Akankah Amien Rais Main Api?

Amien Rais 1998

TIDAK bermaksud mengada-ada dan memecah konsentrasi, tetapi pertanyaan di atas sangat relevan untuk dimunculkan (kembali).

Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais memang dikenal sebagai tokoh reformasi. Amien bukan anak kemarin sore. Dia adalah orang pertama yang menjadikan suksesi kepemimpinan nasional sebagai wacana politik, setidaknya menjelasng Pemilu 1992 dan Sidang Umum MPR 1993.

Di ujung kekuasaan Orde Baru, Amien Rais mengundurkan diri dari posisi Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), organisasi mantel Orde Baru saat itu.

Amien Rais, tidak dapat disangkal, memiliki peran penting dalam suksesi kekuasaan dari Orde Baru ke epoch yang disebut sebagai Era Reformasi ini. Tanpa kenal lelah Amien Rais mengkampanyekan reformasi dari satu kota ke kota lain, dari satu kantong gerakan mahasiswa ke kantong gerakan mahasiswa lain. Menghadiri undangan parlemen Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kurang apalagi? Amien Rais dirasa sudah pasti akan jadi presiden saat itu.

Tetapi apa daya, PAN yang didirikannya bersama tokoh-tokoh nasionalis lain menyusul era reformasi itu, kebanyakan berasal dari sayap Islam modern, tidak sebesar nama Amien Rais. Dalam Pemilu 1999 partai berlambang matahari terik ini hanya memperoleh 7 persen kursi DPR. Di sinilah ironi karier politik Amien Rais dimulai.

Kursi boleh sedikit. Tetapi pengaruh politik belum tentu kecil.

Menyadari fragmentasi di kalangan Islam sebagai kelemahan, otak Amien Rais kembali berpikir keras. Eureka, ada ide brilliant, nih. Dibangunlah Poros Tengah, kaukus politik dadakan umat Islam. Agenda utamanya, Asal Bukan Mega. Sebagai alasan dipakailah “tafsir” yang menyebut agama Islam tidak membenarkan perempuan menjadi pemimpin.

Akhir cerita, Amien Rais berhasil memukul Megawati. Lawan klasik Amien Rais, Ketua PBNU Abdurahman Wahid alias Gus Dur—mereka tidak hanya berbeda dalam hal Muhammadiyah vs Nahdliyin, modernis vs tradisionalis, tetapi juga ICMI vs Fordem—didukung menjadi presiden RI. Sementara Akbar Tandjung diselamatkan ke kursi Ketua DPR. Semua itu dilakukan setelah Amien Rais memperoleh kursi Ketua MPR, tentunya.

Amien Rais segera menjadi simbol kebencian orang-orang PDIP. Tidak tanggung-tanggung pada cover sebuah tabloid yang Mega-minded, Demokrat, wajah Amien Rais terpampang dengan dua taring di giginya. Di bawah gambar yang menyeramkan itu ada tulisan “Vampire Politik Indonesia”.

Terang saja PAN sakit hati. Mereka menuntut Pemimpin Umum Taufik Kiemas dan Pemimpin Redaksi Nuah Torong secara hukum. Keduanya adalah anggota DPR dari Fraksi PDIP. Bahkan Taufik Kiemas adalah suami Megawati, Ketua Umum PDIP yang digesernya.

Begitulah. Itu konstelasi politik satu setengah tahun lalu. Sekarang semuanya berbeda. Amien Rais sedang akrab-akrabnya dengan PDIP. Sejak awal Memorandum I, Amienlah orang yang bertepuk tangan paling keras di luar ruang rapat Nusantara V. Mensyukuri goyangnya kekuasaan Gus Dur. Ada apa ini, Mas Amien?

MPR pun dengan sigap menerima operan bola DPR. Hanya dalam hitungan jam sejak DPR menjatuhkan talak SI kepada Gus Dur, MPR segera menggelar rapat kordinasi pimpinan.

Nah, kemarin (5/6) di sela-sela kesibukan transaksi dan kliring gerai Bank Mandiri di gedung DPR RI Senayan, Wakil Sekretaris Jenderal PAN Patrialis Akbar menjamin tidak akan ada udang di balik palu SI nanti. PAN adalah partai yang tulus berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara, klaimnya. Berikut laporan Teguh Santosa.

