Mengenang Pesan Rosihan Anwar untuk Presiden SBY yang Sedang Menimbang Cicak-Buaya dan Centurygate

Sepekan telah berlalu. Tubuh wartawan senior Rosihan Anwar kini terbaring damai dalam dekapan TMP Kalibata, di Jakarta Timur. Lahir di Kubang Nan Dua, Sirukam-Solok, pada 10 Mei 1922, Rosihan yang juga dikenal sebagai tokoh pergerakan di zaman revolusi kemerdekaan, menghembuskan nafas terakhir pada 14 April 2011.

Setelah sarapan pagi hari itu, Rosihan mengeluhkan jantungnya yang mendadak nyeri tak tertahankan. Ia kehilangan kesadaran dan segera dievakuasi ke rumah sakit. Kerabat memperkirakan Rosihan menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan dari rumahnya di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat menuju RS Metro Medical Center (MMC) di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Beberapa waktu belakangan sebelum meninggal dunia Rosihan kerap mengeluhkan kesehatannya yang terus menurun. Sehari sebelum meninggal dunia, Rosihan baru kembali dari perawatan pasca operasi jantung di RS Harapan Kita, Jakarta.

Pertengahan Januari lalu saya mengujungi Rosihan Anwar dan meminta kesediaan wartawan segala zaman ini untuk menerima anugerah “Journalism Lifetime Achievement” dari Rakyat Merdeka Online.

Rosihan baru selesai makan malam ketika saya dan seorang teman tiba di rumahnya. Mengenakan kaos putih dan celana pendekia menemui kami di teras rumah yang asri. Tangan kiri Rosihan ditopang gendongan penyanggah biru.

“Tulang tangan saya ngilu sekali. Pengapuran,” Rosihan Anwar menjelaskan.

Singkatnya, Rosihan berkenan dan berjanji hadir untuk menerima penghargaan pada malam pergelaran Man of the Year di Jakarta Media Center, 27 Januari 2011.

Selain untuk Rosihan, anugerah Journalism Lifetime Achievement juga kami berikan kepada Herawati Diah, istri almarhum BM Diah, pendiri Harian Merdeka, mantan Menteri Penerangan dan Dutabesar RI.

Pada pertemuan itu, Rosihan juga sempat bercerita tentang novel percintaan yang sedang ditulisnya. Ia dan istrinya, Siti Zuraida, adalah tokoh utama dalam novel yang memang bercerita tentang kisah cinta mereka.

“Ini bukan novel romansa biasa. Tidak akan jadi roman yang cengeng,” katanya berjanji.

Siti Zuraida meninggal dunia beberapa bulan lebih awal, pada 5 September 2010. Pasangan ini dikarunia tiga orang anak dan beberapa cucu.

Rosihan Anwar dan Zuraida bertemu pertama kali pada bulan Februari 1946 di Gedung Sono Bu­doyo Solo, di tengah arena kongres wartawan yang mela­hir­kan Persatuan Wartawan Indone­sia (PWI). Cerita itu pernah disampaikan Rosihan empat tahun lalu di sebuah seminar mengenai Tan Malaka di Gedung Joang, Jakarta Pusat. Apakah ada hubungan antara Rosihan Anwar, Siti Zuraida dan Tan Malaka?

Menurut cerita Rosihan Anwar, di Sono Budoyo itulah untuk pertama kali dirinya bertemu Zuraida dan Tan Malaka. Zuraida yang ketika itu bekerja sebagai sekretaris di Kedaulatan Rakyat tiba bersama Pimred Kedaulatan Rakyat dan, ini yang tak diduga sebelumnya, Tan Malaka, sang Pacar Merah Republik.

Mengenakan pakaian hitam-hitam dan topi helm hijau, Tan Malaka berbicara di atas podium tentang materialisme, dialektika dan lo­gika. Tak kurang dari empat jam, tanpa teks.

Itu adalah pertemuan pertama dan terakhir Rosihan dengan Tan Malaka.

Setelah menikah dengan Zuraida, salah satu pertanyaan yang kerap dia ajukan Rosihan kepada Zuraida adalah tentang sosok Tan Malaka. Dan dari mulut Zuraida, Rosihan Anwar mendapat kesan betapa Tan Malaka adalah seorang yang memiliki pemikiran begitu dalam, tenang, juga humanis.

Sudah barang tentu, menurut Rosihan Anwar, fragmen pertemuan pertama antara dirinya dengan Zuraida (dan Tan Malaka) akan dia tuliskan dalam novel itu.

