Bertemu Nam Kyung-pil, Gubernur Gyeonggi, Korea

CgiTqTQUYAEdbpr

Halo Jakarta, halo Indonesia. Sy mau ngetwit sedikit, ttg kita dan cita2 besar membngun peradaban. *alamak.. Insya Allah tidak berat.

Sy baru kembali dr kunjungan singkat ke Korea Selatan. Disebut singkat, karna sy pulang duluan. Besok kembalikan form BACAGUB ke Demokrat.

Ke Seoul bukan jalan2, tp menghadiri Forum Jurnalis utk Perdamaian Dunia. Membahas reunifikasi dan denuklirisasi Korea.

Sbg Ketua bid Luar Negeri memimpin delegasi PWI, dan disana saya sudah menyampaikan pendapat, kepada teman2 jg Wakil Menlu Korsel.

Pendapat saya antara lain bisa dilihat di link ini:

http://m.tribunnews.com/internasional/2016/04/18/demi-perdamaian-di-korea-six-party-talk-harus-dikocok-ulang

Dr Seoul, kami ke Provinsi Gyeonggi. Nah, ini sebenarnya yg mau sy ceritakan. Dlm jamuan makan malam sy bertemu Gubernur Gyeonggi.

Nama gubernurnya, Nam Kyung-pil. Ramah, hangat dan bersahaja. Murah senyum. Kami bicara bbrp hal termasuk rencana sy ikut Pilgub Jakarta.

Gyeonggi lebih luas dr Seoul, penduduknya pun lbh banyak. Seoul sktr 10 jt, Gyeonggi hampir 13 jt. Gyeonggi mengelilingi Seoul.

Di Gyeonggi lah industri kreatif Korsel yg berbasis ICT dimatangkan. Ada Startup Campus jg ada semacam Silicon Valley disana.

Sy dan Gub Nam bicara banyk hal. Mulai dari isu keamanan Semenanjung Korea sampai pd resepnya memimpin Gyeonggi.

Dia terkesan saat sy katakan sy berkunjung berkali2 ke Korea, baik Utara maupun Selatan. Krn sbg jurnalis dan dosen HI, sy merasa ini wajib.

Sy jg mengatakan, Korsel dan kota2nya yg tumbuh pesat sejak era 1970an dan 1980an, thanks to Saemaul Undong yg diintrodusir Park Chung Hee..

..memberikan inspirasi yg tak habis2nya. Kota2 indah yg hitech tapi tidak melupakan sisi kelestarian lingkungan. Alam dan teknologi satu.

Kpd Gubernur Nam Kyung-pil sy sampaikan niat maju dalam pilkada Jakarta. Dia kaget, lalu tersenyum lebar. Melihat senyumnya saya lega.

Kata Gubernur Nam, dia kenal gubernur Jakarta yg sekarang, maksudnya Ahok, dan pernah bertemu. Menurutnya, Ahok org baik.

Katanya lagi, kalau Anda mau maju, tentu karena Anda merasa Jakarta bisa lebih baik lagi. Dan itu bagus.

Saya tanya Gubernur Nam, apa resep kepemimpinannya? Jawabnya: mau membuka hati dan mendengarkan, menjaga perasaan orang lain, dan…

…bergerak bersama tim. Tentu, akan banyak pendapat di luar sana. Itulah manfaat demokrasi. Jalan terbaik selalu membutuhkan pendapat lain.

Sepintas, hal ini jg yg berkali2 sy sampaikan terkait dgn kebijakan pembangunan Jakarta dan kekisruhan yg terjadi di sekitrnya.

Dalam demokrasi tidak boleh ada glorifikasi thdp lembaga atau individu seakan2 dia adalah aktor tunggal. Demokrasi selalu soal komunikasi..

…dan kesediaan membuka diri tanpa arogansi. Demokrasi adalah pekerjaan bersama. Bukan segelintir saja.

Kita semu tentu sdh berkali2 dengar adagium Lord Acton, power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely.

Dari Seoul saya jg sempt menyampaikan pendapt ttg akibat model pengambilan keputusan di Jakarta yg sepihak

Kembali ke Gubernur Nam Kyung-pil. Dia memberikan kartu namanya kepada saya. Ini fotonya.

Kartu nama yg luar biasa. Sy baru kali ini dapat kartu nama yg pakai huruf Braille utk tunanetra.

Sy sebut luar biasa karena itu adalah pakta dan kontrak politik yg hebat. Saya rasa huruf Braille itu bukan hanya utk yg menerima…

…tp terlebih utk dirinya sendiri. Akan mengingatkan dia ttg komitmen menjadikan Gyeonggi ramah terhadap semua warga, jg tunadaksa.

Tiap kali dia ambil kartunama utk orang, dia akan ingat janji utk menciptakan kota yg manusiawi.

Dan Gyeonggi, seperti tempat2 lain di Korsel yg saya kunjungi, nyatanya sungguh ramah pada kaum tunadaksa. Beda dgn Jakarta.

Sambil saya rasakan tekstur Braille di kartu nama Nam Kyung-pil, saya teringat kawan saya Sabar Gorky, pendaki tunadaksa berkaki satu.

Sy tak bermaksud menepuk dada rasa bangga, tp saya ikut membantu Sabar Gorky menapaki mimpinya mendaki tujuh puncak tertinggi di dunia.

Sejauh ini Sabar Gorky sdh mendaki Elbrus di Rusia, Kilimanjaro di Tanzania, Carstensz di Papua Indonesia dan terakhir Aconcagua di Argentina.

Pd ulang tahun Jakarta tahun 2014 kami membantu Sabar mendaki Tugu Monas. 20 menit naik, 10 menit turun. Pakai seutas tali.

Tekad saya bukan sekadar membantu Sabar, ttp membantu semua penyandang tunadaksa, ya di Jakarta, ya di Indonesia.

Tekad ini akan semakin mudah kalau saya ikut langsung dalam proses pembuatan kebijakan pembangunan di Jakarta. Insy Allah.

Demikianlah twit saya hari ini. Sebelum saya tutup saya sertakan foto saya dgn Gubernur Gyeonggi Nam Kyung-pil.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s