Roket Satelit Diluncurkan ke Angkasa, Suasana Pyongyang Biasa Saja

Javed Anshari berdiri dari tempat duduknya. Pria paruh baya dari Karachi ini melangkah menuju podium di ujung meja, hendak menutup diskusi.

Jumat pagi tadi waktu setempat (13/4) Javed yang adalah Sekretaris Jenderal Perhimpunan Persahabatan Pakistan-Korea memimpin diskusi tentang pembentukan gerakan solidaritas mendukung reunifikasi Korea di sebuah ruangan di lantai dua Rumah Budaya Chollima di Jalan Yonggwang, Pyongyang, Korea Utara.

Peserta diskusi telah menyepakati penggabungan dua organisasi yang selama ini mengkampanyekan gagasan reunifikasi Korea di kawasan Asia, Pasifik dan Oseania. Selain itu, organisasi yang baru dibentuk itu pun telah menyetujui sejumlah program.

Sebelum menutup diskusi yang dihadiri sekitar 40 peserta dari negara-negara di kawasan Asia, Pasifik dan Oseania, Javed menyempatkan diri membacakan sepucuk surat yang apabila disetujui peserta diskusi akan dikirimkan kepada pemimpin baru Korea Utara, Kim Jong Un.

Di dalam draft surat itu, selain disampaikan ucapan selamat kepada Kim Jong Un yang baru terpilih sebagai Sekretaris Utama Partai Pekerja Korea, juga disampaikan ucapan selamat atas peluncuran satelit Kwangmyong Song 3 ke orbit bumi.

Itulah kali pertama saya mendengar kabar bahwa satelit Kwanginyong Song 3 telah diluncurkan. Saya kira, sebagian besar dari peserta diskusi pun baru mengetahui kabar itu saat Javed membacakan draft surat untuk Kim Jong-un. Sontak suka cita diiringi tepuk tangan memenuhi ruangan.

Cuaca hari ini memang relatif lebih cerah dari kemarin. Diperkirakan faktor cuaca menjadi salah satu hal penting yang dipertimbangkan dalam peluncuran.

Telah beberapa pekan terakhir, roket dan satelit Kwangmyong Song 3 yang diluncurkan dari Tongchang-ri di barat laut Korea Utara itu, menuai kontroversi. Negara-negara Barat menduga bahwa peluncuran ini adalah bagian dari uji coba misil balistik jarak jauh yang dapat menghancurkan kota-kota penting, tidak hanya di selatan Semenanjung Korea dan Okinawa, Jepang, yang menjadi basis militer Amerika Serikat, tetapi juga bisa mencapai kapal-kapal perang Amerika Serikat di Samudera Pasifik.

Bagi negara-negara Barat, terutama tentu saja Amerika Serikat, peluncuran “roket yang mencurigakan” itu disebut sebagai tindakan provokasi dan dapat memanaskan suhu di Semenanjung Korea dan kawasan Asia Timur.

Sementara pihak Korea Utara bersikukuh mengatakan bahwa peluncuran roket ini merupakan bagian dari upaya mereka melepaskan satelit ke orbit bumi. Korea Utara mendambakan independensi dalam bidang komunikasi, dan untuk itu mereka merasa harus memiliki satelit. Bukan hanya memiliki, mereka juga merasa harus mengontrol seratus persen satelit yang mereka miliki itu.

Untuk membuktikan itikad ini, pemerintah Korea Utara bersedia membuka pintu, bukan saja untuk para ahli ruang angkasa dan teknologi informasi dari berbagai negara, tetapi juga media massa asing yang selama ini memiliki ketertarikan yang luar biasa bukan hanya terhadap rencana peluncuran roket, melainkan terhadap semua aspek kehidupan di balik tembok maya Korea Utara.

Hotel Yanggakdo Internasional yang berada di sebuah pulau kecil di tengah Sungai Taedong yang membelah Pyongyang sudah sepekan menjadi semacam markas besar korps jurnalis dunia. Halaman belakang hotel dijadikan stasiun pelaporan bersama. Sebuah perangkat canggih milik Associated Press disusun sedemikian rupa di depan Restoran Korea di bagian belakang lobi hotel.

Sampai akhirnya roket itu diluncurkan Jumat pagi.

Keluar dari Rumah Budaya Chollima saya menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Bukan karena terjadi kepanikan di tengah kota setelah roket diluncurkan, juga bukan karena pesta menyusul peluncuran roket yang dilakukan pukul 7.50 pagi waktu Pyongyang. Tetapi karena pemandangan yang biasa-biasa saja. Tidak ada kepanikan, tidak ada pesta pora, seperti yang dibayangkan banyak orang akan terjadi di Pyongyang setiap kali menonton atau membaca berita tentang peluncuran satelit Kwanginyong Song 3.

Pyongyang biasa-biasa saja. Semua delegasi asing yang berkumpul di hotel Yanggakdo pun bersikap biasa-biasa saja. Begitu juga dengan korps jurnalis asing yang berada di bagian belakang hotel. Air muka mereka terlihat cerah setelah sekian lama menahan ketegangan.

Roket yang dijadikan kontroversi itu telah diluncurkan ke angkasa, walau informasi selanjutnya mengatakan ia hanya dapat bertahan beberapa menit sebelum meluncur jatuh menghempas bumi. Sejauh ini ketakutan, atau apa yang disebut dunia Barat sebagai ancaman dari Korea Utara tidak terbukti adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s