Tokoh

Laju Menuju Sidang Istimewa

SETELAH memberikan memorandum II kepada Presiden Gus Dur dalam rapat paripurna awal Mei lalu, mayoritas politisi Senayan sekarang sibuk menghitung hari sisa usia kekuasaan Gus Dur. Disebut mayoritas politisi Senayan, karena memang memorandum II tersebut tidak dijatuhkan secara aklamasi.

Dua fraksi di DPR yakni Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) dan Fraksi Demokrasi Kasih Bangsa (FDKB) dengan tegas menolak. Alasan mereka, memorandum II sudah keluar dari konteks. Selain itu, Fraksi TNI/Polri yang pada rapat paripurna DPR Februari sebelumnya mendukung memorandum I kepada Gus Dur, kali ini memilih sikap abstain.

Sementara seperti sudah diperkirakan sebelumnya, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) yang mendapat kesempatan pertama menyampaikan pemandangan terakhirnya menyatakan dukungannya apabila memorandum I dilanjutkan dengan memorandum II. Selanjutnya empat fraski besar, yakni Fraksi Reformasi (FR), Fraksi Partai Golkar (FPG) dan Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) ngekor di belakang FPDIP. Itulah konfigurasi kekuatan politik terakhir di DPR.

Tidak menunggu waktu berlalu begitu saja, Gus Dur segera memberikan jawaban atas memorandum II ini. Berbeda dengan jawaban atas memorandum I yang disampaikan di depan rapat paripurna DPR, kali ini jawaban tersebut cukup disampaikan melalui rekaman TVRI dan RRI.

Tetapi bukan jawaban—apapun substansi jawaban itu—yang dibutuhkan lawan politik Gus Dur di DPR. Ditunjuknya Bagir Manan sebagai Ketua MA setelah sekian lama terkatung-katung pun dianggap lawan politik Gus Dur sebagai upaya cari muka. Dan itu nggak laku sama sekali. Bagi mereka hanya ada satu cara untuk menuntaskan konflik politik ini, Gus Dur harus digeser. Caranya, ya dalam Sidang Istimewa (SI). Fatsoen sekaligus konstitusional.

Pekan depan (30/5) rencana DPR akan kembali menggelar rapat paripurna. Agendanya adalah untuk menilai apakah selama masa memorandum II yang hanya berusia 30 hari itu, Gus Dur melakukan porubahan dalam menjalankan pemerintahannya, atau tidak. Kalau kemungkinan kedua yang terjadi, DPR akan mengundang MPR untuk menggelar SI. Begitulah.

Apa yang akan terjadi? SI-kah? Solusi atau malapetaka-kah SI itu? Pentolan Fraksi Reformasi Samuel Koto memastikan SI adalah solusi. Kalau tiba-tiba menjadi malapetaka, dapat diperkirakan kelompok pro Gus Dur-lah yang “bermain” di belakang. Berikut laporan Teguh Santosa.

SI yang Bukan Malapetaka

“Tidak usah ragu, Sidang Istimewa itu solusi. Tapi kelompok yang membela Gus Dur sengaja mengkonfrontir SI sebagai malapetaka politik bagi kita semua. Inilah skenario bumi hangus yang sedang mereka mainkan. Bagi mereka tiji tibeh, mati siji mati kabeh. Ini skenario Kaisar Nero,” kata Samuel Koto dengan nada suara tinggi lagi keras.

Di atas sofa kuning yang didudukinya, Samuel yang Wakil Ketua Fraksi Reformasi ini menegakkan badan. Tangannya ditopangkan di atas kedua pahanya. Air mukanya pun sekeras nada suaranya. Kedua bola matanya bergerak ke sana ke mari, bersinar nyalang.

Sama seperti tiga wartawan yang berjongkok di atas karpet biru mengelilingi Samuel, dua wartawan lain di seberang Samuel yang ikut mendengarkan pembicaraan pun terkesima. Sedikit kaget. Jarang Samuel bicara ketus seperti ini.

Siang itu (21/5) di Jakarta Media Center (JMC) Samuel menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bertajuk Sidang Istimewa MPR, Solusi atau Malapetaka, Meneropong Konfigurasi Politik Pasca SI MPR yang diselenggarakan Forum Kajian dan Diskusi Jakarta (FKDJ). Dua pembicara lain yakni Ketua Fraksi Partai Golkar Syamsul Muarif dan anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa Ali Masykur Musa belum hadir. Di ruang tunggu itu sebelum acara dimulai Samuel ditemani Kordinator FKDJ Ali Mahsun yang duduk di sofa sebelah.

Selesai dengan statement keras itu, Samuel mengatupkan mulutnya. Tidak teralu keras, Samuel menghirup udara cepat-cepat. Lalu dihembuskan kembali pelan-pelan. Samuel merogoh kantong celana abu-abu tua yang dikenakannya. Sebungkus rokok putih dan geretan dikeluarkan. Badannya disenderkan ke sofa. Kaki kanan disilangkan ke kiri.

