Tribute to Sayyed Fadlullah

SAYYED Hussein Fadlullah, pemimpin spritual dan pendiri Hizbullah, kelompok pembebasan Palestina yang bermarkas di Lebanon, akan dimakamkan di Masjid Hassanein, selatan Beirut, Lebanon, hari ini (Selasa, 6/7).

Iringan jenazah Sayyed Hussen Fadlullah diberangkatkan dari kediamannya di Haret Hreik pada pukul 1.30 siang waktu setempat, atau sore waktu Indonesia.

Tokoh Syiah paling berpengaruh di Lebanon itu meninggal dunia hari Minggu (4/7) di Rumah Sakit Bahman, Beirut, setelah mendapat perawatan sejak akhir bulan lalu.

“Ia mengajarkan kita untuk berdialog dengan pihak lain, dan menolak kekerasan dan menentang penjajahan,” ujar Sekjen Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrullah yang juga murid Sayyed Hussein Nasrullah mengenang gurunya.

Kabar kematian Sayyed Hussein Fadlullah membawa ingatan saya pada pertemuan kami yang singkat, teramat singkat bahkan, tujuh tahun lalu.

***

Suhu politik di Timur Tengah merangkak cepat ke titik kulminasi. Perang semakin nyata di depan mata. Presiden George W. Bush telah beberapa kali mengatakan kepada dunia bahwa dirinya akan menjatuhkan Saddam Hussein yang berkuasa di Baghdad.

Februari 2003 ketika itu. Di New York, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Collin Powell berusaha keras meyakinkan Dewan Keamanan PBB bahwa cerita tentang peroyek rahasia Saddam Hussein membangun persenjataan pemusnah massal adalah benar belaka. Awal Februari Powell membeberkan semua bukti yang dimiliki Amerika Serikat mengenai proyek senjata biologi Irak. Bukti-bukti itu, sebut Powell, diperoleh pemerintah dari berbagai sumber, mulai dari dinas intelijen AS, dinas intelijen negara sekutu sampai ilmuwan Irak yang membelot.

Namun Powell gagal meyakinkan Dewan Keamanan PBB untuk memberikan lampu hijau bagi rencana serangan ke jantung pertahanan Saddam Hussein di Baghdad. Resolusi 1441 yang memberikan kewenangan kepada dua lembaga PBB, UNMOVIC dan IAEA, untuk menginspeksi fasilitas senjata Irak dianggap sudah cukup. Di dalam resolusi itu, pemerintah di Irak juga diminta untuk menghentikan semua proyek pengembangan senjata biologi dan nuklir. Jadi mau apa lagi.

Walau gagal, Amerika Serikat dan skondan utamanya, Inggris, berikut beberapa negara lain yang tak memiliki pasukan militer namun mendukung aksi polisional Amerika dan Inggris itu, tetap melancarkan serangan ke Baghdad pada 20 Maret 2003. 

PBB yang tak memberikan lampu hijau nyatanya juga tidak memberikan sanksi kepada Amerika Serikat yang bertindak tanpa otorisasi dari PBB. Hanya Rusia, satu-satunya anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang berani bersuara keras menentang Amerika Serikat dan sikap pasif PBB. Selain Rusia, Jerman juga menentang serangan itu secara terbuka.

Lain di New York, lain pula di medan Timur Tengah. Bila di New York para politisi sibuk mencari dasar hukum yang pantas untuk menghancurkan Baghdad, di Timur Tengah yang tampak adalah persiapan-persiapan untuk melancarkan serangan yang dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya. Setidaknya, tiga pangkalan militer milik Amerika Serikat di kawasan itu, dua di Kuwait dan satu di tenggara Turki, akan digunakan dalam serangan itu.

Pangkalan udara Ahmed al Jaber, sekitar 35 mil barat daya Kuwait, menampung sekitar 1.400 tentara Amerika, dan dijadikan markas Grup Ekspedisi Udara ke-332, Grup Komunikasi Tempur ke-3, Skuadron Intelijen ke-9, dan pemasok enerji lusinan misil Patriot. Berbagai jenis pesawat tempur, mulai dari F-15E Strike Eagle dan F-16 Falcon Fighters, serta A-10 Thunderbolt juga disiagakan di Ahmed al Jaber.

