Tokoh

Setelah Tommy Kabur 200 Hari

MUNGKIN orang sudah mulai melupakan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, terdakwa 18 bulan penjara dalam kasus tukar guling Goro dan Bulog.Tommy yang juga disapa Mas Tommy oleh orang-orang dekatnya ini melarikan diri sejak 3 November tahun lalu. Kalau dihitung, kemarin (23/5) adalah hari ke 200 anak bungsu bekas penguasa Orde Baru Presiden Soeharto ini menghilang tak tentu rimbanya.

Jumlah hari hilangnya Tommy, sang konglomerat cilik karbitan ini, bukanlah hal penting. Bahkan, seperti penentangannya terhadap kewibawaan hukum, Tommy sendiri pun sejak awal bisa jadi tidak begitu penting. Ironis memang, namun apa hendak dikata. Praktik hukum dan peradilan di republik ini memang sudah sedemikian bobroknya. Hukum di Indonesia memang ayam sayur, macan ompong, tukang kibul dan sebagainya.

Pencuri ayam bisa jadi divonis dua tahun, kalau tidak mati dibakar massa. Sementara seorang koruptor kelas kakap hantu bin gendoruwo yang merampas harta kekayaan negara dibiarkan lolos begitu saja setelah divonis hanya satu atau dua bulan. Atau mungkin pula, penjarah yang dilindungi kekuasaan ini menikmati kebebasan di rumah peristirahatannya.

Kembali ke cerita soal kaburnya Tommy. Banyak hal yang bisa diurai sebelum dan setelah kaburnya Tommy. Kelicikan Tommy pernah dikaitkan dengan kerakusan Gus Dur pada kekuasaan. Ini berkaitan dengan dua pertemuan yang dilakukan keduanya, di Hotel Borobudur, dan di Hotel Regent. Dari pertemuan haram itu tertiupanginlah kisah-kisah yang menyinggung dan menyakiti rasa keadilan masyarakat.

Konon Gus Dur bersedia menjamin kebebasan Tommy apabila Tommy mau memberikan sebagian kekayaannya untuk menopang kekuasaan Gus Dur. Versi lain menyebutkan Tommy lah yang menghamba-hamba pada Gus Dur untuk melindungi dirinya.

Entah mana yang benar. Sampai sekarang Gus Dur sendiri tidak pernah memberi keterangan yang masuk akal mengapa dirinya mau menemui Tommy. Satu-satunya alasan yang pernah diucapkan promotor pertemuan itu, KH Nur Iskandar SQ, adalah Gus Dur merasa perlu untuk membangun silaturahmi dengan siapapun. Termasuk dengan Tommy.

Tak lama, mengaku dikecewakan oleh janji Gus Dur, dari persembunyiannya Tommy mengancam akan membocorkan isi pertemuan itu. Tidak tanggung, Tommy juga mengaku punya rekaman pertemuan tersebut.

Setelah Tommy moksa pun banyak isu yang berputar soal keberadaannya. Pernah tersebar kabar  Tommy berada di Cengkareng. Pernah pula diberitakan Tommy tertangkap di Jawa Timur. Namun, setelah dikonfirmasi ke Jakarta soal keberhasilan itu, Tommy dibebaskan lagi. Belum lagi penangkapan Elyze Tuwahatu yang mengaku disuruh Tommy meledakkan TMII dan beberapa tempat lainnya. Tapi belakangan dukun perempuan ini mencabut pengakuannya.

Pernah pula tersebar kabarTommy berada di Amerika dengan wajah baru hasil operasi plastik. Yang paling mutakhir adalah isu Tommy sudah mati. Jadi, tidak perlu dicari lagi.

