Penindas Rakyat, Lapangan Golf, Pengkhianatan, Kebohongan, Dsb

rayni-massardie1

RASANYA tak berlebihan bila kita menyebut Pemilu 2004 lalu, sejauh ini, adalah pemilu paling kolosal di atas muka bumi. Pergelaran itu melibatkan ratusan ribu calon anggota legislatif, mulai dari kabupaten-kotamadya, provinsi hingga nasional. Ia juga melibatkan jutaan pendukung masing-masing partai dan masing-masing caleg; puluhan juta warga negara yang bersedia memberikan suara di hari pencoblosan; dan puluhan juta lainnya yang memilih untuk tidak memilih, alias golput!

1.655 Tak Ada “Rahasia” dalam Hidup Saya!
Rayni N Massardi
Seno Gumira Ajidarma (Prolog)
Radhar Panca Dahana (Epilog)
Noorca M Massardi (Epilog)
Galang Press, Jogjakarta, 2005
xiv + 503 halaman

Siti Ingrayni Anwar Massardi adalah satu dari sekian banyak politisi dadakan yang tahun lalu dengan seribu satu alasan meramaikan pemilu. Hasilnya, 5 April tahun lalu sebanyak 1.655 (baca: seribu enam ratus lima puluh lima) warga negara yang memilih untuk menggunakan hak pilih mereka bersedia mencobloskan paku ke kolom yang berisi nama dan foto Rayni.

Bagus, Rayni masih mengingat jumlah votes yang dimilikinya dengan pasti dan menulis sebuah buku untuk menandai kerja politiknya itu. Rayni beruntung dibandingkan banyak caleg gagal yang stres, jatuh miskin, bangkrut, dan terlilit utang, setelah ilusi kekuasaan yang mengendap di benak mereka terjerembab.

Caleg memang bagian yang paling menarik dari keseluruhan ornamen Pemilu 2004. (Catatan: Bagian yang paling memalukan, tampaknya kita semua setuju, adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang kini tengah disidik dalam kasus korupsi dana taktis yang digelontorkan rekanan bisnis mereka. Sejauh ini dua anggota KPU—Nazaruddin Sjamsuddin dan Mulyana W Kusuma—telah dipendam di ruang tahanan sebagai tersangka.)

Tahun lalu caleg muncul dimana-mana, sporadis, bagaikan jamur yang tumbuh di musim hujan. Bintang film jadi caleg, pelawak jadi caleg, jurnalis jadi caleg, pengusaha jadi caleg, buruh jadi caleg, demonstran jadi caleg, ilmuwan jadi caleg, guru dan dosen jadi caleg, koruptor juga jadi caleg. Pokoknya tahun lalu caleg jadi profesi yang membanggakan di republik ini. Bolehlah seorang caleg berjalan sambil membusungkan dada di tengah keramaian.

Fenomena jamur caleg itu bisa dilihat dari dua sudut pandang yang bertolak belakang. Dia bisa jadi adalah sinyal bahwa masih ada orang baik di republik ini. Tetapi bisa juga, dia adalah tanda-tanda gelap di atas langit kita dan dibaca sebagai: semakin banyak saja orang latah berebut kekuasaan yang lebih sering memabukkan dan korup itu.

Nah, Rayni adalah caleg yang baik. Tepatnya caleg dadakan, tetapi baik. Awalnya dia bukan hanya tak percaya pada politik, juga muak dan jijik. Mendengar kata politik saja sudah malas. Pada Indonesia pun dia muak. Tidak asyik, tidak aman, tidak nyaman, menakutkan, tidak beres. Dalam bukunya ini Rayni mengaku beberapa kali melintas di benaknya keinginan pergi dari Indonesia dan tak kembali. Ke mana? Ke Prancis, barangkali, tempat dia menyelesaikan studi sinematografi dan menikahi kekasih hatinya, Noorca M Massardi.

Buku yang ditulis Rayni dan disunting sang suami ini tidak hanya bercerita tentang sepak terjangnya selama masa kampanye. Di buku ini dia juga bercerita tentang latar kehidupan yang membentuk sosoknya: studi di Prancis, menikah dengan Noorca, keluarga Massardi, kehidupan rumah tangga, anak-anak dan cucu.

“Masuk partai adalah hal yang baru buat saya. Ikut politik juga merupakan sesuatu yang absurd bagi saya. Mendengar kata berpolitik saja rasanya sudah malas. Politik konotasinya sudah buruk di negara Indonesia ini. Apalagi yang terlibat di dalamnya, kesannya negatif. Langsung kita berpikir: penindas rakyat, kesenjangan sosial, obral janji, kemunafikan, lapangan golf, memperkaya diri sendiri, pengkhianatan, kebohongan, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN),” tulisnya.

Di Januari 2004, muak dan rasa jijik itu justru memaksa Rayni menerima bujuk rayu masuk Partai Bintang Reformasi (PBR), sebuah partai kecil hasil gerakan politik menyempal KH Zainuddin MZ dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang dipimpin Hamzah Haz. Di partai yang baru dikenalnya itu, Rayni menjadi caleg bernomor urut empat untuk Jawa Barat I, meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi.

Menjelang Pilpres, Rayni menarik garis tegas. Dalam surat yang ditulisnya untuk Sekjen PBR, Djafar Badjeber, Rayni bertutur lugas: “Saya antimiliter, antiordebaru, antisosok yang menghancurkan HAM…”

Di bukunya ini, Rayni juga memuat drama short message service (SMS) antara dirinya dengan sejumlah kader dan petinggi PBR menyusul rencana DPP PBR mendukung Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung penguasa Orde Baru Soeharto, dan Zainuddin MZ sebagai pasangan capres dan cawapres. Belakangan keputusan itu mentah. Di putaran pertama PBR mendukung Amien Rais-Siswono Yudhohusodo. Setelah Amien-Siswono kalah, di putaran kedua PBR mendukung Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi. Adapun Rayni di kedua putaran itu memilih golput. Rakyat Merdeka, 12 Juni 2005 [t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s