagai problem solver, sebaliknya lebih berperan sebagai bagian dari persoalan.

Inefisiensi pemerintahan akan membuat jejaring korupsi semakin kuat dan sulit diberantas. Derajat ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah akan menentukan keberhasilan sebuah negara keluar dari persoalan atau tidak.

Selain itu, ketegangan yang muncul menyusul transisi demokrasi juga menjadi persoalan yang harus diperhatikan dengan serius. Di banyak negara, termasuk Indonesia, transisi dari otoritarian menuju demokrasi melahirkan gesekan sosial-politik yang bila tidak bisa dikelola dengan baik justru akan merusak proses pembangunan politik.

Morrison juga menyoroti etno-nasionalisme yang akan semakin tinggi. Ikatan manusian dengan etnis dan tanah kelahiran akan semakin kuat. Dengan kata lain, manusia akan semakin sensitif bila hal-hal yang berhubungan dengan identitas dan rasa kebangsaan mereka terganggu. Kerusuhan yang sedang terjadi antara orang Tibet dan pemerintahan China, menurut Morrison, merupakan contoh dari ketegangan etno-nasionalisme.

Secara khusus ia juga mengatakan bahwa konflik di garis perbatasan antarnegara tampaknya akan semakin sering terjadi. Lalu, krisis Semenanjung Korea akan ikut menentukan stabilitas kawasan Asia Pasifik, seperti halnya krisis Kashmir antara India dan Pakistan.

Hal terakhir yang juga harus diperhatikan, sambung Morrison, adalah jaringan terorisme internasional yang tampaknya belum akan reda dalam beberapa tahun di masa yang akan datang.

Leave a comment