Membelah Laut

DI Korea Utara, ada bendungan sepanjang delapan kilometer. Letaknya di Kota Nampo, sekitar dua setengah jam dari Pyongyang ke arah barat laut. Yang membuat saya geleng-geleng kepala, bendungan itu membelah laut, di muara Sungai Taedong, dan menghubungkan Kota Nampo dengan Provinsi Han Selatan.

Bendungan itu lebarnya sepuluh meter. Bisa dipakai oleh kenderaan dari dan ke Provinsi Han Selatan. Di sisi kiri ada rel kereta api.

Bendungan itu dibangun untuk mengatasi perbedaan tinggi permukaan air di Laut Timur dan Sungai Taedong saat permukaan air laut naik, alias laut pasang. Saat itu, ketinggian permukaan air Laut Barat sama dengan ketinggian air Sungai Taedong. Akibatnya, air Sungai Taedong tak dapat mengalir. Airnya membludak, tumpah membanjiri kota Pyongyang.

Waktu mengunjungi Bendungan Nampo, saya diajak naik ke bukit yang ada di wilayah Provinsi Han Selatan. Saya nonton film dokumenter pembuatan bendungan itu. Sebanyak 30 ribu tentara Korea bahu membahu mengerjakannya. Setelah bekerja siang malam nonstop, tak kenal musim panas atau musim salju selama lima tahun, dimulai tahun 1981, bendungan itu pun selesai.

Ada satu lagi tempat menakjubkan di Korea. Kali ini persis di pusat Kota Pyongyang. Tempat menakjubkan itu adalah jalur Metro Pyongyang, atau kereta bawah tanah alias subway. Kereta itu menghubungkan satu distrik dengan distrik lain di Pyongyang. Lintasan rel terletak lebih dari 100 meter di bawah permukaan bumi.

Saya tak menyangka sedalam itu. Sebagai bandingan, di Singapura, kedalaman rel Mass Rapid Transportation (MRT), subway Singapura, tak lebih dari 30 meter. Itupun, di beberapa titik, relnya muncul ke permukaan tanah, dan naik ke atas rel laying untuk menghidnari kemacetan. Di Tashkent, Uzbekistan, bekas kota penting di masa Uni Soviet, kedalaman rel bawah tanahnya juga tak lebih dari 30 meter.

Untuk turun ke bawah terminal Metro Pyongyang, ada eskalator. Derajat kemiringannya nyaris 45 derajat. Dinding teroeongan itu di cat warna putih. Cahaya lampu cukup terang. Angin meniup dari air conditioner di sudut-sudut terowongan. Sampai di bawah, jalan beberapa meter ke depan. Lalu kembali turun pakai tangga biasa beberapa meter.

Terminal penumpangnya lumayan luas. Dindingnya di penuhi lukisan-lukisan indah, dan lampu kristal bergelantungan di langit-langit. Sejuk sekali.

Serangkaian kereta tiba. Dindingnya berwarna cokelat. Saya naik, bergabung dengan puluhan orang Korea yang lebih dahulu naik kereta dari stasiun sebelumnya. Kata teman saya, gerbong-gerbong itu buatan Jerman.[t]

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s