Propaganda

RAKYAT Korea Utara siap menghadapi serangan Amerika Serikat. Kapanpun. Sebulan sebelum saya tiba di Pyongyang, pemerintah Korea menggelar latihan serangan udara. Bila sirine tanda bahaya meranung-raung di seluruh penjuru kota Pyongyang, semua warga berlarian menyelamatkan diri, menuju bunker-bunker perlindungan. Tak ada informasi yang menyebutkan berapa jumlah bunker di Pyongyang. Tapi kata teman saya, Pyongyang punya banyak bunker. Cukup banyak untuk menampung semua penduduk Pyongyang dan kota-kota lain di sekitar Pyongyang.

Dalam satu jam, kota Pyongyang sudah sepi. Tak ada seorang pun warga sipil yang lalu lalang di ruas-ruas jalan. Yang ada hanya pasukan tempur yang mengendap-endap di beberapa titik yang aman dari serangan udara. Setelah beberapa jam, latihan perang dihentikan. Rakyat Korea kembali ke rumah masing-masing dan melanjutkan pekerjaan yang tertinggal saat sirine tanda perang meraung-raung.

Latihan seperti itu cukup sering digelar. Seminggu bisa tiga kali. Dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya bahwa ini cuma latihan.

Saat saya berada di Pyongyang, keadaan sudah normal kembali. Tak sekalipun saya temukan latihan perang. Kehidupan kembali berjalan biasa-biasa saja. Setiap pagi para karyawan dan pegawai kantor pemerintah pergi ke kantor. Yang jarak rumahnya tak jauh dari kantor, cukup berjalan kaki saja. Nah, yang rumahnya jauh menunggu bus di halte-halte, atau naik kereta bawah tanah.

Anak-anak sekolah juga begitu. Mereka biasa jalan kaki berkelompok menuju gedung sekolah. Mereka memakai seragam dengan setangan berwarna merah melilit di leher.

Siang sedikit, beberapa keluarga menikmati makan siang di taman-taman kota. Mereka menggelar kain sebagai alas, dan duduk di atasnya. Beberapa anak kecil berlarian ke sana ke mari. Main bola, atau main kucing-kucingan.

Warga Pyongyang senang menghabiskan waktu senja di sepanjang tepi Sungai Taedong. Tempat paling favorit kelihatannya adalah lapangan di bawah Tugu Juche.

Di sudut-sudut jalan dan persimpangan, saya melihat poster-poster perang di atas tembok setinggi sekitar lima meter. Ada gambar beberapa tangan besar milik orang Korea, menghentikan laju sebuah peluru kendali milik Amerika. Peluru kendali itu menimpa seorang tentara Amerika.

Di atas gedung-gedung puluhan tingkat, saya juga melihat kalimat-kalimat propaganda. Isinya apalagi, kalau bukan ajakan kepada rakyat Korea agar berani menghadapi serangan Amerika.

Sementara itu, mobil-mobil propaganda berseliweran, menyusuri jalan di Pyongyang. Dari pengeras suara di atas mobil itu terdengar pidato-pidato berisi seruan membela tanah air, menghadapi kaum penjajah, dan berjuang dengan gagah berani. Lalu, lagu-lagu perjuangan yang membangkitkan semangat patriotik diperdengarkan.[t]

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

2 thoughts on “Propaganda”

  1. bisa saya bayangkan betapa hidup disana sangat tidak tenang. setiap hari dihantui perasaan takut dan suara sirine yang berdengung dengung.

  2. tapi saya yakin…masyarakat Korea utara sudah terbiasa, dan mereka lebih survive menghadapi situasi yang tidak mengenakan ini….who knews! tanya saja mereka….karena cuma mereka yang merasakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s