Yusril Ihza Mahendra, Mantan Kuncen Istana yang Mau Dikirim ke Penjara

Rasanya tak begitu banyak orang yang mengetahui bahwa Mahendra di belakang nama Yusril Ihza bukanlah nama keluarga.

Konon, entah bagaimana detil ceritanya, nama itu didapat laki-laki kelahiran Belitung, 5 Februari 1956 ini saat mengikuti pendidikan master di Graduate School of Humanities and Social Science, University of the Punjab, Pakistan, pada pertengahan 1980an.

Nama kampus Yusril yang satu ini pun sering kali salah dituliskan. Ia kerap disebut lulus dari Universitas Punjab yang ada di India. Padahal Yusril menempuh pendidikan master di bidang hukum tatanegara di, seperti yang telah disebut di atas, University of the Punjab, Pakistan (www.pu.edu.pk). Kesalahan ini mungkin terjadi karena di India juga ada kampus dengan nama yang hampir sama, yakni Punjab University di Chandigarh (www.puchd.ac.in) dan Punjabi University di Patiala (www.punjabiuniversity.ac.in).

Terlepas dari soal Pakistan dan India itu, di tanah air Yusril lebih dikenal sebagai profesor hukum tatanegara Universitas Indonesia yang meraih gelar doktor di bidang hukum tatanegara dari Institute of Post Graduate Studies, Science University of Malaysia. Gelar doktor digondolnya setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun di negeri jiran itu antara 1990 hingga 1993.

Selain soal nama Mahendra dan kampus tempat ia menuntut ilmu masih ada satu hal lagi yang kerap dilupakan orang ketika berbicara tentang Yusril.

Yusril adalah faktor penentu kemenangan Abdurrahman Wahid sekaligus kekalahan Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden di arena Sidang Umum MPR Oktober 1999. Yusril lah yang telah mengubah perjalanan roda sejarah negeri ini pada saat-saat yang oleh kebanyakan politisi Islam dianggap krusial ketika itu.

Yusril yang ketika itu adalah Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) di atas kertas akan mengantongi dukungan sebanyak 232 suara. Jumlah ini jauh berada di atas Gus Dur, ketika itu Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang diperkirakan akan mengantongi 185 suara. Adapun Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dipastikan berada di tempat pertama dengan setidaknya305 suara.

Di tengah jalan, atas kesepakatan pentolan Poros Tengah, Amien Rais (PAN), Akbar Tandjung (Partai Golkar), Hamzah Haz (PPP), Matori Abdul Djalil (PKB), dan juga Yusril (PBB), akhirnya Yusril sepakat mengundurkan diri dari arena pemilihan presiden. Selanjutnya, Poros Tengah memberikan dukungan penuh kepada Gus Dur.

“Tolong diingat peristiwa pada pemilu tahun 1999 pada waktu Sidang Umum MPR. Saya tinggal memiliki satu langkah untuk menjadi presiden, tetapi saya mundur. Kalau saya tidak mundur belum tentu Gus Dur bisa menang. Kalau bukan Mega, pasti saya. Gus Dur pasti out atau kalah. Kita sudah hitung di atas kertas, suara saya 232, Gus Dur 185 sedangkan Mega 305 suara. Itu sudah hampir matematis,” ujar Yusril kepada media suatu kali.

Itu sebabnya dengan mudah Yusril bergabung dengan pemerintahan Gus Dur sebagai Menteri Hukum dan Perundangan. Tetapi, sekitar lima bulan sebelum Gus Dur akhirnya lengser, Yusril meninggalkan kabinet Gus Dur. Ia bergabung dengan kawan-kawannya, pentolan Poros Tengah, yang telah lebih dahulu meninggalkan Gus Dur.

Setelah Megawati menggantikan Gus Dur, Yusril kembali bergabung dengan skuad istana. Kali ini sebagai Menteri Hukum dan HAM.

Menjelang Pilpres 2004, Yusril yang menyadari partainya mulai kehilangan pengaruh, memperoleh kurang dari 2,5 persen suara seperti yang disyaratkan untuk mengikuti Pemilu 2009 (belakangan menjelang Pemilu 2009 syarat itu diabaikan), membanting stir. Bersama dua partai lain, Partai Demokrat yang baru berdiri dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), PBB mendukung duet SBY dan Jusuf Kalla. Pada akhirnya SBY dan Kalla menang, dan Yusril kembali dengan mudah masuk istana sebagai Menteri Sekretaris Negara.

Hubungan mesra antara Yusril dan SBY tidak berlangsung lama. Di tahun 2007 ia didepak, tidak hanya dari kursi Menteri Sekretaris Negara, melainkan juga dari istana. Kursi Mensesneg diberikan kepada Hatta Rajasa dari PAN yang sebelumnya menduduki kursi Menteri Perhubungan.

Informasi yang diperoleh dari lingkaran dalam SBY ketika itu mengatakan bahwa Yusril dianggap terlalu berani menantang SBY. Yusril menyimpan keinginan mencalonkan diri sebagai presiden dalam Pilpres 2009. Bila tidak segera dieliminasi, kubu SBY mengkhawatirkan keinginan itu akan menjadi kenyataan. Untuk menghentikan langkah musuh di dalam selimut ini, akhirnya ia dikeluarkan dari lingkaran elit.

