Kapan-kapan Cerita tentang Mayat Kim Il Sung

Posted on April 17, 2008

6


ILLUSION (Ilyushin Il-62) buatan Rusia milik Air Koryo, maskapai nasional Korea Utara, yang membawa saya dari Beijing, China, mendarat dengan mulus di Sunan International Airport, Pyongyang.

Gambar Kim Il Sung, yang hari itu berulang tahun, 15 April 2003, menyambut kami di puncak bandara. Ia meninggal dunia 8 Juli 1994. Tetapi bagi rakyat Korea, sang Great Leader pendiri Korea Utara itu tak pernah sungguh-sungguh mati meninggalkan mereka: dialah the Eternal President.

Tubuh Kim Il Sung yang dibalsem masih terbaring di Kumsusan Memorial Palace. Di hari kesekian, saya sempat mengunjungi Kim Il Sung dan istananya yang besar. Tapi cerita tentang itu nanti aja. Kapan-kapan ya.

Tim dari Departemen Luar Negeri Korea Utara menyambut saya di ruang imigrasi. Mereka membantu mengisikan berbagai dokumen keimigrasian yang hampir semuanya ditulis dengan aksara Korea, dan mempertemukan saya dengan tim dari KBRI di Pyongyang yang juga menunggu kehadiran saya di bandara.

Salah seorang dari penjemput itu adalah Pak Gatot Wilotikto, seorang eks-eksil Indonesia yang selama empat dasawarsa menetap di Korea Utara. Ia menyambut saya dengan senyum lebar. Kami berjabatan tangan. Cerita tentang Pak Gatot saya dengar dari Rachmawati Soekarnoputri, ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara yang ikut memuluskan perjalanan saya ke negeri ini.

Di era 1960-an Pak Gatot termasuk mahasiswa Indonesia yang dikirim Bung Karno berlajar ke luar negeri. Setelah peristiwa Gestok 1965 , seperti kaum eksil lainnya, ia tidak dapat kembali ke tanah air. Pak Gatot menikah dengan wanita Korea, dan kalau tidak salah punya dua orang anak. Beberapa tahun lalu, ia akhirnya bisa kembali ke tanah air setelah bertemu Rachmawati di Pyongyang.

Sebelum keluar dari bandara, seorang anggota tim Deplu Korut meminta saya meninggalkan handphone. Katanya, ini protap. Pak Gatot yang berdiri di sebelah saya mengangguk. Well, kalau begitu (ketika itu) simcard kartu Mentari saya amankan dulu.

Saya pun diminta ikut tim Deplu Korut. Itu juga bagian dari protap, karena kehadiran saya di Pyongyang atas undangan pemerintah Korut. Tiga orang menemani saya di mobil mercy merah darah. Seorang penerjemah Inggris-Korea yang duduk di sebelah kiri saya, pemimpin rombongan di sebelah supir, dan sang supir yang sepanjang jalan, bahkan sampai saya meninggalkan Pyongyang lebih banyak menutup mulut.

Di depan kami mobil tim Deplu Korut lainnya membuka jalan, sementara mobil tim KBRI mengikuti di belakang.

Rombongan berjalan beriringan menuju Hotel Haebangsan (namanya saya ketahui belakangan), beberapa blok dari Kim Il Sung Square. Sepanjang jalan, saya memuaskan diri menatap-natap pemandangan di kota ini, jalan yang lebar dan bersih, gedung-gedung yang menjulang tinggi, bunga-bunga yang sedang berkembang, keluarga yang menikmati musim semi di taman kota, dan anak-anak mereka yang sedang bermain bola. Poster-poster dan spanduk-spanduk propaganda, serta deretan bendera Korea Utara. Polisi lalu lintas di setiap persimpangan.

Semua lampu lalu lintas di persimpangan jalan Pyongyang padam. Hanya seorang polisi yang disiagakan, dengan tongkat kecil di tangan kanan, hadap kanan, hadap kiri, dan balik kanan, menentukan jalur mana yang boleh melintas, dan jalur mana yang harus berhenti.

Krisis energi telah membuat pemerintah Korea memadamkan untuk sementara traffic system di Pyongyang, kata penerjemah saya. Namanya Kim, dan saya lupa Kim apa. Sementara si ketua rombongan, yang duduk di depan, pun bernama Kim dan saya juga lupa Kim apa, lebih banyak diam. Hanya satu dua kali dia mengajukan pertanyaan tentang perjalanan saya di China sebelum ke Korea Utara, juga tentang teman-temannya di Jakarta.

Saya jawab, perjalanan saya di Beijing dan Guangzhou baik-baik saja, dan teman-temannya di Jakarta pun baik-baik saja.

Keterangan foto dari atas ke bawah: bendera Korea Utara (pinjam dari internet), Kumsusan Memorial Palace, visa Korea Utara, salah satu poster propaganda (dari internet), dan saya bersama pemandu wisata di tempat kelahiran Kim Il Sung, Mangtongdae.

(To be Continued)

See:
Road to the North Korea
2003 Korea Utara

Posted in: CATATAN, NORTH KOREA