Ketika Air Lau Kawar Bisa Dipakai untuk Merebus Telur

Sejak seminggu yang lalu suhu air Lau Kawar terbilang cukup tinggi. Sebegitu panasnya air di danau yang terletak di utara kaki Gunung Sinabung ini sampai-sampai masyarakat sambil bercanda mengatakan Lau Kawar bisa dipakai untuk merebus telur.

Walau tak biasa namun tak ada yang menganggap perubahan suhu air Lau Kawar itu sebagai keanehan yang penting untuk diteliti.

“Suhu panas itu terjadi sebelum letusan yang mengeluarkan abu dan belerang. Ternyata, itu adalah indikasi dari aktivitas gunung,” ujar Sangap Surbakti, Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana kepada Rakyat Merdeka Online yang menghubunginya.

Sangap pun baru mengetahui cerita tentang kenaikan suhu air Lau Kawar itu setelah Gunung Sinabung meletus beberapa menit lewat tengah malam Minggu dinihari tadi (29/8). Seandainya fenomena itu diketahui beberapa hari sebelumnya, mungkin respon terhadap bencana alam ini bisa dilakukan lebih awal, katanya.

“Untunglah, masih belum terlambat,” ujarnya lagi.
Fenomena yang diceritakan Sangap ini kelihatannya dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena letusan Gunung Sinabung.

Tadinya, saat pertama kali Gunung Sinabung mengeluarkan asap pada Jumat petang (27/8) Pusat Vulkanis dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang merupakan salah satu unit di bawah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa hal itu disebabkan intensitas hujan yang tinggi yang diperkirakan menaikkan tekanan uap di dalam kawah dan memicu letusan freatik dimana uap air mendesak ke luar diikuti abu vulkanik.

Kira-kira sama seperti bara terpercik air.

Penjelasan dari Kepala PVMBG Surono inilah yang dipakai Istana untuk menjelaskan fenomena asap yang keluar dari kepundan gunung berketinggian 2.460 dpl pada Jumat sore itu. Saat itu, PVMBG pun menjelaskan bahwa selama ini Gunung Sinabung dikelompokkan ke dalam tipe B, yakni gunung berapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti mengeluarkan asap belerang (solfatara).

Belakangan, setelah lava dan pijar api meleleh keluar dan membakar hutan di sekitar Gunung Sinabung, PVBMG mengetahui bahwa perkiraan awal mereka salah. Saat itu juga, kelas tetangga Gunung Sibayak itu dinaikkan, menjadi tipe A: gunung berapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600. Status di sekitar kawasan gunung pun diubah dari oranye yang berarti siaga, menjadi merah yang berarti awas.

Status awas ini ditandai dengan letusan gunung berapi yang menciptakan keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana, letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap, dan letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam sejak abu dan asap dilepaskan ke udara.

Begitu mengetahui keadaan mendekati titik genting, tim PVBMG menjelang tengah malam tadi berangkat mendekati kaki gunung di Desa Sukanalu untuk memasang alat pencatat getaran gempa. Dalam perjalanan menuju Sukanalu, letusan pertama terjadi. Tim sempat tertahan sebelum akhirnya berhasil memasang alat itu.

“Kejadian besoknya membuat kita terpukul. Pak Surono mengakui salah prediksi,” ujar Sangap lagi.

Sekali lagi, untunglah, sampai sejauh ini semuanya dapat dikatakan masih belum terlambat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s