Kemarin, untuk “memperingati” dua ratus hari sukses Tommy melarikan diri, sebuah diskusi kecil digelar. Sebagai nara sumber utama adalah pengacara  Tommy. Siapa lagi kalau tidak Nudirman Munir. Sementara duduk menjadi pembahas adalah anggota DPR Samuel Koto, dan sebagai saksi ahli pakar IT Roy Suryo yang dihubungi via telepon. Bagaimana tindak tanduk Nudirman? Berikut laporan Teguh Santosa.

Berandai-andai Mau Tembak Gus Dur

Sendirian, Nudirman Munir berdiri di pojok meeting room. Tangan kanannya dimasukkan ke kantong celana, sekaligus menyingkap jas biru dongker pembungkus t-shirt putih yang dikenakannya. Dagunya yang licin diusap-usap pakai tangan kiri. Agaknya Nudirman tengah berpikir keras. Matanya awas, menjelajah keramaian khas pagi hari di persimpangan Harmoni.

Dari lantai 19 Menara BTN itu Nurdiman yang sampai sekarang masih menjadi kuasa hukum Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto mengamati kompleks Istana Merdeka, kediaman resmi Presiden Gus Dur. Posisi tubuhnya di geser-geser. Terus mengamati. Sesekali kepalanya digelengkan. Lalu menggeser tubuhnya lagi.

Ketika Rakyat Merdeka menghampiri, Nudirman balik kanan. Laki-laki bertubuh tambun ini mengurai senyum manis. Tangannya mengulur, menyambut tangan Rakyat Merdeka. Setelah saling sapa, Nudirman kembali melihat ke arah kompleks Istana Merdeka. Tangan kanannya menunjuk ke sana.

“Wah, kalau nembak Gus Dur dari sini, pas sekali. Dia kan suka jalan-jalan di situ pakai golf car,” ujarnya tanpa mengalihkan arah pandangan matanya. Kedua tangannya dilipat di atas perut. Tubuhnya ditarik sedikit kebelakang, doyong. Seolah-olah mengukur jarak tembak yang sesuai.

Agak lama begitu, Nudirman menegakkan badannya kembali sambil tertawa kecil. “Ya, ini kalau kita main teroris-teorisan. Kan Gus Dur pernah nuduh Tommy teroris,” katanya masih tertawa sambil membalikkan tubuh. Sebaris gigi putih terpampang menghiasi senyum lebarnya.

Puas mengamati Istana Merdeka, Nudirman melangkah ke kursi biru di depannya, dan duduk manis di situ. Ketika ditanya mau minum apa, Nudirman menjawab dirinya sudah memesan segelas air putih pada office boy.

Tak lama, office boy masuk dengan segelas air putih di atas nampan. Rakyat Merdeka keluar sebentar, mengambilkan setumpuk koran untuk Nudirman yang harus menunggu di ruangan tersebut. Nudirman mengangsur tangan kanannya, meraih sebuah koran. Lantas, segera larut dalam lautan berita. Matanya tak sempat melirik ke arah Rakyat Merdeka yang meninggalkan ruangan.

Hampir setengah jam ditinggal sendirian, Nudirman dikagetkan oleh kehadiran Rakyat Merdeka kembali. Berdiri sigap, Nudirman berjalan di belakang menuju ruang diskusi.

Nudirman menerima banyak pertanyaan soal hubungannya dengan Tommy Soeharto, anak bungsu bekas penguasa Orde Baru Soeharto yang sudah 200 hari melarikan diri dari kekuasaan hukum setelah divonis 18 bulan kurungan.

Gaya bicaranya tenang dan santai. Tangannya diletakkan di atas meja di depannya. Jari jemari kedua tangannya saling mengkait. Kedua jempol diputar-putar. “Saya sudah lama tidak berhubungan dengan Mas Tommy. Terakhir kali berhubungan di depan Kapolda. Saya tidak ingat tanggalnya, yang jelas beberapa hari setelah Mas Tommy melarikan diri,” kata Nudirman ringan.

