Uniknya Hubungan Indonesia dan Portugal

SAYA bertemu Dubes Republik Portugal Rui Carmo di resepsi Kedubes Tunisia di Jakarta beberapa waktu lalu. Kami sama-sama berdiri di barisan belakang saat acara di mulai. Bertukar sapa dan satu dua cerita ringan. Bedanya, saya pulang lebih awal. Tak lama setelah Dubes Tunisia mengucapkan selamat datang dan menyampaikan sambutan.

Hari Senin kemarin, saya mengunjungi Dubes Carmo di kantornya, Kedubes Portugal di Jalan Indramayu 2A, Menteng, Jakarta.

Hubungan Indonesia dan Portugal pasca Perang Dunia Kedua mengalami dinamika yang menarik. Portugal mengakui kedaulatan Indonesia pada 28 Desember 1949, setelah Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

Pada 1 Januari 1965 Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Portugal, sebagai bentuk solidaritas pada negara Non Blok.

Setelah revolusi Mawar Merah 1974 di Portugal yang dianggap sebagai kebangkitan demokrasi Portugal, pemerintah Orde Baru kembali membuka hubungan diplomatik dengan Portugal pada 21 Januari 1975.

Tidak lama, pada 8 Desember 1975 giliran Portugal memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia sebagai protes atas keterlibatan Indonesia dalam dinamika di Timor Leste.

Pada Januari 1999, Portugal membuka Interest Section di Jakarta, dan pada 28 Desember 1999 Portugal kembali membuka Kedubes di Jakarta, di gedung yang sama di Jalan Indramayu 2A, Menteng.

Hal lain yang kami bicarakan selain soal hubungan bilateral kedua negara, adalah soal Perang Dingin, US-China trade war, Brexit dan Uni Eropa.

Kami juga menyentuh cerita masa lalu, kolonialisasi Portugal di Asia Tenggara, dari Malaka, Maluku, dan Timor Leste.

Petualangan Ferdinand Magellan yang melengkapi perjalanan penjelajah Eropa mengelilingi dunia termasuk topik yang tak luput dari pembicaraan.

Di awal abad ke-16 Magellan dan rombongannya berangkat menuju Amerika Selatan, lalu tiba di Rio de Janeiro, Brazil, dan sempat tersesat di Rio de Plata, Argentina, sebelum akhirnya tiba di Saint Juan, dan tinggal di sana sekitar 5 bulan.

Dari St. Juan ia menyusuri selat yang kini dinamakan Selat Magellan di Chile yang membawanya ke Pasifik.

Setelah menyusuri Pasifik beberapa waktu lamanya Magellan tiba di Guam, lalu Fiipina. 21 April 1521 ia tewas dalam pertempuran melawan suku Mactan di Pulau Cebu. Pengikutnya melarikan diri ke Maluku November 1521.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s