Sementara Camp Doha, di sebelah barat ibukota Kuwait, menampung 9.000 tentara AS dan Divisi ke-3 Angkatan Darat Amerika dan Pasukan Gabungan Kuwait, Batalion Intelijen Militer ke-201, Batalion Sinyal ke-54, dan Batalion Transportasi ke-831. Beberapa kenderaan tempur, termasuk tank 100 M1A1 Abrams, 30 Bradley, 12 Paladin 155mm howitzers, serta 30 buldoser dan pembangun jembatan, juga telah disiapkan untuk ikut dalam armada besar yang akan merengsek Irak dari selatan.

Di pangkalan udara Incirlik, Turki, Amerika telah menyiagakan sekitar 1.700 tentara. Dalam waktu singkat jumlah itu bertambah berkali-kali lipat menyusul persetujuan pemerintah Turki membarter wilayahnya dengan jutaan dolar Amerika yang dikucurkan pemerintahan Bush. Menjelang serangan ke Irak, diperkirakan Amerika Serikat akan mengirimkan 62.000 tentara ke wilayah perbatasan Turki dan Irak yang sejak Saddam Hussein lumpuh akibat embargo sejak 1991 dikuasai oleh Pesmergah, pasukan Kurdi.

Sejak beberapa bulan sebelumnya Amerika Serikat telah pula menyiagakan Sayap Ekspedisi Udara ke-39, ke-55, ke-4, ke-175 serta Skuadron Tempur ke-94. Inggris pun dilaporkan telah menempatkan beberapa skuadron tempur udaranya. Pesawat tempur jenis F-16 Falcon dan F-15C Eagle Fighters, British Jaguar GR3 Fighters, dan pesawat EA-6B juga telah siap.

***

Dari Demonstrasi Raksasa di Suriah sampai Nader Taki di Markas Hizbullah

Lahir di Najaf, Irak, 16 November 1935, pendiri Hizbullah Sayyed Mohammad Hussein Fadlullah meninggal dunia di Beirut, Lebanon, 4 Juli 2010 dan dimakamkan dua hari setelah itu di sekolah yang didirikannya di selatan Beirut.

Kecendekiaan yang dimiliki Sayyed Hussein Fadlullah diwarisi dari ayahnya, Sayyed Abdul Ra’ouf Fadlullah yang juga dikenal sebagai salah seorang ulama Syiah terpandang. Sayyed Abdul Ra-ouf Fadlullah lahir di Lebanon, dan pindah ke Najaf di kala masih muda dan menuntut ilmu pada sejumlah ulama, seperti Mirza Fatah `Ash-Shahid, Sayyed Abul Hassan Al-Asfahani, serta Sayyed Abdul Hadi Al-Shirazi. Setelah merasa ilmunya cukup Sayyed Abdul Ra’ouf memboyong keluarganya, termasuk Sayyed Hussein Fadlullah kecil, kembali ke Lebanon. Di kota inilah Sayyed Abdul Ra’ouf meninggal dunia. Di kota ini pula anaknya, Sayyed Hussein Fadlullah menutup mata untuk selamanya.

Dijuluki sebagai “Pemimpin Spiritual Hizbullah”, Ayatollah Mohammed Hussein Fadlullah merupakan inspirasi bagi semua kelompok perlawanan terhadap penjajahan Israel di tanah Palestina. Khutbah-khutbah perlawanan yang disampaikannya di Masjid Ridha Imam di Bir al-Abd, selatan Beirut, bergema dan memberi bentuk pada gerakan perlawanan terhadap Israel yang tumbuh subur di kawasan itu, terutama pada era 1980an.

