Tokoh

Loyalitas Matori Djalil yang Diragukan

Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri membesuk Matori Abdul Djalil di RSPAD. Ikut membesuk Ibu Shinta Nuriya.

JANGAN pernah lupakan, Nahdlatul Ulama (NU) adalah aktor yang handal dalam peta pertarungan politik Indonesia modern. Dalam pemilu 1955, NU termasuk empat partai besar pemenang pemilu. Di masa Orde Baru pun, ketika difusikan ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bersama Perti, Masyumi danPSII, NU tetap memainkan peranan penting.

Tidak puas dengan setting politik Orde Baru, awal 1980-an, NU menarik diri keluar dari PPP, menjauhi kehidupan politik praktis, dan kembali organisasi masyarakat keagamaan.

Tidak adanya wadah politik bagi kaum bersarung ini menjadi semacam pembenaran bagi beberapa diantara mereka untuk bergerilya dan bergabung ke dalam berbagai partai politik. Keadaan ini terus berlangsung sampai beberapa saat menjelang diselenggarakannya pemilu 1999.

PBNU mensponsori berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Matori Abdul Djalil dipercaya sebagai ketua umum pertama.

Sayangnya, sejak awal tingkah polah Matori sebagai ketua umum PKB sudah mengecewakan dan menyinggung perasaan beberapa kalangan di tubuh NU. Di saat Poros Tengah meminang Abdurahman Wahid atau Gus Dur untuk mau digadang sebagai presiden, Matori malah meminag orang lain, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri.

Rasa kecewa atas telikungan Matori ini dicuatkan pertama kali dalam muktamar PBNU bulan November 1999. Saat itu, kebanyakan para muktamarin berpendapat sebaiknya Matori diganti saja dengan kader NU yang lebih bisa diandalkan keloyalannya, Hasyim Muzadi. Tetapi, akhirnya Hasyim diplot sebagai ketua umum PBNU. Maka dalam kongres pertama PKB di Surabaya tahun 2000 lalu, Matori pun melenggang sendiri di bursa pencalonan ketua umum.

Cerita terus bergulir. Pertama ada penggunaan hak interpelasi atas pemecataan Yusuf Kalla dan Laksamana Sukardi dari posisi menteri kabinet gemuk pelangi. Selanjutnya Sidang Tahunan Agustus 2000, yang menghasilkan pembagian kekuasaan antara Gus Dur dan Megawati, disusul terbitnya Keppres 121/2000.

Terakhir adalah rekomendasi panitia khusus Buloggate dan Bruneigate (Pansus BB) yang mengindikasikan keterlibatan Gus Dur dalam pengucuran dana Yanatera Bulog dan sikap plin plan Gus Dur menjelaskan aliran dana bantuan Sultan Brunei Darussalam. Buntutnya Gus Dur diberi memorandum pertama.

Posisi Gus Dur semakin terdesak. PKB mungkin sudah mati-matian membela kyai Ciganjur ini. Menyusul memorandum pertama misalnya, PKB bergegas menyelematkan nama baik Gus Dur. Dalam sebuah kaset rekaman “rapat internal PKB” yang bocor dan beredar di tengah masyarakat, langkah-langkah itu tegas dibeberkan. Diantaranya adalah penerbitan buku putih Pansus BB dan maksimalisasi gerakan massa pendukung Gus Dur.

Tetapi, itu saja tidak cukup memuaskan. Dalam rapat pleno PBNU di Cilegon Banten pekan lalu keraguan atas loyalitas Matori kembali muncul. “Sebagai ketua umum Pak Matori tidak optimal mendukung Gus Dur. Dia terlalu lemah sebagai benteng politik,” kata beberapa diantara mereka kesal.

Inilah pandangan mata Teguh Santosa ketika menguntit “keakraban” Matori dengan lawan-lawan politik Gus Dur dalam sebuah pesta.

Cuek Disebut Benteng Rapuh Gus Dur

Bayangkan sebuah kerumunan. Kira-kira, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui bahwa salah seorang di dalam kerumunan itu adalah Matori Abdul Djalil? Jawabnya, tidak banyak. Apalagi kalau kerumunan itu hanya terdiri dari beberapa orang politisi saja.

Sosok ketua umum DPP PKB ini tidak susah dikenali. Tubuhnya tinggi besar. Wajah selalu dihiasi kumis. Peci hitam hampir tak pernah lepas dari kepalanya. Begitu juga kacamata berbingkai kuning emas yang selalu bertengger di atas tulang hidungnya.

Ciri penting lain sosok Matori adalah air mukanya yang keras, dingin dan datar. Bibirnya lebih sering terkatup rapat. Apalagi derai tawa, senyum saja hampir-hampir dia tak pernah.

Tetapi malam itu, di tengah sebuah pesta Matori tampil beda. Jangankan cuma seulas senyum, gelak tawa pun diobralnya ke sana kemari. Padahal, disekitar Matori yang malam itu mengenakan baju batik berwarna dasar putih berdiri pula lawan-lawan politik tokoh nomor satu di tubuh PKB, presiden Gus Dur.

Sebut saja bekas ketua Pansus Buloggate dan Bruneigate Bachtiar Chamsyah dari Fraksi Persatuan Pembangunan. Selain Bachtiar dua pentolan geng koboi Senayan, yakni Ade Komaruddin dari Fraksi Partai Golkar dan Alvin Lie dari Fraksi Reformasi, juga hadir. Bagi kubu Matori ketiga orang ini adalah inti kekuatan yang merongrong kekuasaan Gus Dur, disamping pentolan Poros Tengah Amien Rais.

