Tokoh

Niat Membongkar Jaring KKN Dan Harta Haram Pejabat

PERTENGAHAN tahun 1980-an, Bank Dunia menjuluki Indonesia sebagai the Asian miracle atau keajaiban Asia. Hanya dalam waktu singkat, sejak rejim Orde Baru di bawah Soeharto mengambil alih kekuasaan tahun 1968.

Namun sesungguhnyalah Indonesia hanya sebuah keajaiban semu. Fundamental ekonomi yang digembor-gemborkan itu tidak seindah bangunan realita ekonomi sesungguhnya. Untuk excellent impression itu, pemerintah mengumbar indikator makro ekonomi ke sana ke mari.

Maka tidak usah terlalu heran apabila sekarang Indonesia terpuruk. Ekonomi hutang dan KKN yang dulu dibudidayakan sekarang menjadi penggali lubang kuburan yang efektif. Dengan cepat tugasnya diselesaikan: mengubur bangsa ini.

Jelas pemerintah yang baru berkuasa tidak mau mati konyol. Prilaku KKN bermula dari penguasa dan penyelenggara negara. Jadi, kalau mau mengurai jaring KKN, mulailah dari mereka, pejabat-pejabat negara itu. Demikian silogismenya.

Sebuah institusi didirikan. Namanya cukup menggetarkan nyali pejabat korup: Komite Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara disingkat KPKPN.

Sampai minggu ini, sudah 104 pejabat penyelenggara negara yang melaporkan harta kekayaannya kepada KPKPN. Setelah diumumkan dalam tambahan lembar negara, berbagai reaksi negatif bermunculan.

Reaksi paling keras berasal dari Indonesian Corruption Watch (ICW). Pertama kordinator Komite ICW Teten Masduki mengatakan data yang diumumkan KPKPN tidak bersuara sama sekali.

Kali berikutnya, Teten lebih keras lagi. Ide pembentukan KPKPN warisan Orde Baru, gugatnya.

Wajar saja apabila Teten menunjukkan reaksi seperti itu. Laporan KPKPN memang hanya setumpuk kertas. Mengapa rumah di Jalan Irian nomor 7 tidak ada dalam laporan Gus Dur? Mengapa VW mewah bernopol M3GA yang sering dibawa Megawati keliling kota juga tidak dicantumkan? Apakah itu indikasi kedua pejabat ini tidak jujur. Kalau sudah begini, apa yang bisa dilakukan? Kok output KPKPN seperti ayam sayur?

Atas semua pertanyaan ini ketua KPKPN Yusuf Syakir berujar ringan. Memang hanya segitulah wewenang KPKPN, elaknya.

Nah, kemarin malam (24/4) Teten duduk semeja dengan Yusuf dalam sebuah diskusi. Adakah Teten melanjutkan gugatannya? Teguh Santosa turut menyaksikan pertemuan itu.

Tak Melirik Yusuf Syakir

Lantai 23 sebuah gedung perkantoran di kawasan industri Sudirman. Malam itu, di salah satu ruangan sedang berlangsung sebuah diskusi. Kordinator Komite Indonesian Corruption Watch (ICW) Teten Masduki menjadi salah seorang nara sumber dalam diskusi yang dihadiri beberapa lembaga non-pemerintah itu.

Mengenakan kemeja merah bergaris putih tipis, Teten duduk di pojok kiri deretan depan, menghadap peserta diskusi. Lengan kemeja panjangnya digulung sebatas siku. Kelihatan lebih macho, jadinya.

Seperti biasa, Teten tidak mengenakan dasi. Kancing paling atas kemejanya dibiarkan terbuka begitu saja. Hanya sebuah pulpen kuning emas yang diselipkan di saku kiri kemejanya menjadi penghias.

Di pojok kanan, masih di deretan yang sama, duduk ketua Komite Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKN) Yusuf Syakir. Dua orang yang sedang perang urat syaraf itu duduk dipisahkan oleh staf ahli menteri kehakiman Oka Mahendra, Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Hatim Baidai dan seorang wanita yang bertugas menjadi moderator.

Kendati duduk semeja dengan Yusuf yang belakangan kerap dikritiknya, Teten tidak menunjukkan air muka yang berlebihan. Tatap matanya biasa saja, lurus ke depan. Tidak satu garis emosi pun terlihat di wajahnya yang kali ini tidak dihiasi kumis.

Teten pun tidak merasa perlu menoleh ke arah Yusuf yang mendapat giliran bicara pertama kali. Tetapi bisa dipastikan Teten mendengarkan dengan cermat dan teliti setiap uraian Yusuf. Sering saking seriusnya mendengarkan Yusuf, tanpa sadar Teten menopang dagunya.

Sesekali Teten menegakkan tubuhnya. Tidak begitu lama, Teten kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk berwarna biru yang didudukinya.