Hizbullan didirikannya setelah invasi yang dilakukan tentara Israel ke Lebanon pada tahun 1982. Dalam sebuah serangan, tentara Israel membantai pengungsi Palestina di kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Peristiwa pembantaian ini, yang masih diceritakan kisahnya hingga hari ini, menambah kebencian orang-orang Palestina terhadap penjajah mereka.

DI TENGAH situasi politik yang begitu panas di pergantian musim dingin ke musim itulah saya tiba di Damaskus, Suriah.

Di hari kedua di kota itu, puluhan ribu warga Damaskus dari berbagai kelompok dan partai politik menggelar demonstrasi raksasa menentang rencana Bush menyerang Irak. Dari Stasiun Kereta Hejaz demonstran berjalan kaki ke gedung Parlemen di Jalan Al Saleyah. Hari itu, Jalan Borsaid, salah satu jalan utama di pusat Damaskus yang dilintasi demonstran, penuh sesak oleh manusia.

Adalah The Syrian Arab Popular Committee for Supporting the Intifada and Resisting the Zionist Project atau Komite Rakyat Arab Suriah untuk Mendukung Intifada dan Menentang Proyek Zionisme yang menggorganisir demonstrasi itu. Di depan gedung Parlemen, pemimpin Komite Rakyat Arab Suriah, seorang wanita bernama Najah Al Ahsa, berpidato dan menyampaikan tuntutan rakyat Suriah agar Amerika Serikat menghentikan rencana serangan ke Irak.

Disitulah untuk pertama kali saya bertemu aktivis Hizbullah, kelompok pembebasan Palestina yang didirikan Sayyed Hussein Fadlullah dan markas besarnya berada di Lebanon. Didirikan tahun 1982 dan kini dipimpin oleh Hassan Nasrallah, Hizbullah bersikap tegas terhadap penjajahan di Palestina yang dilakukan Israel dan didukung negara-negara Barat. Gerakannya menginspirasi banyak organisasi sejenis di banyak negeri Muslim.

Aktivis Hizbullah yang saya temui di lapangan hari itu larut bersama berbagai kelompok dan partai politik di Suriah, termasuk Partai Arab Sosialis Baath yang berkuasa, Persatuan Arab Sosialis, Persatuan Sosial Demokrat, Partai Sosial Nasionalis Suriah dan Partai Komunis Suriah. Bendera Hizbullah juga berkibar bersama bendera kelompok dan partai yang ikut di dalam demonstrasi, juga bendera Suriah dan Irak yang hanya dibedakan jumlah bintang. Bendera lain yang tampak menonjol dalam demonstrasi itu adalah bendera Palestina.

Beberapa hari setelah demonstrasi besar itu, saya menyempatkan diri mampir ke markas Hizbullah di Damaskus yang, tak saya duga sebelumnya, terletak di sebuah pertokoan di kawasan Sayyedah Zaenab.

Nama kawasan ini diambil dari nama cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyedah Zaenab, adik Sayyed Hussein bin Abu Thalib yang tewas dalam pertempuran melawan rezim Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan penguasa Damaskus, di Karbala, Irak sekarang, 14 abad lalu. Sayyedah Zaenab bersama beberapa wanita dan seorang anak Sayyed Hussein yang selamat dalam pembantaian itu, Zainal Abidin, sempat ditawan oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di istana Umayed di pusat Damaskus Tua kini.

Setelah meninggal dunia jenazah Sayyedah Zaenab dimakamkan di kawasan yang kemudian berkembang menjadi kawasan Sayyedah Zaenab. Kawasan Sayyedah Zaenab ini pun dengan sendirinya menjadi semacam pusat konsentrasi kaum Syiah di Damaskus. Bukan hanya kaum Syiah Suriah, kaum Syiah yang berasal dari Irak, Lebanon dan Palestina, juga Iran, pun menjadikan distrik ini sebagai tempat yang wajib dikunjungi dan disinggahi dalam ziarah spritual mereka. Pemimpin spiritual Iran Imam Khamenei pun memiliki kantor perwakilan di Sayyedah Zaenab yang ketika itu dikepalai oleh Syeikh Muadhidi.