“Walau sudah lama tidak berhubungan dengan Tommy, apakah urusan billing masih jalan?” tanya seorang peserta diskusi nakal. Nudirman meledakkan tawanya. Badannya yang tadi dicondongkan ke meja, kini ditegakkan. “Ah, untuk hal itu saya tidak bisa berkomentar,” jawab Nudirman yang mengaku satu-satunya pengacara yang masih dipakai Tommy menyimpan misteri. Lalu Nudirman tertawa lagi. Kali ini tidak keras.

Tidak lama, Samuel Koto masuk ke ruang diskusi. Nudirman setengah berdiri menyambut kehadiran Wakil Ketua Ketua Fraksi Reformasi di DPR ini. Samuel memilih duduk di sebelah kiri Nudirman. Dan, tidak butuh lama membuat pembicaraan semakin hangat.

“Mengapa Anda tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi II untuk mengklarifikasi pertemuan Gus Dur dan Tommy di Hotel Borobudur dan Hotel Regent?” tanya Samuel tajam. Matanya tidak langsung menatap Nudirman. Tapi menusuk.

Nudirman menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, menyanggah dirinya pernah menerima panggilan dari Komisi II. “Kalau diundang saya pasti datang. Tapi saya tidak pernah menerima undangan dalam bentuk apapun,” tegasnya.

Pembicaraan yang sudah panas itu semakin menjadi panas ketika pakar IT Roy Suryo yang pernah menjadi anggota “buru sergap” Tommy ikut nimbrung via telepon. “Dari bukti yang saya kumpulkan, Tommy memang tidak berhubungan lagi dengan Nudirman. Tetapi dia masih berhubungan dengan pengacaranya yang lain,” kata Roy tanpa memberitahu siapa pengacara X itu.

Tawa kembali meledak memenuhi ruangan. Samuel berujar singkat, “Wah Abang ini dijadikan bumper saja rupanya.” Nudirman tersenyum kecut. Masam. Tangannya memainkan gagang kacamata yang sejak tadi diletakkan di atas meja.

Wali Hukum Tommy

Nudirman Munir yang lahir di Kota Kinabalu Sabah 17 Agustus 1953 ini tidak dapat menutupi kebanggaannya menjadi kuasa hukum Tommy Soeharto. Dari 20-an pengacara yang pernah dipakai Tommy, menurut pengakuan Nudirman tinggal dirinya yang bertahan. “Mungkin karena kami punya banyak kesamaan,” kata Nudirman mereka-reka.

Tapi, satu dua perbedaan dengan Tommy ada juga, aku Nudirman. Misalnya soal kaburnya Tommy. Nudirman mengaku ketika mendengar rencana itu pertama kali dirinya tidak setuju. Dia memperingatkan dan menyarankan agar Tommy melakukan perlawanan dari dalam penjara. Tapi apa mau dikata, Tommy ini memang keras kepala. (GUH)

Loyalis Tegak Lurus

Agaknya loyalitas laki-laki berdarah Sumatera Barat ini pada suami Regita Cahyani alias Tata itu berdiri tegak lurus. Tak tergoyahkan. Menurutnya, tidak tepat apabila si Tommy dijerat dengan diktum-diktum tindak pidana korupsi. Tukar guling yang dilakukan si Tommy dengan Richardo Gelael tidak merugikan negara satu rupiahpun. “Tanya dong pada Kabulog, apakah mereka dirugikan. Pasti tidak,” yakinnya.

Bagaimana dengan jaminan Nudirman bahwa Tommy tidak akan melarikan diri? Alumni FH UI tahun 1980 ini mengatakan dirinya yakin apabila prosedur hukum yang digunakan Kejaksaan Agung tepat, kliennya tidak akan melarikan diri. Justru sebaliknya, Kejaksaan Agung banyak tidak seriusnya. Sebagai misal, pihaknya sampai sekarang belum menerima salinan asli keppres penolakan grasi presiden atas Tommy. “Catat itu,” kukuhnya masih tegas. (GUH)

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s