Andai Saja Semua Pemuka Agama Belajar Pluralisme Sejak Dini

Pendidikan pluralisme dibutuhkan para calon pemimpin umat untuk menumbuhkan sikap toleransi, saling pengertian, dan pembangunan karakter bangsa. Selain tentu saja dibutuhkan untuk memperkuat pondasi kebangsaan Indonesia.

Langkah ini disadari sebagai cara yang bijak dan tepat untuk membentuk masyarakat yang berbhinneka, berbudaya dengan tetap menjunjung perbedaan yang ada.

Demikian hasil kesimpulan seminar kebangsaan dengan tema “Penghayatan Panggilan Imamat dengan Semangat Pluralis” di Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang. Hadir sebagai pembicara adalah Zuhaeri Misrawi (Cendekiawan NU dan Chairman Moderate Muslim Society), Teguh Santosa (Pemred Rakyat Merdeka Online dan Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (Anggota Komisi II DPR RI), Markus Kurniawan Hidayat (Tokoh Masyarakat, GKI Taman Yasmin, Bogor) dan Trias Kuncahyono (Wapemred Harian Kompas). Sementara Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta, Maryatmo bertindak sebagai moderator.

Dalam penjelasannya, Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Sumarya SJ, seminar ini diadakan dalam rangka 100 tahun Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan Magelang yang jatuh pada tahun 2012. Sebagai sekolah yang mengkhususkan diri mendidik para calon romo, pemuka agama Katolik, dipandang perlu untuk mempersiapkan anak didik berwawasan pluralisme.

Ini dianggap penting untuk menghadapi era baru dimana pluralisme adalah suatu value yang harus dipelihara dan dijaga.

Dengan demikian, Sumarya SJ menjelaskan, para calon pastor masa depan dapat membawa umatnya ke suatu sikap toleransi, saling pengertian di antara agama-agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia. Sikap saling memahami, toleransi tentu akan menjaga kebhinekaan, keberanekaragaman yang merupakan nilai luhur Indonesia, sebagaimana ditanamkan oleh para pendiri negara ini.

Sumarya SJ yang sebelumnya adalah rektor SMA Kolese Kanisius, Jakarta ini, melihat bahwa jika seluruh calon pemuka agama-agama di Indonesia mendapatkan pendidikan pluralisme sejak dini, konflik horisontal yang berlatarbelakang agama dapat dihindari.

Masa depan Indonesia, demikian Sumarya, yang damai, tentram dan bersatu akan menjadi harapan kita semua dengan tumbuhnya nilai pluralisme dalam diri para pemuka agama, yang sekarang dalam masa pengkaderan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s