Di kantor Hizbullah saya disambut oleh Syeikh Nader Taki, orang tua yang memimpin markas itu. Tadinya ia agak ragu menyambut kehadiran saya. Setelah berhasil diyakinkan oleh teman yang membawa saya, barulah dia mempersilakan kami masuk.

Syeikh Nader Taki tak begitu tertarik berbicara tentang ancaman perang di depan mata. Ketika saya tanya bagaimana sikap Hizbullah menghadapi rencana serangan Amerika Serikat, dia menjawab:

“Kami tidak punya komentar. Anda tahu kenapa? Amerika dan Israel adalah penjahat dan dajjal. Mereka ingin menghancurkan bangsa Palestina dan bangsa-bangsa Arab. Mereka ingin menghancurkan umat Islam. Sementara Saddam berlagak seperti pahlawan bagi bangsa Arab dan umat Islam. Padahal, sesungguhnya dia juga kaki tangan Amerika dan Israel.”

Dan ketika saya bertanya tentang sikap umum negara-negara Arab, Syeikh Nader Taki kembali memberikan jawaban dengan nada yang sama buramnya. Katanya:

“Anda tengah berbicara tentang perang yang belum terjadi. Tapi lihatlah perang yang sudah terjadi ini (penjajahan yang dilakukan Israel terhadap orang Palestina). Dan apa yang dilakukan negara Arab? Mereka cuma bisa menonton.”

***

Kalau Pengganti Saddam Hussein Lebih, Buruk Buat Apa

SYEIKH Nader Kati yang saya temui di markas Hizbullah di Damaskus, Suriah, tak begitu bersemangat berbicara tentang kemungkinan serangan Amerika Serikat atas wilayah yang dikuasai Saddam Hussein.

Bukan karena hatinya telah membeku akibat perang –foto salah seorang putra Nader Taki yang tewas di pedang perang melawan penjajahan Israel atas tanah Palestina diletakkan di atas meja kerjanya. Tetapi karena perang yang mungkin tiba ini, menurut Nader Taki adalah perang yang terjadi di antara musuh-musuh umat Muslim.

Syeikh Nader Kati tidak sendirian. Saya juga mendengar pernyataan serupa dengan apa yang disampaikan Syeikh Nader Kati saat berbicara dengan wakil Imam Khamenei di Sayyedah Zaenab, Imam Muadhidi.

“Amerika berusaha menguasai kawasan Arab sejak dulu. Mereka memecah belah bangsa Arab. Kami menentang rencana Amerika menyerang Irak. Tapi alasan kami tak serupa dengan alasan Saddam Hussein. Kami membantu rakyat Irak, bukan membantu Saddam,” katanya.

“Jadi, kalau sekarang Amerika ngotot mengatakan Irak punya senjata pemusnah massal, senjata kimia dan sebagainya, karena merekalah yang mengirimkannya dulu. Mereka tahu pasti, masih ada yang belum digunakan Irak. Bagi kami, Saddam Hussein adalah kaki tangan Amerika. Setidaknya bekas kaki tangan,” sambungnya.

Persoalan yang tengah dihadapi masyarakat Muslim di Irak, menurut hemat Syeikh Muadhidi sangat tidak sederhana. Persoalan menjadi semakin rumit karena belakangan Amerika Serikat ingin membonceng upaya kelompok oposisi Irak menjatuhkan Saddam Hussein. Kelompok oposisi ini dengan rela hati membiarkan diri mereka ditunggangi Amerika Cs.

“Mereka bilang, tidak masalah walau yang mengganti Saddam adalah anjing. Yang penting Saddam jatuh dulu. Kami di Iran tidak setuju dengan sikap seperti ini. Kalau pengganti Saddam jauh lebih buruk dari Saddam, buat apa?”

Setelah Irak, Syeikh Muadhidi merasa Amerika Serikat akan mengalihkan perhatian ke Iran. Apalagi Presiden Bush telah menyebut Iran berada satu kubu dengan Irak dan Korea Utara, yakni kubu Poros Setan.