Belum sempat menarik ujung sebatang rokok, terdengar deringan ponsel. Kring. Giliran kantong di bagian dalam jasnya yang juga berwarna abu-abu tua dirogoh. Agak susah Samuel mengeluarkan sebuah Nokia. Sebentar nomor pemanggil di layar monitor ponselnya dilirik. Lalu, klik, jempolnya beraksi. Sebentar Samuel ngobrol dengan seseorang di seberang maya sana. Tidak terlalu jelas apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, satu dua senyum terurai juga dari mulutnya.

Selesai bicara dengan tamu selulernya, Samuel meletakkan ponselnya di atas meja kaca di depannya, persis di sebalah kopi susu dan snack yang disediakan untuknya namun belum sempat dijamahnya. Wartawan yang masih jongkok mengelilinginya, menghidupkan kembali recorder mereka. Setelah menarik nafas untuk kesekian kalinya, Samuel bicara lagi. Kali ini dengan nada suara yang lebih rendah.

“Jadi bagi kami, Fraksi Reformasi, SI digelar untuk menjatuhkan Gus Dur. SI ini bukan lagi menilai plus minus pemerintahan Gus Dur. Rapor politik Gus Dur itu merah. Kalau pun ada yang angkanya biru, kita nggak ngurus,” tegas Samuel. Matanya memandang ke arah karpet biru di bawahnya.

Sebatang rokok kini digenggamnya di tangan kiri. Sementara geretan putih di tangan kanan. Lalu, Samuel berbicara lagi. Masih soal sikap Partai Amanat Nasional (PAN) terhadap SI. Selagi menjawab pertanyaan-pertanyaan, Samuel menyempatkan diri menyalakan geretannya, membakar ujung rokok.

Satu hisapan panjang diakhiri Samuel dengan hembusan asap rokok ke atas. Cukup keras. Tangan kirinya menyapu dagunya. Diam. Lagi wartawan mematikan recorder, menunggu kalimat berikutnya meluncur dari mulut Samuel. Mumpung panas, nih.

Seorang wartawan menyalakan recordernya. Langsung disambar Samuel. “Pokoknya bagi kami SI nanti tidak untuk membahas rapor Gus Dur. Itu sudah selesai. Pelanggaran sumpah jabatan dan GBHN lah yang akan diadili di dalam SI. Nggak ada urusan dengan rapot Gus Dur. Saya harus bicara keras bagaimana lagi,” basa basi Samuel bertanya pada wartawan itu. Semua yang mendengarkan Samuel tertawa. Selang sedetik, Samuel pun ikut tertawa. Senang.

Selesai memecah tawa, Samuel berdiri. Melangkah ke luar menuju toilet. Syamsul dan Ali belum datang juga.

Anak Petani Jadi Orang

Laki-laki kelahiran Padang Panjang 5 Juli 1956 ini mengaku bangga sebagai anak petani. “Saya dilahirkan dari keluarga petani. Bapak saya petani, ibu saya pun petani. Jauh dari pusat keramaian. Tapi saya bisa bisa menjadi orang seperti ini,” kata suami Medi Harni yang alumni Universitas Islam Indonesia (UII) ini.

“Petani penggarap atau petani pemilik lahan?” tanya Rakyat Merdeka. “Tidak ada petani penggarap di Sumatera Barat,” jawab Samuel singkat.

Sebagai anak petani, tidak mudah bagi Samuel menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan SD sampai SMA dilalui di Bengkulu. Tamat SMA ayah empat anak yang kesemuanya laki-laki ini pergi ke kota hujan Bogor, kuliah di Fakultas Perikanan. Pendidikannya di Institut Pertanian Bogor diselesaikan tahun 1980.(GUH)

Tidak Suka Catur

Jarang ada orang yang tidak punya hobi. Satu dari sedikit orang ini adalah Samuel Koto. Bekas Ketua Dewan Mahasiswa IPB tahun 1978-1980 ini mengaku tidak punya hobi apapun.

Tidak juga jalan kaki pagi hari, atau ngobrol dan berkumpul bersama di tengah keluarga. Mungkin karena terlalu sibuk menjadi wakil rakyat. “Jadi anggota DPR itu kerja keras. Kita harus menambal bocor,” katanya soal pekerjaannya yang menyita waktu ini.

Kembali ke soal hobi, konon Samuel yang sebelum berkantor di Senayan malang melintang di dunia LSM pernah diundang untuk mengikuti Simultan Catur Peduli Kemanusiaan yang diselenggarakan Persatuan Catur Indonesia (Percasi) awal bulan ini. Tetapi karena memang tidak hobi, Samuel dan beberapa anggota DPR lainnya yang direncanakan menghadapi Grand Master Utut Adianto mangkir datang. Karuan esoknya panitia mencak-mencak.(GUH)

Standard

One thought on “Laju Menuju Sidang Istimewa

  1. Pingback: DKI Jakarta 2 (Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Luar Negeri) « Litsus Caleg DPR Jadetabek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s