Columbus, Cheng Ho, dan Klaim Atas Amerika

1421

KATA sejarah, Amerika ditemukan Christopher Columbus, seorang pelaut yang lahir di Genoa, Italia, dari keluarga tukang kayu dan perajin wol. Tanggal 3 Agustus 1492, di usia ke-41, Columbus memimpin rombongan besar yang terdiri dari tiga kapal, Nina, Pinta dan Santa Maria.

Rombongan ini meninggalkan Pelabuhan Palos, Spanyol, atas restu Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Sebelum mengangkat sauh, Columbus berjanji akan berlayar ke timur untuk menemukan India, Cina, Jepang dan Kepulauan Rempah—Maluku, yang akan dijadikan koloni baru bagi Spanyol.

1421 The Year China Discovered America
Gevin Mezien
Perennial, 2004
650 halaman

Columbus mengarahkan haluan Santa Maria ke barat, menuju Kepulauan Canary di laut barat-daya Afrika, tak jauh dari Maroko. Dari sana Columbus menuju Kepulauan Bahama di laut timur Amerika Tengah, dan berlabuh di sebuah pulau yang dinamainya San Salvador. Karena mengira telah sampai ke India, Columbus menyebut penduduk pulau itu bangsa Indian. Columbus juga mengira Cuba adalah Jepang.

Di Hari Natal 1492, kapal Santa Maria tenggelam setelah menghantam karang. Columbus pindah ke kapal Nina dan menurunkan puluhan awak Santa Maria di Pulau Hispaniola (kini dimiliki Haiti dan Republik Dominika). Columbus meminta pengikutnya membangun pemukiman yang dinamainya La Navidad (Natal). Maret 1493 Columbus tiba di Palos dan menyebut dirinya sebagai Laksamana Samudera dan Gubernur India.

Pelayaran kedua dimulai Columbus tak lama kemudian. Kali ini dia berhenti di selatan Cuba, membuka pertambangan emas dan menawan wanita Indian untuk dijadikan budak di Spanyol. 1496 dia kembali membuang sauh di Palos.

Dalam pelayaran ketiga yang dimulai 1498, Columbus mengunjungi Trinidad dan Venezuela di selatan Amerika. Tahun 1500, saat masih berada di Hispaniola, Columbus ditangkap Pasukan Kerajaan Spanyol atas perintah Ratu Isabella yang menilai dia berbuat tak manusiawi terhadap wanita Indian. Di tahun itu Columbus kembali ke Palos. Tetapi kali ini dengan tangan diborgol

Tahun 1502, setelah keluar dari penjara, Columbus memulai pelayaran keempat, menuju Meksiko, Honduras, Panama dan Santiago. 1504 dia kembali ke Spanyol, dan meninggal dunia dua tahun kemudian. Hingga akhir hayat, Columbus tak pernah menginjakkan kaki di belahan utara Amerika, dan dia yakin dirinya telah menemukan jalan ke timur.

***

Sejarah konvensional tentang penemuan benua Amerika itulah yang dibantah Gavin Menzies, pensiunan Angkatan Laut Inggris kelahiran London tahun 1937, dalam bukunya “1421 The Year China Discovered America”. Dari penelitian selama bertahun-tahun, sejak masih dinas di atas HMS Rorqual, Menzies menemukan bukti kuat bahwa pelaut-pelaut Cina yang dipimpin empat laksamana, Hong Bao, Zhou Man, Zhou Wen dan Yang Qing, lebih dahulu “menemukan” Amerika. Tepatnya, 71 tahun sebelum Columbus yang salah jalan tiba di Kepulauan Bahama.

Tanggal 8 Maret 1421, atas perintah Kaisar Zhu Di, armada terbesar yang dimiliki Cina meninggalkan pelabuhan Beijing. Misi utama armada itu mengunjungi semua tempat di muka bumi dan menyatukan seluruh dunia di bawah harmoni Konfusianisme. Tidak seperti Columbus yang hanya menyeberang dari Spanyol ke selatan Amerika, misi Cina ini jauh lebih gagah. Mereka benar-benar mengeliling bumi, dari timur ke barat, dari selatan ke utara.

Hong Bao dan Zhou Man meninggalkan Beijing menuju Champa lalu menuju Selat Malaka dan Sumatera Timur di selatan. Yang Qing memulai perjalanannya dari Selat Malaka menuju Teluk Bengal, lalu ke Sri Lanka di selatan, dan menuju Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Dari sana, Yang Qing kembali ke utara melintasi selat Madagaskar, menuju Teluk Parsia, sebelum akhirnya berbelok ke timur melintasi Sri Lanka dan kembali ke Selat Melaka.