Suami ketua umum DPP PDIP Megawati, Taufik Kiemas juga ada di sana. Di samping Taufik berdiri ketua DPD PDIP DKI Jakarta sekaligus orang dekat Megawati, Roy BB Janis.

Muchyar Yara, penasehat hukum bekas Mentamben Ginandjar Kartasasmita, yang sekarang mendekam di dalam rumah tahanan Kejaksaan Agung, pun menghadiri pesta itu.

Satu-satunya kawan politik Matori yang berada di pesta itu hanya anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa Effendi Choirie.

Kesemua politisi itu, termasuk Matori, berdiri santai dalam lingkaran kecil. Beberapa diantara mereka memegang gelas minuman. Matori sendiri terlihat asyik dengan rokok putihnya. Dihisap dalam-dalam, kemudian asapnya dihembuskan kencang-kencang ke atas. Tangan kirinya dimasukkan ke kantong celananya yang berwarna hijau lumut tua. Nikmat sekali kelihatannya.

Tadinya, sebelum bergabung dengan politisi lain di tengah pesta itu, Matori dikerubuti beberapa wartawan cetak dan eletronik. Selesai diwawancarai, Matori berjalan ke arah Bachtiar, Alvin, Ade dan Taufik yang sudah lebih dahulu ngerumpi. Berjabatan tangan, saling tukar sapa, saling tukar senyum. Orang pertama yang disalam Matori adalah Bachtiar, menyusul berturut-turut Alvin dan Ade.

Selanjutnya, Bachtiar berjabatan tangan dengan Taufik. Mereka berdua segera terlibat dalam pembicaraan serius. Sampai-sampai Matori merasa perlu menundukkan wajahnya, tanda menyimak sungguh-sungguh.

Ketika Matori dan Taufik sedang berbicara, Muchyar dan Efendi mendekati lingkaran. Muchyar lebih dahulu mengulurkan tangan. Matori menyambut. Sesaat kemudian Matori pun terlibat pembicaraan serius dengan Muchyar. Sesekali Muchyar merangkulkan tangan kanannya ke punggung Matori.

Beberapa menit kemudian, Matori keluar dari lingkaran. Kepada seorang pramusaji, Matori bertanya di mana letak kamar kecil. Setelah ditunjukkan arahnya, Matori segera bergegas. Langkahnya cepat.

Begitu Matori muncul dari kamar kecil, Rakyat Merdeka menjejeri langkahnya. “Beberapa orang di kalangan NU menilai Anda tidak cukup kokoh membentengi posisi Gus Dur. Bagaimana komentar Anda?” tanya Rakyat Merdeka.

“Jangan tanya itu ke saya. Tanya saja ke PBNU. Saya tidak ngurusin,” tukasnya singkat tanpa senyum.

Matori kembali ke lingkaran kecil politisi tadi. Gelak tawa pun kembali pecah. Kali ini bahkan lebih seru. Memang kalau dipikir-pikir, malam itu Matori akrab sekali dengan orang-orang yang menggunting Gus Dur dalam lipatan. Pantas saja orang-orang NU tidak puas kepada Matori.

Pelit Bicara, Tidak Bocor

Salah satu syarat kalau mau jadi politisi yang baik adalah tidak bocor, tidak ember, pelit bicara dan mampu menyimpan rahasia A1. Kalau tidak bisa memenuhi syarat ini, mendingan balik badan saja, jadi tukang obral.

Tidak usah diragukan, syarat ini dimiliki oleh Matori Abdul Djalil. Tidak jarang Matori melakukan aksi diam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan.

Kalau didesak terus, biasanya Matori segera mengeluarkan raut tak sedap dipandang mata yang sering jadi senjata pamungkasnya. Padahal seharusnya diam itu emas.

Pernah ketika mengkonfirmasi satu hal, Rakyat Merdeka tidak mendapat apapun dari Matori. “Maksud Anda no comment?” tanya Rakyat Merdeka. “Tidak. Catat ini, kita tidak melakukan pembicaraan apapun untuk itu,” jawabnya keras.(GUH)

Prestasi Tahan Bacok!

Hari minggu 5 Maret 2000. Matori berencana melewati pagi yang indah itu dengan bersantai dan istirahat sejenak dari aktivitas politik yang memelahkan setiap hari. Seorang laki-laki tak dikenal tiba-tiba nyelonong masuk tanpa assalamualaikum.

Pun tanpa bicara sepatah kata Sarmo, nama laki-laki misterius itu, mengayunkan parangnya ke arah Matori yang tersentak kaget. Tepat pukul 07.30 ketika pembacokan itu terjadi.

Beberapa saat kemudian Sarmo yang mencoba melarikan diri tewas dikeroyok massa. Temannya, Tazul Arifin yang menunggu di atas motor, melarikan diri dan ditangkap tanggal 9 Maret.

Sementara itu dari tempat kejadian perkara dengan kepala berlumuran darah Matori dilarikan ke rumah sakit Pasar Rebo. Matori dirawatinapkan di sana. Hanya beberapa hari, kemudian Matori keluar dan dinyatakan selamat. Benar-benar tangguh.(GUH)

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s