Andi Arief: Yugoslavia dan Indonesia Jelas Beda

Spekulasi yang menyebut Indonesia berpeluang mengalami nasib seperti Yugoslavia didasarkan pada pandangan sempit yang mengabaikan faktor kultural masyarakat yang menginginkan harmoni dan stabilitas.

Demikian disampaikan Andi Arief, salah seorang staf khusus Presiden SBY kepada Rakyat Merdeka Online Sabtu petang, (23/7). Hal ini disampaikannya untuk mengomentari pernyataan Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Trias Kuncahyono, dalam seminar di Seminari Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu siang.

Konflik di kawasan Balkan atau Yugoslavia memiliki akar yang panjang, sejak masa Turki Usmaniah. Di masa itu umat Muslim Bosnia diuntungkan. Ketika Josep Broz Tito berkuasa pada 1953 keadaan berubah. Agama dipinggirkan dan diganti dengan paham sosialis/komunis. Keadaan ini bertahan sampai Blok Timur goyah menjelang 1990-an.

Orang-orang Serbia yang umumnya Katolik membalas dendam pada kelompok di era Perang Dunia II mendukung Nazi Jerman. Di antaranya, Kroasia yang umumnya Kristen dan Bosnia yang umumnya Muslim.

“Faktor agama sangat kental. Padahal secara rasial mereka sama saja. Cuma Serbia adalah Ortodoks, Kroasia adalah Katolik, dan Bosnia adalah Islam,” ujar Andi.

Dengan demikian, sambungnya, mengatakan Indonesia bisa mengarah ke proses balkanisasi adalah analisis yang berlebihan dan seringkali menjadi dagangan kaum tertentu.

“Coba tanya balik, dimana ada balkanisasi ketika Muslim mayoritas? Tidak ada. Kasus Darfur yang terjadi belakangan ini pun bukan balkanisasi, melainkan separatisme seperti kasus Timor Leste,” ujar Andi yang di era 1990-an menjadi salah seorang motor penggerak pro kemerdekaan Timor Leste.

Masih katanya, memang ada upaya balkanisasi di Indonesia. Tetapi, dia mengingatkann konon hal itu dilakukan pihak asing yang ingin membuat jalur langsung dari Filipina ke Timor Leste.

One thought on “Andi Arief: Yugoslavia dan Indonesia Jelas Beda”

  1. Pandangan masyarakat kecil pada umumnya tidak muluk-muluk, asal kebutuhan sandang dan pangannya dapat dipenuhi dengan mudah, dan kebebasan menjalankan perintah-perintah agamanya dapat diperoleh, biasanya mereka akan tunduk tidak peduli siapa dan apa bentuk pemerintahan negara yang ada. Oleh karena itu jika pemimpin-pemimpin kita menginginkan negara kita ini utuh, maka ia harus sungguh memikirkan dan memenuhi hal tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s