“Siapapun tahu, kekuatan Amerika sangat besar. Tapi kami tidak takut. Rakyat Iran telah mempersiapkan diri berperang dengan Amerika. Sejak lama kami menentang Amerika. Bahkan perang dengan Irak dulu itu (1980-1988), sesungguhnya adalah perang antara Iran melawan Irak, Amerika dan negara-negara Eropa yang mensuplai Irak,” demikian Syeikh Muadhidi.

***

Islam dan Yahudi Bersaudara, Tapi Pendukung Israel adalah Musuh yang Sah

Sayyed Hussein Fadlullah mendukung cita-cita Revolusi Iran dan mendukung gerakan kaum Muslim Lebanon yang memiliki arah dan cita-cita yang sama dengan Revolusi Iran. Di dalam berbagai khutbahnya, ia menyerukan umat Muslim melakukan perlawanan bersenjata untuk mengusir Israel dari arah Beirut, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

Semboyan yang didengungkan dunia internasional yang menyebut Palestina sebagai “tanah untuk perdamaian” adalah pengkhianatan terhadap darah Palestina, katanya.

“Israel menimbulkan bahaya besar untuk generasi masa depan kita dan nasib bangsa modern kita, terutama karena ia mencakup ide ekspansionis yang ingin membangun Israel Raya, dari Sungai Efrat sampai Sungai Nil,” kata Sayyed Fadlullah dalam salah satu kuliahnya.

DI SAYYEDAH Zaenab, Damaskus, ibukota Suriah, terdapat berbagai hauzah atau sekolah yang dikelola dan diampu oleh guru-guru Syiah. Mereka yang mengenakan immamah (penutup kepala) berwarna hitam disebut sayyed. Sementara yang mengenakan immamah berwarna putih dipanggil syeikh.

Kurikulum yang diajarkan di hauzah-hauzah ini setara dengan kurikulum pendidikan di universitas umum untuk jenjang Strata-1. Pada suatu hari saya diajak mengikuti perkuliahan di sebuah hauzah. Ruang kelas yang digunakan adalah sebuah aula kecil. Hanya ada sebuah papan tulis hitam di dinding, juga meja dan kursi untuk guru. Tetapi meja dan kursi itu tak di gunakan Pak Guru. Seperti semua mahasiswa ia pun memilih duduk bersila di atas tikar dan terpal yang dihamparkan di lantai. Ruangan kelas itu tidak terlalu terang, kegelapan di dalamnya dilawan oleh sebuah pelita yang diletakkan tak jauh dari Pak Guru.

Dari semua hauzah di Sayyedah Zaenab ada satu hauzah yang paling besar dan megah. Hauzah Murtadho, namanya. Lantai satu digunakan sebagai kantor dan ruang pertemuan serta perpustakaan, sementara lantai dua dibagi menjadi beberapa ruang kelas. Selain sebagai seminari, gedung berlantai dua itu juga merupakan kantor pemimpin spiritual Hizbullah, Ayatollah Mohammed Hussein Fadlullah, di Suriah.

Di hauzah itulah, pada suatu hari di akhir Februari 2003 saya dijadwalkan mewawancarai Sayyed Hussein Fadlullah. Ini sebuah kesempatan yang langka yang tidak terpikirkan sebelumnya saat saya merancang rencana perjalanan ke Damaskus. Ditemani seorang mahasiswa Indonesia, saya telah berada di hauzah sejak satu jam sebelum waktu yang direncanakan. Informasi dari hauzah menyebutkan bahwa Sayyed Fadlullah sedang dalam perjalanan darat dari Lebanon.

Suasana di hauzah itu masih sama seperti saat saya kunjungi beberapa hari sebelumnya. Perkuliahan berjalan seperti biasa. Ruang perpustakaan di lantai satu dipenuhi oleh mahasiswa dan beberapa guru yang sedang asyik membaca. Saya memasuki sebuah ruangan yang sepertinya berfungsi sebagai ruang tunggu dan berbicara dengan beberapa orang yang juga sedang menunggu kehadiran Sayyed Hussein Fadlullah. Pembicaraan di antara kami kebanyakan seputar kisah-kisah dalam tradisi Syiah. Hanya sesekali kami membicarakan kemungkinan perang di Irak. Sesekali pula mereka bertanya tentang Indonesia, mulai dari letak geografis, iklim dan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi keislamaan nusantara.

