Empat Pencari Nazaruddin Jadi Stateless di Singapura

Empat dari lima warga negara Indonesia di Singapura yang sejak Selasa lalu mencari mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin, kini berstatus tanpa kewarganegaraan alias stateless.

Para aktivis anti korupsi itu adalah Sarman El Hakim, Adnan Balfas, M. Egi Sabri, dan Dendi Satrio.

“Hal ini terjadi karena staf KBRI secara arogan tetap menolak kami memasuki halaman, padahal perintah Komisi I melalui Helmi Fauzi, bahwa semua aktivis harus menunggu pengembalian paspor dengan tinggal di KBRI. Apakah kami harus melompat pagar memasuki kedutaan lain di Singapura,” gugat mereka dalam pesan singkat yang dikirimkan dari telepon genggam Adnan Balfas ke Rakyat Merdeka Online dari Singapura, Sabtu (18/6).

Sedangkan satu orang rekan mereka. Tommy Diansyah, sudah dipulangkan oleh polisi Singapura dan sudah tiba di Indonesia tadi malam. Sebelumnya pada Jumat pagi kemarin (17/6), Tommy diutus teman-temannya ke kantor polisi Tanglin untuk mencari tahu apakah paspor mereka sudah bisa diambil. Tommy pergi sebagai volunteer.

Kelima sekawan itu berangkat dari Batam, Kepualauan Riau, dan tiba siang hari di Singapura hari Selasa lalu (14/6). Pada petang harinya mereka menuju KBRI di Chatsworth Road. Mereka minta dukungan dari KBRI di Singapura, dan berencana membuka posko pencarian Nazaruddin di KBRI. Tentu saja KBRI menolak permintaan itu dan mengusir mereka keluar. Menurut KBRI mereka melaksanakan misi diplomatik, bukan misi penangkapan.

Tommy dkk memilih bertahan dan tidur di luar pagar Keduataan. Berbagai spanduk yang mereka bawa dari Batam digelar. Rabu pagi, pihak KBRI kembali berusaha mengusir mereka. Rabu siang pihak KBRI menghubungi dan memanggil polisi Singapura. Dalam waktu singkat, enam sedan polisi tiba di KBRI dan membawa kelima sekawan itu ke kantor polisi di Tanglin. Di kantor polisi itu, paspor mereka ditahan, dan mereka pun dibawa ke sebuah hostel di Jalan Besar.

Dari mulut polisi Singapura yang menginterogasi mereka, terungkaplah bahwa penangkapan dan penahanan paspor mereka atas perintah KBRI.

“Intinya mereka bilang, KBRI lah yang minta mereka (polisi Singapura) menangkap kami. Tetapi polisi Singapura pun tahu kami tak melakukan kesalahan apa-apa. Jadi mereka juga bingung mau menangkap dengan pasal apa,” aku Tommy Diansyah yang saat di perjalanan ke Tanah Air sempat diikuti dua orang tidak dikenal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s