Rosihan Anwar sungguh berharap pengapuran di tangan kiri tidak menghalangi dirinya menyelesaikan novel itu secepat mungkin. Karena pengapuran itu Rosihan terkadang harus mengetik dengan satu tangan, atau terkadang dengan tulis tangan sebelum diketikkan oleh salah seorang kerabatnya.

***

Belasan wartawan menemani delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Perdana Menteri Moh. Hatta ke Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Negeri Belanda, Desember 1947.

Rosihan Anwar dan Siti Zuraida yang baru menikah ikut di dalam rombongan bersama beberapa wartawan lain, yakni BM Diah dan istrinya, Herawati (Merdeka); Sukrisno (Antara), Adinegoro dan istri (Mimbar Indonesia); Wonohito (Kedaulatan Rakyat); Mohammad Said (Waspada); Kwee Kek Beng (Sin Po); Ir Pohan (Spektra); RM Sutarto (Berita Film); dan EU Pupella (Ambon).

Sebagai anak pribumi yang lahir di zaman kolonial, Rosihan Anwar beruntung. Ayahnya, Anwar Maharaja Sutan, adalah seorang demang di Padang. Ini adalah posisi penting dalam kelas priyayi di zaman itu. Dan karenanya, Rosihan mendapat kesempatan untuk mengecap pendidikan yang lebih baik dibandingkan dengan kebanyakan anak pribumi di tanah kelahirannya. Ia menyelesaikan pendidikan di HIS Padang pada 1935 dan MULO Padang pada 1939.

Di zaman Jepang, ia melanjutkan pendidikan ke AMS-A II di Jogjakarta pada 1942. Inilah masa-masa ketika ia mulai bersentuhan dengan gagasan nasionalisme dan kemerdekaan Indonesia. Rasa kebangsaan itu semakin dalam manakala Rosihan Anwar menceburkan diri ke dalam dunia kewartawanan.

Karier jurnalistik Rosihan Anwar dimulai sebagai reporter Asia Raya pada tahun 1943. Antara 1947 hingga 1957 ia menjadi pemimpin redaksi Siasat dan di saat bersamaan menjadi pemimpin redaksi Pedoman (1948 hinga 1961). Antara 1968 hingga 1974 Rosihan Anwar memimpin Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tak hanya di dunia jurnalistik, Rosihan juga aktif di dunia perfilman. Pada 1950 ia dan Usmar Ismail mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini). Di tahun itu juga Rosihan mengikuti workshop drama di Universitas Yale, AS. Dan pada 1954 dia mendapat kesempatan menuntut ilmu di School of Journalism, Columbia University New York, AS.

Empat tahun sebelum menerima Journalism Lifetime Achievement dari Rakyat Merdeka Online, pada 2007 Rosihan Anwar juga Herawati Diah menerima anugerah yang sama dari PWI.

***

Pagi hari, 27 Januari 2011, Rosihan Anwar menghubungi saya. Di ujung sana suaranya terdengar menahan rintih. Rosihan minta maaf karena mendadak tangannya sakit sekali dan dia harus bertemu dokter hari itu juga. Dia sangat khawatir tidak akan bisa hadir seperti yang dia janjikan.

Kepada Rosihan, saya menyampaikan bahwa Herawati Diah juga tidak bisa hadir di malam penyerahan penghargaan karena lebih dahulu berjanji hadir di kantor LKBN Antara di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sebagai wakil, Herawati mengirimkan Tribuana Said. Mendengar itu, Rosihan Anwar berkata dia pun akan meminta Tribuana Said untuk mewakili dirinya.

Maka begitulah, pada malam harinya, di hadapan tamu dan undangan saya menyampaikan permohonan maaf dari dua jurnalis senior yang tidak bisa hadir itu. Tak lupa saya juga menceritakan pembicaraan saya dengan Rosihan Anwar dan sakit yang dideritanya.

Tribuana Said pun menjadi satu-satunya yang menerima dua penghargaan di acara itu. Satu untuk Herawati Diah dan satu lagi untuk Rosihan Anwar.

Acara Man of the Year 2010 itu dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, seperti Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan, Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi, Kalakhar Bakorkamla Laksdya Didik Heru Purnomo. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan politisi Partai Hanura Akbar Faisal pun hadir. Begitu juga dengan tokoh oposisi DR. Rizal Ramli dan Jurubicara Gerakan Indonesia Bersih Adhie Massardi. Oh ya, Kapten Kesebelasan Indonesia dalam ajang AFF 2010 Firman Utina yang baru menjalani operasi di lutut kirinya pun menyempatkan diri datang.