Sayyed Fadlullah sering menjelaskan bahwa Yudaisme, Kristen dan Islam adalah agama Illahi. Namun di sisi lain, ia mengatakan bahwa semua orang Yahudi yang mendukung pelanggaran hukum yang dilakukan Israel sama buruknya dengan pemerintahan Israel yang melakukan penjajahan.

“Semua Palestina adalah zona perang dan setiap orang Yahudi yang melawan hukum dan menempati rumah atau tanah milik orang Palestina adalah sasaran perang yang sah. Tidak ada orang Yahudi yang tidak bersalah di Palestina. Mereka banyak membunuh perempuan, anak-anak, dan orang tua. Mereka menghancurkan rumah kami. Mereka menyita tanah air dan kebebasan kita,” demikian Sayyed Hussein Fadlullah.

Pembicaraan diantara kami terhenti setelah terdengar kabar bahwa rombongan Sayyed Hussein Fadlullah telah tiba. Saya berjalan cepat ke arah pintu masuk hauzah, berharap bisa menyapa Sayyed Fadlullah. Tetapi saya terlambat, Sayyed Fadlullah sudah memasuki ruangan kerjanya di salah sisi di lantai satu. Pintu ruangan itu ditutup rapat. Beberapa pengawal Sayyed Fadlullah, lelaki-lelaki bertubuh besar yang mengenakan jaket hitam dan menenteng senjata serbu yang modelnya belum pernah saya lihat, berjaga-jaga di luar pintu masuk ruang kerja Sayyed Fadlullah.

“Sayyed Fadlullah mendadak sakit, dan kelihatannya harus segera kembali ke Lebanon,” ujar mahasiswa Indonesia yang menemani saya, menerjemahkan informasi yang disampaikan salah seorang pengawal Sayyed Fadlullah.

Saya memilih menunggu Sayyed Fadlullah di depan pintu ruang kerjanya, bersama lelaki-lelaki bertubuh besar yang bersiap siaga dalam diam. Beberapa dari orang yang tadi menunggu di ruang tunggu juga memilih untuk bertahan di depan pintu masuk ke ruang kerja Sayyed Falallah. Tampaknya, di antara kami tidak ada yang mau kecolongan lagi.

Kami terus menunggu. Sekitar satu jam kemudian pintu ruang kerja itu terbuka. Sayyed Fadlullah keluar dari ruangan kerjanya diikuti oleh beberapa stafnya.

Tubuhnya yang mengenakan jubah dan immamah hitam dibungkus jaket tebal. Air mukanya kelihatan kuyu. Kedua tangannya bersidekap di depan dada. Sayyed Fadlullah melemparkan senyum kepada pengawal dan orang-orang yang menunggu di depan pintu, lalu berjalan menuju mobilnya, sebuah semi jip hitam yang mesinnya sudah dihidupkan beberapa saat sebelumnya.

Saya mencoba menjejeri langkahnya dan sebelum ia masuk ke dalam mobil, saya diberi kesempatan untuk mendekati dan bersalaman dengannya. Ia menjawab salam saya, lalu menggumamkan satu dua kalimat dalam bahasa Arab yang saya tidak ketahui. Setelah itu Sayyed Fadlullah mengucapkan salam dan masuk ke dalam mobilnya. Beberapa pengawal mengikuti di mobil yang sama, beberapa lainnya mengikuti di mobil kedua.

Rombongan Sayyed Fadlullah pun kembali ke Lebanon.

Dan itulah pertemuan pertama dan terakhir saya dengan Sayyed Fadlullah. Pertemuan yang tidak akan terulang kembali. Selamat jalan Sayyed.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s