Sementara itu, Hong Bao dan Zhou Man melanjutkan perjalanan dari Selat Malaka melintasi Teluk Bengal dan Teluk Parsia, lalu menyisir pantai timur Afrika, sebelum berbelok di Tanjung Harapan menuju utara, menyisir pantai barat Afrika. Hong Bao dan Zhou Man singgah di Kepulauan Tanjung Verde, di antara Samudera Atlantik Utara dan Samudera Atlantik Selatan.

Dari Tanjung Verde, Zhou Wen memulai perjalanannya menuju Bahama lalu naik menelusuri pantai timur belahan utara Amerika, dan menuju Greenland serta memutarinya ke arah utara. Zhou Wen lalu menyisir laut utara Eropa, ke arah timur menuju Samudera Artik di utara Rusia. Di Selat Bering yang memisahkan Rusia dan Amerika, Zhou Wen turun ke selatan, menyusuri pantai timur Jepang dan kembali ke Beijing.

Sementara Hong Bao dan Zhou Man melanjutkan perjalanan menuju belahan selatan Amerika, dan menyusuri pantai timur hingga ke Kepulauan Falkland dan Selat Magellan. Di sanalan Hong Bao dan Zhou Man berpisah. Hong Bao membawa armadanya lebih ke selatan, menuju Kepulauan Shetland lalu berbelok ke timur membelah Samudera Antartika hingga tiba di Pulau Heard, lalu meluncur ke Perth di barat daya Australia, disusul perjalanan ke Selat Sunda dan kembali ke Malaka.

Dari Selat Magellan, Zhou Man menyisir pantai barat di belahan selatan Amerika, mengunjungi Peru dan Ekuador sebelum bergerak ke barat, membelah Samudera Pasifik dan berhenti di Brisbane di sebelah timur Australia. Dari situ, dia menuju ke selatan, Melbourne, dan Selandia Baru. Juga ke utara Australia, Darwin, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke utara, menuju Kepulauan Maluku, Filipina, dan kembali ke Beijing.

Ironisnya, ketika misi empat laksamana itu berakhir dua tahun kemudian, Zhu Di telah kehilangan kontrol atas Cina. Sejak saat itu, Cina mengisolasi diri. Seabad kemudian, giliran Cina “ditemukan” Eropa.

***

Selain Kaisar Zhu Di yang memiliki ketertarikan amat besar pada ilmu perbintangan, nama lain yang berada di balik sukses ekspedisi Cina di masa itu adalah Laksamana Cheng Ho, tangan kanan sang Kaisar.

Cheng Ho lahir dari keluarga Semur di Kunyang, kota kecil di barat-daya Yunnan. Nama aslinya adalah Ma He sebelum akhirnya diubah menjadi Zheng He. Keluarga Semur berasal dari Asia Tengah, dan merupakan penganut Islam yang taat.

Cheng Ho dikenal sebagai penasihat terdekat Zhu Di sejak anak keempat Kaisar Zhu Yuanzhang, sang pendiri Dinasti Ming, itu bertugas di kavaleri dan menetap di Ta-tu, bekas pusat kekuasaan Mongol. Bersama Cheng Ho, Zhu Di mengubah Ta-tu menjadi Beijing.

Tahun 1438 Kaisar Yuanzhang meninggal dunia. Zhu Yunwen, cucu Yaunzhang dari putra tertua, naik tahta. Zhu Di kecewa dan bersama Cheng Ho mengangkat senjata. Tahun 1402, mereka merebut Nanjing, mengusir Yunwen, dan memindahkan pusat kekuasaan ke Beijing. Lalu Cheng Ho pun diangkat sebagai Panglima Perang.

Cheng Ho juga dikenal sebagai pelaut yang ulung. Namanya hingga kini tenar di kawasan Asia Tenggara. Dia melepas armada Cina ke seluruh penjuru dunia. Dalam ekspedisi pertama (1407-1409) dari Nanjing menuju Calicut (India), Cheng Ho singgah di Champa, Semarang, Sriwijaya, dan Sri Lanka. Dalam ekspedisi ketiga (1409-1411) Cheng Ho kembali mengunjungi Champa, Temasek (Singapura), Malaka, Sumatra Timur dan Aceh, serta Sri Lanka.

Pelayaran yang dilakukan tahun 1421-1423 adalah ekspedisi keenam Dinasti Ming. Ekspedisi terakhir Cheng Ho dilakukan tahun 1431-1433. Kali ini mereka menuju selatan Vietnam, Surabaya, Palembang, Malaka, Samudera Pasai, Sri Lanka, Calicut (India), Afrika, dan Jeddah. Rakyat Merdeka, 4 Juni 2005 [t]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s