Setelah Bom Meledak Di Guntur

SEPERTI mimpi, sebuah ledakan mengguncang Jakarta pekan lalu (10/5). Ledakan besar ini kontan menghancurkan asrama mahasiswa Aceh yang diasuh Yayasan Iskandar Muda di jalan Tangkuban Perahu Nomor 1 Kelurahan Guntur Jakarta Selatan, yang sekaligus menjadi tempat asal ledakan. Nyaris, asrama seluas 100 meter persegi ini rata dengan tanah.

Ledakan besar itu pun tak urung mengagetkan beberapa anggota Corp Polisi Militer (CPM) yang sedang berjaga-jaga di markasnya, sekitar 150 meter dari asrama mahasiswa Aceh ini.

Beberapa jam setelah ledakan, bau sangit tubuh manusia yang terpanggang keras menyentuh syaraf pembau. Tiga orang tewas seketika. Gosong dengan bagian anggota tubuh yang tercerai berai.

Sebuah ironi yang tidak dapat disangkal; ledakan bom bukan barang baru di kota Jakarta. Mau bilang apa lagi. Sudah begitu banyak ledakan bom meninggalkan misteri. Belum satu pun misteri ini berhasil dipecahkan.

Ada perkembangan menarik belakangan ini dari serangkaian ledakan bom yang terjadi. Ledakan bom seolah menjadi trademark isu kemerdekaan di Aceh. Ntah bagaimana awalnya. Ntah benar, ntah tidak. Tetapi begitulah.

Dalam ledakan bom di gedung Bursa Efek Jakarta tahun lalu, hasil penyelidikan aparat keamanan mengkerucut pada dugaan terlibatnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dugaan ini diperkuat pula dengan kenyataan seluruh tersangka adalah orang Aceh.

Kali ini, uniknya, ledakan terjadi di asrama mahasiswa Aceh. Lokasi ledakan ini, plug and play, mengasosiasi pikiran aparat pada skenario ledakan di sarang perakitan. Apakah benar? Belum ada keputusan hukum untuk dugaan ini. Mapolda Metro Jaya sendiri sedang ngotot menyusuri jejak ledakan. Jangankan aktifis Aceh, seperti Ketua Sentral Informasi Referandum Aceh (SIRA) Faisal Syaifuddin, musisi Fariz Rustam Munaf pun diperiksa. Alasannya di lokasi ledakan, aparat menemukan dokumen yang menyebut-nyebut nama kedua orang ini.

Kemarin, di saat perhatian kuli disket tumpah pada Faisal dan Fariz yang diperiksa petugas serse Mapolda Metro Jaya, “kepala rumah tangga” asrama mahasiswa Aceh yang dituduh melakukan perakitan bom di asrama, Taufik Abdullah, pun kembali diperiksa di ruang Kanit Harda Mapolda Metro Jaya. Berikut hasil intipan Teguh Santosa.

Tahanan Bernomor Punggung 34

Dengan susah payah, Taufik Abdullah menembus puluhan orang yang berkerumun di depan pintu masuk tumah tahanan Mapolda Metro Jaya. Sesaat pria berambut ikal panjang ini membiarkan tubuhnya terhimpit dan terdesak ke sana ke mari. Kakinya hampir-hampir tidak bisa dilangkahnkan. Sementara kedua tangannya yang diborgol ke belakang tidak bisa berbuat apapun. Malah menjadi beban. Sesekali mulut Taufik menyunggingkan erangan menahan sakit. Sesekali pula matanya dipejamkan, pun menahan nyeri.

Dari tengah kerumunan pembesuk yang pada saat bersamaan mendesak masuk ke dalam rumah tahanan, seorang petugas reserse menarik bahu Taufik. Seorang petugas lainnya mendorong tubuh Taufik dari belakang. Mati-matian mereka ngotot meloloskan Taufik dari jerat massa itu.

Setelah akhirnya lolos, Taufik berjalan di depan kedua petugas yang mengawalnya menyusuri koridor ke ruang utama gedung Ditserse Mapolda Metro Jaya.

Sepanjang koridor Taufik tertuduh perakit bom yang menyebabkan meledaknya asrama mahasiswa Aceh di jalan Tangkuban Perahu Jakarta ini terus menundukkan kepala. Puluhan pasang mata yang mengamatinya dengan rasa keingintahuan yang amat besar tidak dipedulikannya. Tak sekalipun Taufik mengangkat dagunya. Hanya bola matanya saja yang digeser-geser mendekati alis agar jalan setapak di depannya terlihat jelas. Kedua tangannya masih terkulai tak berdaya, di belakang.

