Rahmawati Dipaksa Membuka Jilbab

INI terjadi di ruang antre imigrasi Bandara Honolulu, Hawaii, sesaat setelah China Airlines CI 18 yang membawa kami dari Taipei, Taiwan via Tokyo, Jepang mendarat mulus, Jumat pekan lalu.

Keindahan langit Pulau Oahu rusak karena kelakuan Francais, si opsir yang memaksa Rahma membuka jilbab di muka umum. Ratusan pasang mata pelancong yang hari itu tiba di Honolulu menyaksikan Rahma melepas jilbab dengan mata berkaca-kaca.

Ketika itu, saya sedang berada di ruang khusus imigrasi bandara. Opsir yang memeriksa paspor saya, seorang wanita bernama Fukunaga, meminta saya masuk ke ruang khusus itu. Saya menunggu lebih dari satu jam, dan selama itu ditanyai hal-hal yang sifatnya umum-umum saja: hal-hal yang sebetulnya sudah ditanyakan ketika saya apply visa di Kedubes AS di Jakarta.

Saya mendengar cerita Rahma dipaksa membuka jilbab setelah kami tiba di Hale Manoa, dormitory kami di University of Hawaii. Sepanjang perjalan dari bandara ke Hale Manoa, dia tak bercerita. Dan kebetulan saya naik taxi yang berbeda dengannya.

Rahma jelas menolak dipaksa melepas jilbabnya. Tetapi si opsir bersikeras. Katanya, dia harus memotret Rahma, setelah merekam sidik jari telunjuk kiri dan kanan, tanpa penutup kepala. Rahma sudah menjelaskan bahwa dia seorang wanita Islam, dan jilbab adalah bagian dari keyakinannya sebagai pemerluk agama Islam. Tetapi si opsir jelas lebih berkuasa. Dia tak perlu mengerahkan ribuan tentara Amerika hanya untuk memaksa Rahma membuka jilbabnya.

Seperti saya, Rahma merupakan salah seorang penerima beasiswa Ford Foundation tahun 2007. Dia lahir dan besar di Makassar, dan kini bekerja di Ternate. Di University of Hawaii, Rahma berencana memperdalam bidang public health, sesuatu yang amat dibutuhkan masyarakat Ternate, katanya. Selain saya dan Rahma, ada dua lagi penerima beasiswa Ford Foundation asal Indonesia yang tahun ini memilih kuliah di University of Hawaii—surga dunia, tempat para dewa dan dewi bertemu dalam damai, konon katanya.

Kisah yang dialami Rahma ini juga disampaikan kepada adviser kami di East West Center, Valerie Wong dan Kim Small. Mereka yang selama belasan tahun membantu para penerima scholarship dari berbagai negara di Hawaii tampak terpukul mendengar cerita ini. Wajah keduanya memerah.

Sambil mencatat nama si opsir itu Valerie berjanji akan melaporkan kasus ini ke pihak yang berwenang. Mungkin sekali, sebut Valerie, si Francais ini adalah opsir yang baru saja ditugaskan di tempat itu sehingga kurang memahami protap di lapangan. Sebagai seseorang yang bertugas menyambut para pendatang di Hawaii, tak sepatutnya si opsir bertingkah seperti itu, kata Valerie.

Kelakuan si opsir ini (walau dia berada di “bagian rumah” yang lain) jelas menodai niat tulus yang dikembangkan East West Center, sebuah lembaga yang didirikan Kongres AS tahun 1960 lalu untuk mendekatkan AS dengan negara-negara Asia dan Pasifik. Sebagai sebuah lembaga dengan misi khusus itu, East West Center berusaha keras mengembangkan sikap saling pengertian, dan saling memahami serta saling menghargai di antara negara-negara dan masyarakat serba-multi yang tersebar di kawasan ini. Selain, di saat bersamaan membantu individu-individu terpilih dari kawasan Asia Pasifik yang ingin meningkatkan kapasitas dan kapabilitas keilmuan mereka untuk kelak digunakan di tengah masyarakat.

7 thoughts on “Rahmawati Dipaksa Membuka Jilbab

  1. wahai kaum muslimah tetaplah mempertahankan kebenaran meski semua orang memusuhimu,sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong hambanya,salam ukhuwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s