Singa Senayan

Antri menunggu giliran, Patrialis Akbar duduk di depan customer service Bank Mandiri Gedung DPR Senayan. Mbak Febry, customer service yang disatroni anggota Komisi II DPR dari Fraksi Reformasi ini sedang sibuk melayani nasabah lain yang datang lebih awal. Hmm, tidak ada pilihan lain, kecuali harus tertib. Memang tidak ada yang boleh motong. Tidak juga anggota Dewan, pikir Patrialis.

Patrialis berdiri. Tangan kiri Patrialis menopang tubuhnya yang terbungkus rapi dengan kemeja dan celana abu-abu serta jas hijau pada sebuah kursi kuning di depan meja customer service lainnya. Kakinya disilangkan. Tangan kanan disimpan di kantong celana. Wakil Sekretari Jenderal PAN ini memutar kepalanya mengitari ruangan. Mencari wajah yang dikenal. Lalu tersenyum satu dua kali.

Mendadak senyumnya melebar besar. Nun di sana, seorang ajudan Ketua MPR yang juga Ketua Umum DPP PAN Amien Rais datang menghampirinya. Rudi, nama ajudan Amien Rais itu mengulurkan tangannya ke arah Patrialis. Dengan sigap Patrialis mengeluarkan tangan kanannya dari kantong. Mereka berjabat tangan.

“Sini, silakan duluan,” Patrialis mempersilakan Rudi mengampil gilirannya. Sopan, Rudi menampik. Balik tangan Rudi bergerak mempersilakan Patrialis untuk lebih dahulu menyelesaikan urusannya dengan Mbak Febry. Sekilas Patrialis melirik kursi si Mbak. Masih kosong.

Ponsel Rudi berdering dari saku kiri. Diangkat, lalu bicara. Patrialis terpaksa harus dianggurin sebentar. Patrialis mencubit-cubit bibir bawahnya, sambil matanya memperhatikan kepala Rudi yang terus mengangguk-angguk mengiyakan si penelepon di seberang sana. Setelah Rudi selesai, Patrialis membisikkan sesuatu kepadanya. Rudi ngangguk-ngangguk lagi.

Mbak Febry datang, Patrialis kembali mempersilakan Rudi membereskan urusannya lebih dahulu. Rudi nurut kali ini. Sementara itu Patrialis menggeser kursi tempatnya tadi menyender. Lalu duduk terbalik. Tangannya ditopangkan di atas sanderan kursi. Dan tersenyum ke arah Rakyat Merdeka yang datang menghampiri.

Di depan meja Mas Syamsul, customer service lainnya sambil tetap duduk terbalik di kursi kuning tadi, Patrialis yang pernah menjadi ketua DPP KNPI ini kembali menegaskan komitmen partainya untuk membudidayakan prinsip-prinsip demokrasi. Tidak ada manuver nyeleneh yang akan dilakukan PAN guna kepentingan diri sendiri. Seperti mendongkrak Amien Rais, sang ketua umum partai, menduduki kursi RI-1, memotong jalan Megawati.

“PAN tidak pernah bermain untuk kepentingan seseorang, melainkan bangsa dan negara. Dalam SI nanti, PAN akan tetap berada dalam koridor konstitusi. Salah satunya pasal 8 UUD 1945. Tidak bisa ditawar lagi. PAN tidak punya agenda menaikkan Pak Amien menjadi presiden di SI ini,” katanya. Nada suaranya masih lembut.

Tapi kan politisi sekarang sedang senang-senangnya menerjemahkan konstitusi sesuai keinginan mereka? Bukankah tidak mungkin di tengah SI nanti politisi akan menggunakan tafsir baru atas konstitusi untuk melegalisir kepentingan politik? Sambil menekan alas kursi, Patrialis menjawab, tidak ada lagi penafsiran macam-macam dari pasal 8 UUD 1945 itu. Maknanya tunggal, presiden hanya bisa diganti oleh wakil presiden.

Ada jaminanan nggak? “Yang namanya PAN dan Fraksi Reformasi tidak pernah aneh. Kita melakukan sesuatu dengan landasan kuat. Misalnya, dalam SU lalu, kita kan memilih presiden dari suara terbanyak. Tidak ada aturan yang menyebutkan pemenang pemilu jadi presiden. Ini normatif,” jawabnya agak panjang.