Dalam artikel di mingguan CR edisi yang terbit kemudian, Rosihan Anwar menuliskan apresiasinya atas penghargaan yang diberikan Rakyat Merdeka Online itu. Rosihan juga menulis, tadinya dia kira akan mendapatkan angpao mengingat penyelenggaraan Man of the Year berdekatan dengan Imlek.

Ah, untuk bagian yang ini saya kira Rosihan Anwar hanya bercanda.

***

Salah seorang tokoh yang hadir di rumah duka adalah Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono. Usai memberikan penghormatan terakhir, kepada wartawan SBY menyampaikan apresiasi yang begitu tinggi.

“Beliau tetap kritis. Saya mengenal beliau. Beberapa kali beliau kritis terhadap saya. Tapi kami bersahabat,” kata SBY.

Salah satu kritik itu, sebut SBY, disampaikan Rosihan di Istana Negara. Rosihan Anwar, kenang SBY, menyampaikan pandangan yang kritis, penuh tanggung jawab dan didasarkan pada niat yang baik.

Pertemuan di Istana Negara yang dimaksud SBY adalah pertemuan antara dirinya dengan pimpinan media massa nasional pada malam hari, Minggu, 22 November 2009. Itu adalah kali pertama SBY membuka mulut, memberikan komentar mengenai dua kasus besar yang tengah bergulir dan membuat suasana begitu hiruk pikuk. Pertama, kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melawan Polri yang lebih populer dengan istilah “cicak lawan buaya” dan kedua, skandal danatalangan untuk Bank Century yang membengkak menjadi Rp 6,7 triliun.

Sampai malam itu, perhatian publik dan masyarakat umumnya tertuju pada kisruh cicak lawan buaya. Ketika itu, Mabes Polri telah menetapkan dua pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah sebagai tersangka dalam kasus kasus suap. Adapun Tim 8 yang dibentuk Presiden SBY untuk mengusut perkara ini tidak menemukan bukti yang cukup kuat untuk mendukung tuduhan Polri itu. Tim 8 diketuai oleh Adnan Buyung Nasution yang ketika itu masih menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (demisioner). Sementara di luar pagar, berbagai kelompok masyarakat sipil menggalang aksi dukungan untuk KPK, Bibit dan Chandra.

Masyarakat sipil umumnya curiga Polri menjadi alat kekuasaan untuk mengkerangkeng KPK yang berniat membongkar korupsi IT Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam Pemilu 2009 dan skandal danatalangan Bank Century yang melibatkan mantan Gubernur BI Boediono yang telah “naik pangkat” jadi Wapres, dan Menteri Keuangan ketika itu, Sri Mulyani Indrawati. Dengan demikian, bagi masyarakat sipil, melindungi KPK serta mengeluarkan Bibit dan Chandra dari ruang tahanan harus dilakukan untuk bisa masuk ke kasus lain yang jauh lebih besar dan melibatkan pejabat negara yang jauh lebih tinggi dan berkuasa.

Karena perhatian pimpinan media tertuju pada kisruh cicak lawan buaya, maka semua pertanyaan dan komentar yang disampaikan di hadapan SBY pun berkaitan dengan kasus itu. Umumnya, pimpinan media massa menyayangkan penangkapan Bibit dan Chandra beserta tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Beberapa pimpinan media yang mendapat kesempatan bicara juga meminta SBY mencari jalan keluar yang elegan.

Kepada SBY yang malam itu didampingi sejumlah menteri, Rosihan Anwar mengatakan dirinya prihatin karena banyak orang Indonesia yang tersandera dan tertawan oleh pola pikir legal formal. Padahal, menurut Rosihan Anwar, dari perspektif sejarah bangsa Indonesia tidak memiliki attitude untuk legal formal.

“Tetapi sekarang kita lihat, bukan main bergejolaknya pola pikir legal formal. Buktinya, ada istilah fakta hukum, proses hukum, koridor hukum, prosedur hukum. Dan itu semua menurut tafsiran masing-masing,” ujar Rosihan.

Apakah tidak saatnya, tanya Rosihan Anwar, kita keluar dari jebakan pola pikir ini untuk kepentingan yang lebih luas.

“Dan adalah tugas presiden untuk membawa kita keluar dari pikiran legal formal itu,” ujarnya lagi.

Rosihan Anwar juga mengingatkan SBY pada sebuah pertemuan antara dirinya dengan SBY di Cikeas tanggal 11 Juli 2009, beberapa hari setelah hasil perhitungan cepat menyebut SBY menang dalam Pilpres 2009.

Dalam pertemuan itu, kenang Rosihan Anwar, dirinya mengatakan kepada SBY bahwa dengan kemenangan itu SBY menjadi pemimpin yang begitu berkuasa dan omnipoten atau bisa segala.