Kalau sudah begini, Teten mengarahkan tatapan matanya ke arah eternit. Seakan-akan Teten sedang memperhatikan tiga buah lampu gantung parabola di atasnya. Ntah apa yang menarik dari lampu-lampu itu. Sinarnya kuning buram.

Bosan memplototi lampu-lampu itu, mata Teten beralih ke objek lain. Kali ini gelas berisi air bening di hadapannya. Selesai menatap tajam, gelasnya diangkat, airnya diminum sampai setengah.

Yusuf menutup uraiannya. Pembicara berikutnya adalah Oka Mahendra. Teten masih cuek dan seolah tidak memperhatikan. Tidak lebih dari sepuluh menit, Oka selesai bicara.

Teten berdiri, berjalan ke arah meja saji. Sebentar kemudian Teten celingak celinguk mencari gelas dan gula. Ketemu juga. Gulanya tinggal sedikit. Lalu teh panas dituangkan ke gelas, berikut gula. Diaduk-aduk sebentar. Selesai, Teten balik ke kursinya. Sebentar lagi gilirannya berbicara.

Selanjutnya Hatim Baidai yang menyampaikan ide-idenya. Teten pun masih cuek. Badannya disenderkan ke kursi, kedua tangannya dijadikan bantal bagi kepalanya. Kakinya diselonjorkan ke depan. Eh, nabrak kain putih pengalas meja. Kelihatanlah ujung sepatunya yang berwarna cokelat itu.

Sekarang giliran Teten. Setelah moderator mempersilakan, Teten meraih microphone hitam yang sedari tadi seolah menunggu dijamah olehnya. Semua yang hadir memperkirakan kali ini pun Teten akan mengurai sulitnya memberantas praktek KKN di negara kepulauan terbesar di dunia ini.

“Korupsi hanya terjadi di negara yang sistem pemerintahannya remang-remang,” kata Teten.

Tangan kanannya diangkat ke atas. Jari telunjuknya menuding langit-langit. “Negara kita sudah punya institusi demokrasi. Tapi mengapa korupsi semakin merajalela,” bertanya Teten ntah pada siapa.

Di jaman Soeharto dulu, lanjut Teten, korupsi yang terjadi hierarkis dan terpimpin. Sistem pemerintahan Indonesia kala layak disebut kleptokrasi atau pemerintahan maling.

Namun itu masih lebih baik dari sekarang, ujarnya satir. Korupsi berkembang anarkis. Siapa saja seolah mendapat pembenaran untuk mengambil uang yang bukan miliknya, ujarnya lagi makin satir. Matanya nyalang, tiba-tiba.

Pengusung Moral Kaum Buruh

Laki-laki kelahiran Garut, Jawa Barat 38 tahun lalu ini memang belum pernah menjadi buruh kapitalisme global yang merasuk seluruh pelosok negeri dan merengsek hamparan sampah pedesaan.

Teten Masduki adalah sarjana Matematika dari IKIP Bandung. Mungkin karena kepiawaian aritmatikanya inilah, Teten menceburkan diri dalam kehidupan kaum buruh. Bagaimanapun juga harus ada yang mengadvokasi kaum buruh menghitung nilai kerja mereka yang ditilep pemilik modal.

Teten memulai karirnya sebagai advokator buruh tahun 1987. Saat itu Ayah satu anak bergabung dengan Pusat Informasi dan Studi HAM Insan. Setelah menyelesaikan tugasnya di litbang Serikat Buruh Merdeka, tahun 1990 Teten menjadi kepala divisi perbutuhan YLBHI. Tahun 1992 Teten memegang posisi kordinator pada Forum Solidaritas Pekerja (Forsol). Tahun 1996 Teten menjadi kordinator Konsorsium Perbaikan Hukum Perburuhan (KPHP). Sejak 1998, Teten lebih dikenal sebagai kordinator Komite Indonesian Corruption Watch atau yang lebih dikenal dengan ICW.(GUH)

Musuh Orde Baru

Sebagai advokator buruh, Teten sering berbenturan dengan kepentingan pemilik modal yang kerap menggandeng penguasa, baik birokrat maupun militer, dalam menjinakkan kaum buruh. Maka tidak usah heran apabila nama Teten ada dalam daftar musuh Orde Baru.

Soeharto boleh lengser. Tapi itu bukan akhir dari perjuangan Teten. Bagi Teten justru sekaranglah saatnya membongkar jaring-jaring KKN dan prilaku korup rejim masa lalu.

Misalnya, Juni 1999 Teten mengungkap suap yang diterima Jaksa Agung saat itu AM Ghalib dari dilakukan Prayogo Pangestu dan The Nin King. Andi Ghalib tersinggung. Siri-nya sebagai orang Makassar seakan diinjak-injak. Ujung-ujungnya Andi Ghalib me-nonaktif-kan dirinya dari posisi Jaksa Agung.(GUH)

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s