Laki-laki yang kemungkinan Mas Syamsul datang. Sambil membalik-balik tumpukkan kertas di atas meja, laki-laki itu ikut menyimak ucapan Patrialis. Tersadar ada yang memperhatikan, Patrialis menolehkan kepalanya. “Wah, maaf Mas, saya pakai tempatnya,” Patrialis minta ijin. Laki-laki itu hanya tersenyum.

Kalau soal posisi wakil presiden yang kosong bagaimana? “Ada baiknya diisi. Tetapi mungkin harus dibicarakan dengan presiden baru nanti. Atau, dari sekarang forum lintas fraksi mulai membicarakan hal itu,” mata Patrialis diputar lagi, menoleh sekelilingnya. Beberapa nasabah yang sedang antre asyik mengikuti pembicaraan hangat ini.

PAN punya calon nggak untuk wakil presiden? “Kita belum menentukan sama sekali. Ya, namanya saja kemungkinan,” kali ini singkat jawabnya.

Patrialis memekik, “Allahuakbar, keajaiban dunia lagi, tuh,” ketika disebut jangan-jangan dirinya yang akan dipasang PAN jadi wakil presiden mendampingi Megawati nanti. Disusul tawa keras. Pendengar dadakan di sekitarnya pun ikut tertawa. Enak sekali jadi politisi, mungkin pikir mereka.

Seorang nasabah berdiri, urusannya sudah selesai. Kursinya ditinggal kosong. Melihat kursi kosong di depan meja Mbak Febry, Patrialis bangkit, masih menyisa senyum di wajahnya. Lalu tenggelam dalam pembicaraan lain tema bersama Mbak Febry.

Pun, Politisi Darah Tinggi

Kalau Effendi Choirie adalah politisi berdarah tinggi dari PKB, maka Patrialis, lelaki kelahiran Padang 31 Oktober 1958 ini adalah politisi berdarah tinggi dari PAN, lawan PKB hari ini—ntah besok. Ketika anggota FKB Rodjil Gufron di dalam ruang sidang menyebut perusuh di Pasuruan adalah orang PAN, Patrialis berang. Di layar kaca terlihat dengan sangat emosi Patrialis mencoba menghampiri Gufron. Beberapa teman sefraksinya sibuk menahan.

“Saya akui saya agak emosi saat itu. Saya tidak bisa mendengar fitnah. Saya bukan politisi yang baik. Kalau politisi yang baik, dalam keadaan seperti itu akan tetap tenang,” Patrialis bersemu merah.

Waktu itu, suami satu isteri dan ayah lima anak ini sudah menyambar microphone di depannya. Tapi mati. Jadilah dia kesal, dan emosinya memuncak. Namun kejadian itu ada hikmahnya juga. Kalau saja microphone-nya tidak mati tentu saja suhu di ruang sidang semakin panas. “Saya mau nanya begini ke floor, apakah saudara yakin pernyataan itu provokasi, apakah saudara yakin pernyataan itu fitnah,” ceritanya.

“Saya yakin kawan-kawan akan bilang bahwa itu adalah provokasi, itu adalah fitnah,” Patrialis yakin.(GUH)

Milih Gus Dur Jadi Presiden

Penggemar badminton dan jogging ini mengaku pengalaman paling menarik dalam hidupnya adalah ikut memilih Gus Dur menjadi presiden pada SU MPR 1999 lalu. “Waktu itu kita berharap Gus Dur sebagai pimpinan pesantren bisa memberi ketentraman,” katanya.

“Tapi sudahlah,” tambah Alumni FH Universitas Muhammadiyah Jakarta tahun 1983 ini. “Menurut mata dan hati saya Gus Dur hari ini jauh berbeda.”

Katanya, Amien Rais akan mundur dari posisi Ketua MPR kalau Gus Dur mau mengundurkan diri? “Ah, nggak ada itu. Sampai sekarang nggak ada alasan buat Pak Amien untuk mundur. Yang salah kan Gus Dur, kok Pak Amien harus ikut mundur,” tolak Ptrialis.(GUH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s