Ketika Indonesia Dipukul Bahrain 0-10

Tiba-tiba terdengar teriakan Papa dari dalam kamarnya. Aku yang sedang mengetik sebuah laporan di kamar adikku yang berada persis di seberang kamar Papa berlari mendatanginya. Di depan televisi di dalam kamarnya, Papa terduduk sambil menggaruk-garuk kepala.

“Lihat, lawan Bahrain kita sudah ketinggalan 0-7,” katanya dengan nada gemas.

Indonesia tengah menghadapi tuan rumah Bahrain dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2014 untuk zona Asia.

Tak lama, sebuah gol kembali menghujam gawang Indonesia. Aku kembali ke kamar untuk meneruskan tulisan yang sempat tertunda tadi.

Foto Partich Wanggai dan Velix Wanggai bersama tim redaksi Rakyat Merdeka Online.

Dari kamar adikku masih terdengar teriakan Papa. Gol ke-9 untuk Bahrain. Lalu, gol ke-10 beberapa saat sebelum terdengar suara peluit panjang tanda babak kedua usai.

Aku baru menyelesaikan tulisanku itu. Dan setelahnya merenung-renung sebentar soal pesta gol di Bahrain yang barusan terjadi.

Pekan lalu kami kedatangan tamu. Namanya Patrich Wanggai. Salah seorang penyerang Timnas U-23 yang berlaga di SEA Games barusan itu “diantar” ke kantor kami oleh Staf Khusus Presiden bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah, Velix Wanggai, yang masih terhitung pamannya.

Patrich memang pernah berjanji akan mengunjungi kantor kami bila ia berada di Jakarta. Tadinya, kunjungan itu direncanakan awal Februari. Tapi baru bisa dilaksanakan pada pertengahan bulan.

Tanggal 29 Januari yang lalu kami memberikan penghargaan kepada “Trio Papua”, Patrich Wanggai, Titus Bonai dan Okto Maniani yang bersama pemain-pemain Timnas U-23 lainnya bermain gemilang dan berhasil mendapatkan medali perak setelah ditekuk Malaysia dalam SEA Games XXVI barusan.

Trio Papua tidak bisa hadir ketika penghargaan diserahkan di Balai Sudirman. Sebagai gantinya, mereka diwakili oleh Velix Wanggai. Sebagai balasan pada kesempatan yang sama, Tri Papua menitipkan sebuah lukisan bermotif Papua yang disampaikan Velix Wanggai kepada saya.

Dalam pertemuan di kantor itu, kami membicarakan banyak hal, termasuk tentu saja masa depan sepakbola Indonesia.

Gaya hidup hedonisme adalah salah satu tantangan utama pemain-pemain muda berbakat yang dimiliki Indonesia, di samping sudah barang tentu pembinaan sepakbola yang tak kunjung menemukan performa terbaik.

Bayangkan saja, kekalahan 0-10 dari Bahrain terjadi di saat segelintir orang tengah memperebutkan kursi ketua PSSI. “Perebutan kekuasaan” seperti itu tentu hal yang biasa dan barangkali dapat diamini sebagai sesuatu yang sudah pada tempatnya dan seharusnya.

Tetapi bila kita membandingkan keributan di jajaran pengurus PSSI dengan prestasi sepakbola yang kembang kempis sah-sah saja bila kita mengaitkan kedua hal itu memiliki hubungan sebab-akibat.

Karena bukan pengamat bola dan hanya pernah menjadi penjaga gawang di jurusan Ilmu Pemerintahan Unpad angkatan 1994, saya tak akan masuk terlalu dalam ke persoalan pembinaan dan prestasi sepakbola Indonesia. Cukuplan sampai disini. Dan semoga cukuplah kali ini kita dicukur 0-10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s