Masih dari lingkaran dalam SBY, Yusril juga dicurigai mensabotase Istana. Ada anggota KIB I yang mengatakan banyak pekerjaan Yusril dibiarkan menumpuk di atas meja. Fenomena kertas menumpuk ini tentu bukan karena Yusril tidak memahami pekerjaannya. Sebagai orang yang sudah malang melintang di Istana sejak jaman Soeharto –ia bahkan pernah dipercaya Soeharto menuliskan pidato– tentulah Yusril memiliki keterampilan yang memadai untuk menangani pekerjaan.

Pekerjaan yang dibiarkan menumpuk di atas meja itu, bagi orang-orang SBY adalah adalah bukti bahwa Yusril memang ingin mensabotase pemerintahan SBY.

Tuduhan mengenai upaya mensabotase pemerintahan SBY ini pernah saya tanyakan kepada adik Yusril, mantan anggota DPR, Yusron Ihza. Itu adalah tuduhan yang tidak berdasar, sebut Yusron. Dirinya justru sering melihat Yusril seperti kekurangan waktu karena setiap hari harus bekerja sampai lewat tengah malam.

Terlepas dari saling serang dan tangkis itu, akhirnya seperti di zaman Gus Dur, Yusril kembali angkat koper meninggalkan Istana. Sejak saat itu pula namanya hampir tidak terdengar sama sekali, kecuali pada tiga kesempatan.

Pertama, saat ia berperan sebagai Cheng Ho dalam film yang juga dibintangi sesama mantan anggota KIB I Syaifullah Yusuf. Kedua, saat dia bertemu dengan Gus Dur menjelang Pilpres 2009. Dan ketiga, ya sekarang ini, setelah Jaksa Agung Hendarman Supandji menetapkannya sebagai salah seorang tersangka dalam kasus Sisminbakum yang diduga merugikan negara sebesar Rp 420 miliar.

Seperti pemegang saham PT Sarana Rekatama Dinamika (SRD), Hartono Tanoesoedibjo yang sudah kabur entah kemana, Yusril dijerat pasal 2, pasal 3 dan pasal 12 huruf e UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bila terbukti bersalah, Yusril dapat mendekam di penjara seumur hidup atau setidaknya 20 tahun.

20 thoughts on “Yusril Ihza Mahendra, Mantan Kuncen Istana yang Mau Dikirim ke Penjara”

  1. Yusril emang paling layak jadi pemimpin negeri ini, siapa yang berkuasa kalau tak pakai dia rasa-rasanya akan jadi kontroversial…
    Tapi rakyat negeri ini tak akan memilihnya karena ia tak punya uang….

  2. Yusril aku shohib dr bondowoso jwa timur….
    Aku suka sama kecerdasan n keberanianmu….
    Aku slalu mendukungmu….

  3. Ass. Bang aku adalah orang yang sangat mengagumi kecerdasan dan keberanianmu. aku mohon berilah pemimpin negeri pelajaran yang sangat berharga agar negeri kita akan menjadi negeri yang aman, bai dibawah lindungan Allah SWT.

  4. Ass. bang Yusril, maju terus, aku salut atas kecerdasannmu bang, andai di Indonesia ada 500 Yusril Ihza, pastilah Indonesia aparat penegak hukumnya akan terjamin kepastian hukumnya. maju terus bang..

  5. Di Indonesia ya begini ini. Orang yang dukung SBY dijadikan musuh, harusnya di-manage sesuai keahliannya agar jadi kekuatan SBY.

    Yusril harus bebas dari Sisminbakum dulu, baru kita bicara yang lain. Tampaknya sisminbakum direkayasa untuk “memasung” Yusril dari sistem politik Indonesia. Kasihan ia ya…..semoga cobaannya cepat berakhir.

  6. kami sangat mendukung anda Pak Yus…Nomor 1 adalah selalu jadi tujuan…semangat dengan momentum baru….mari sama-sama bangun kekuatan besama rakyat pasti bisa…tentunya Yang Kuasa bersama orang-orang yang SABAR

  7. Sumanto Pelalawan Riau :
    Saatnya mempersiapkan pemimpin baru yang cerdas, punya visi jauh kedepan, berani, tegas, amanah dan yang pasti tidak lebay. Bung Yusril, andalah orang yang tepat memimpin takyat indonesia untuk memerangi kezaliman di negeri ini ( Keserakahan dan Ketidakadilan sudah menjadi pemandangan biasa dlm kehidupan sehari-hari )

  8. Apapun yang telah terjadi adalah sebuah pilihan yang didasarkan atas ilmu dan pngetahuuan, yang penting dan menarik adalah keberanian dalam memilllih apapun konsekuensinya, dan sebaliknya kebanyakan orang tidak memilih justru menungggu dipilih. majulah bang yusril dukungan akan mengalir seiring dengan meningkatnya kecerdasan rakyat indonesia

  9. h arsuan jumhari sh bengkulu kami butuh orang yang brrkrakter untuk pimpin negri ini bang yusril orangnya maju terus doa kami besertamu slamat sang panglima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s