Apa Gunanya Membicarakan Kembali Kondisi Mayat Pahlawan Revolusi?

Membicarakan kembali peristiwa yang terjadi pada dinihari 1 Oktober 1965 dan pembunuhan massal yang mengikutinya tidak dimaksudkan untuk mengoyak luka lama republik ini.

Dus, membicarakan kembali hasil visum et repertum lima dokter yang ditugaskan RSPAD atas perintah Pangkotrad/Pangkokamtib Mayjen Soeharto terhadap tujuh mayat Pahlawan Revolusi juga tidak dimaksudkan untuk menegasi peristiwa penculikan diikuti pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Gerakan 30 September yang dipimpin Letkol Untung.

Sudah pasti bahwa penculikan dan pembunuhan itu berada jauh di luar batas-batas kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan oleh standar moral apapun.

Satu hal yang ingin digarisbawahi adalah pembicaraan kembali mengenai hal ini dan hal-hal lain yang menyertainya ditujukan bagi upaya untuk mengingatkan kita semua pada catatan kelam di masa silam. Dengan mengingat kekelaman itu, diharapkan kita semua mau bekerja keras untuk menjaga dan merawat republik ini, agar tidak kembali ke masa dimana negara gagal dan terlihat enggan melindungi warganegara. Sebuah zaman ketika hukum menyentuh titik nadir.

Sudah beberapa tahun terakhir nama dr. Lim Joe Thay pun terpaksa dikaitkan hampir setiap kali hal ihwal mengenai mayat ketujuh Pahlawan Revolusi itu dibicarakan. Ini terjadi karena ia adalah satu dari lima dokter yang mengautopsi mayat Jenderal Ahmad Yani dan lima perwira tinggi dan seorang perwira muda TNI AD. Dokumen visum et repertum itu seakan lenyap ditelan bumi segera setelah autopsi dilakukan.

Di era 1980an dokumen itu pernah diulas Indonesianis Ben Anderson. Tapi ia tak benar-benar bisa menyentuh ruang publik di tanah air. Dokumen itu hanya menjadi pembicaraan kaum klandestein yang terus bertanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi dinihari 1 Oktober itu.

***

Visum et repertum itu benar-benar menjadi pembicaraan publik secara luas setelah pada 2007 lalu dr. Lim kembali “dipertemukan” dengan dokumen tersebut. Di usianya yang semakin senja ia masih mengingat dengan baik detil yang mereka lakukan antara sore hari 4 Oktober hingga lewat tengah malam 5 Oktober 1965.

Penyakit jantung dan usia tua yang menemani hari-hari terakhirnya membuat dr. Lim kehilangan kemampuan untuk membicarakan kembali pengalaman dirinya dan kawan-kawannya selama delapan jam menekuni inci demi inci tubuh mayat para Pahlawan Revolusi di RSPAD.

Tetapi sinar mata dan air matanya memberikan isyarat kuat bahwa ia masih menyimpan peristiwa itu dengan rapi dalam kenangannya.

Dr. Lim meninggal dunia Selasa lalu (22/11). Menurut menantunya, Maria Fatimah Rahayu, ia meninggal dalam keadaan tidur, dan tidak meninggalkan satu pesan apapun untuk pihak keluarga.

Maria adalah istri dari putra pertama dr. Lim, dr. Stephanus Kurniadi yang telah lebih dahulu meninggal dunia di tahun 2003. Dari pernikahan dengan dr. Stephanus, Maria memperoleh dua orang anak. Sepeninggal dr. Stephanus ia memilih ikut merawat dr. Lim.

Dr. Lim, istrinya, Maria dan kedua anaknya tinggal bersama di sebuah rumah di Jalan Johar VII, Jakarta Pusat.

Maria masih sempat bertemu dengan dr. Lim beberapa menit sebelum dr. Lim meninggal dunia. Saat itu ia baru tiba di rumah, sekitar pukul 19.00 WIB. Ketika itu dr. Lim sedang minum susu di kursi rodanya.

“Saya ledekin. Saya tanya itu susu diminum atau hanya dimainkan. Lalu Bapak bilang kepalanya pusing dan minta diantar suster masuk ke kamar,” cerita Maria.

“Tidak ada penyebab khusus. Bapak meninggal dalam keadaan tidur. Tidak ada pesan terakhir,” sambungnya.
Tak lama kemudian, Maria masuk ke kamar hendak memeriksa keadaan dr. Lim. Saat itulah ia menemukan tubuh dr. Lim sudah dingin. Mereka memanggil tetangga yang kebetulan adalah seorang dokter. Setelah dipastikan meninggal dunia jenazah dr. Lim dibawa ke St. Carolus.

Rabu pagi, sekitar pukul 10.00 WIB, usai misa tutup peti, jenazah dr. Lim disemayamkan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta. Adalah Pembantu Dekan FKUI Prof. Pratiwi Sudarmono yang menerima jenazah dr. Lim.

Usai disemayamkan di FKUI jenazah dr. Lim dibawa ke krematorium di Cilincing.

Maka demikianlah. Satu lagi saksi mata sejarah yang begitu penting bagi republik ini telah menghadap penciptanya. Semogalah kita semua dapat memetik pelajaran penting dari apa yang dikerjakan dr. Lim dan kawan-kawannya.

One thought on “Apa Gunanya Membicarakan Kembali Kondisi Mayat Pahlawan Revolusi?”

  1. Apa gunanya membicarakan kondisi para korban revolusie ?

    Agar kita lebih melek, lebih cermat, teliti mendapatkan informasie2,baik lewat koran, majalah, atau media .Berita yang direkayasa itu mebuat kita lebih biadab bertindak daripada tentara ( cakrabirawa ) yang membunuh jendral kita itu. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.Berita2 yang menghasut, itu memicu kita ke arena yang membahayakan kehidupan manusia. Sampai sekarngpun kita masih percaya ( dasar rasioneel kita masih jauh dari normal) bahwa kematian jendral2 kita itu setelah ditembak, disiletin kemaluannya oleh gerwani/pki,sambil dansa2.Padahal kejadiannya bukan demikian. Aneh kan kita ini sebagai bangsa yang beradab katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s