“You can make it, or you can break it,” ujar Rosihan Anwar lagi mengingatkan.

***

Bagi saya yang juga hadir dalam pertemuan di Istana Negara itu, pembicaraan mengenai kisruh cicak lawan buaya bukanlah hal yang paling penting untuk dibicarakan. Sebelum menghadiri pertemuan, saya sudah menduga bahwa at the end SBY akan mengambil jalan tengah yang win-win solution walaupun tak jarang dengan sedikit maksa dan berlebihan. Bukankah itu gaya khas SBY?

Dugaan saya terbukti benar. Bahkan ketika menyambut tamu-tamunya, SBY dengan panjang lebar menguraikan kisruh cicak lawan buaya dan keprihatinannya yang mendalam terhadap kisruh antara dua lembaga penegak hukum itu. SBY juga mengatakan tengah mempertimbangan jalan keluar yang elok di luar sistem hukum dan peradilan. Dia menggunakan istilah out of court settlement yang disampaikannya beberapa kali malam itu.

Sementara mengenai skandal danatalangan Bank Century, di awal sekali SBY menegaskan bahwa kabar yang mengatakan dirinya, keluarganya dan Partai Demokrat menerima aliran danatalangan adalah tidak benar.

SBY menegaskan siap mendukung rencana DPR membentuk Panitia Khusus DPR bila itu memang langkah paling baik.

“Selama ini saya menghormati Badan Pemeriksa Keuangan yang sedang melakukan audit investigatif seperti yang diminta DPR,” kata SBY lagi menjelaskan mengapa sebelum itu dia tak mau berkomentar soal skandal danatalangan Bank Century.

Hal lain yang juga penting digarisbawahi dari penjelasan SBY malam itu adalah tentang dimensi tanggung jawab di balik danatalangan tersebut. Menurut SBY, ada yang harus dipertanggungjawabkan BI, Kementerian Keuangan, serta komisaris dan direksi Bank Century.

“Siapapun yang bertanggung jawab, harus bisa menjelaskan. Yang berbuat kriminal, harus mendapatkan hukuman yang adil,” ujar SBY.

Saat SBY menyampaikan pernyataan itu, proses hukum baru bisa menyentuh komisaris dan direksi Bank Century. Pada Agustus 2009 mantan Direktur Utama Bank Century Hermanus Hasan Muslim divonis tiga tahun penjara karena terbukti menggelapkan dana nasabah sebesar Rp 1,6 triliun. Sebulan kemudian, giliran Robert Tantular, salah seorang pemegang saham, dijatuhi hukuman 40 tahun penjara dan denda Rp 50 miliar.

Dengan demikian, dari tiga wilayah tanggung jawab yang disebutkan SBY itu, baru satu wilayah yang sudah jelas duduk perkara dan konsekuensi hukumnya, yakni perkara yang berkaitan dengan direksi dan komisaris Bank Century.

(Mantan) Gubernur BI Boediono yang menggelontorkan danatalangan berupa Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) dari BI dan mengusulkan bailout pada Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), berserta Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyetujui penggelontoran danabantuan yang kemudian membengkak menjadi Rp 6,7 triliun itu masih belum tersentuh hukum sama sekali.

“Saya ingin dibikin terang, seterangng-terangnya, makin terang, makin diketahui duduk persoalannya. Sehingga sirna desas-desus yang menurut saya terlalu jauh dan tidak memiliki kebenaran,” demikian SBY.

***

Ketika menyimak pernyataan Presiden SBY di rumah duka, beberapa jam sebelum jenazah Rosihan diantarkan ke TMP Kalibata, saya mengenang kembali pertemuan antara SBY dan pimpinan media massa nasional di bulan November 2009. Dalam pertemuan itu, seperti yang disampaikan SBY, Rosihan Anwar menyampaikan kritik terbuka kepada dirinya.

Tetapi kritik Rosihan agar SBY keluar dari pikiran legal formal, tidak berarti apa-apa. Awal Maret 2010, setelah DPR menyimpulkan bahwa danatalangan untuk Bank Century melanggar sejumlah aturan hukum dan perundangan, serta menyerahkan kasus ini ke ranah hukum, SBY malah pasang pasang badan. Kebijakan, katanya, tidak dapat diadili.

SBY masih mengabaikan bahwa FPJP yang digelontorkan BI dan KSSK itu bukan kebijakan biasa, melainkan kebijakan berdimensi kriminal atau criminal policy untuk mengentungkan pihak lain, kalau bukan diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s