Baru setelah memasuki ruang utama gedung Ditserse Mapolda Metro Jaya Taufik yang mengenakan kaus tahanan biru nomor 034—awas bukan kode togel—dan celana pendek selutut abu-abu tua, menegakkan kepalanya. Matanya dikerjap-kerjap sebentar. Air mukanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang dirasakannya. Kepalanya celingak celinguk, melihat sekeliling ruangan yang sebenarnya tidak asing lagi untuknya.

Melewati kursi tamu bundar hijau di tengah ruangan, Taufik melangkah lunglai. Pelan-pelan meja piket itu dihampirinya. Seorang petugas piket ramah menyapa, “Hey, Gondrong.” Namun, belum lagi menjawab atau menyungging seulas senyum, petugas yang sedari tadi mengawalnya memanggil Taufik, “Sini.” Tak perlu melapor ke piket lagi, itu maksudnya.

Urung mendekati meja piket, Taufik membelokkan kakinya ke kiri. Melangkah ke koridor yang ditutup dengan pintu gantung seperti di saloon dalam film koboi. Lalu belok kanan. Di depan pintu Kepala Unit Harta Benda (Kanit Harda), Taufik menghentikan langkah. Celingak celinguk lagi, sampai pintu dibuka. Lalu melangkah masuk. Pintu ditutup.

Beberapa saat kemudian pintu terbuka, seorang petugas keluar. Tak mau kehilangan momen ini, Rakyat Merdeka melongokkan kepala. Nun di pojok, vertikal dengan pintu, Taufik duduk menghadap ke arah pintu. Seorang petugas duduk di depannya. Taufik tidak lagi menundukkan kepalanya. Tetapi kegelisahan masih tertinggal di wajahnya. Lalu pintu tertutup kembali.

Selang setengah jam, pintu terbuka lagi. Kali ini Taufik sudah pindah duduk, ke meja sebelah. Seorang petugas lainnya mengintrogasi Taufik di meja itu. Tidak lagi menghadap pintu, sisi kanan tubuh Taufik yang terlihat dari arah luar. Borgol sudah dilepas dari tangannya. Kini, kedua tangannya dilipat santai di atas meja. Kakinya diselonjorkan ke depan, mengurai kepenatan.

Kepalanya menoleh ke kiri, ke layar monitor komputer yang berwarna biru. Barisan tulisan putih tertera di situ. Tidak jelas apa. Agaknya, petugas reserse itu tengah menunjukkan sesuatu kepada Taufik. Bibirnya bergerak, berbicara. Taufik melihat ke arah petugas itu. Kepalanya diangguk-anggukkan, seolah mengerti atau setuju. Lalu kelanya dialihkan lagi ke arah layar monitor. Kakinya yang selonjoran itu digoyang pelan-pelan. Istirahat sejenak.

Seniman Di Sarang Politik

Aktifitas seni untuk banyak kasus tidak bisa dipisahkan dari aktifitas politik. Buktinya sederhana, aksi massa yang dilakukan untuk menumbangkan sebuah rejim, sekaligus menegakkan rejim baru, selalu diikuti rangkaian aksi seni. Selanjutnya, menggugah kesadaran politik dengan kegiatan menyeni seperti menjadi komplementer dalam aksi-aksi politik.

Bagaimana dengan ketua asrama di Guntur ini, Taufik Abdullah? Belum ada keputusan hukum yang menyebutkan asrama mahasiswa yang kebanyakan penghuninya justru bukan mahasiswa ini sebagai sarang politik. Juga belum ada keputusan hukum yang menyebutkan Taufik terlibat pada aktivitas politik GAM atau varian lain dari gerakan kemerdekaan di Aceh. Tetapi yang jelas, Taufik mengaku dirinya sebagai seniman.

Itulah sebabnya, menurut Taufik, mengapa ketika ledakan terjadi dirinya justru lebih dahulu menyelamatkan gitar kesayangannya ke luar rumah.(GUH)

Tertuduh Perakit Bom

Sejauh ini, tidak banyak hal yang diketahui orang soal Taufik. Dengan sangat tiba-tiba, namanya muncul ke permukaan, di sela-sela konflik yang semakim meruncing antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Satu yang jelas, di dalam tubuh Taufik mengalir segar darah Aceh. Untuk yang satu ini, tidak seorang pun meragukannya.

Bahkan, walau tinggal dan mengepelai asrama mahasiswa Aceh, di kalangan aktifis Aceh, Taufik tidak begitu terkenal. Jadi, tidak salah juga kalau ada yang berpikir, ledakan bom di asrama Guntur ini menjadi penghantar Taufik ke jenjang publisitas. Sebuah publisitas yang masih harus dibuktikan derajat nilainya.(GUH)

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s