Kader Demokrat Tahu Siapa yang Sungguh-sungguh dan Seolah-olah Berjasa

Untuk meraih kemenangan perlu terlebih dahulu membangun persepsi akan kemenangan.

Begitu suatu kali ujar Zulkarnain Mallarangeng alias Coel Mallarangeng, pemimpin Fox Indonesia yang memoles Andi Alfian Mallarangeng dalam perebutan kursi ketua umum Partai Demokrat.

Itulah sebabnya, spanduk dan baliho raksasa serta billboard bergambarkan Andi Mallarangeng dengan mudah dapat disaksikan tidak hanya di ruas-ruas jalan utama Jakarta tetapi juga di banyak titik di kota-kota Indonesia. Begitu juga dengan iklan politik Andi Mallarangeng yang jauh-jauh hari sebelum pemilihan ketua umum di arena Kongres Partai Demokrat saban hari menghiasi layar televisi. Pun iklan Andi Mallarangeng di media cetak dalam ukuran yang extravaganza.

Pokoknya, Fox Indonesia terlihat begitu bersemangat dalam show of force atau pamer kekuatan mengiklankan kemenangan Andi Mallarangeng. Ia dicitrakan sebagai tokoh Partai Demokrat yang banyak uang dan juga didukung oleh elit pendiri partai dan penguasa negeri.

Di sisi lain, kelihatannya kubu Andi Mallarangeng terjebak pada pomeo membangun persepsi akan kemenangan ini. Mereka lupa bahwa tujuan mereka lakukan adalah memenangkan Andi Mallarangeng dalam pemilihan ketua umum, bukan sekadar membangun persepsi bahwa Andi Mallarangeng adalah pemenang.

Ketidakmampuan tim Fox Indonesia untuk fokus pada tujuan inilah yang membuat strategi pemenangan Andi Mallarangeng di medan perang yang sesungguhnya menjadi tumpul. Akibatnya, Andi Mallarangeng harus menelan kenyataan pahit. Obsesinya untuk menguasai Partai Demokrat kandas di tengah jalan. Di putaran pertama pemilihan ketua umum, ia harus puas mengantongi 82 suara dan tersingkir dari arena.

Berbeda dengan Fox Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny JA memilih pendekatan low profile. Sebagai pollster papan atas, Denny JA tampaknya menyadari bahwa metode show of force seperti yang dipertontonkan Fox Indonesia mubazir dan buang peluru terlalu banyak.

Menurut Denny JA, untuk meraih kursi ketua umum, Anas Urbaningrum harus mampu membangun hubungan hati antara dirinya dengan pemilik suara dalam pemilihan yang berasal dari DPC dan DPD. Denny JA pun memilihkan tagline yang lebih pas bagi Anas Urbaningrum untuk kebutuhan itu: Memimpin dengan Hati.

Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukan tagline itu dan menjelaskannya kepada Anas Urbaningrum. Setelah Anas Urbaningrum setuju, akhirnya tagline itu diperkenalkan kepada khalayak ramai, terutama pemilik suara di DPC dan DPD Partai Demokrat yang hadir dalam deklarasi Anas Urbaningrum di Hotel Sultan, Jakarta. Selanjutnya, image “Memimpin dengan Hati” ini disosialisasikan melalui iklan, SMS blast, aneka atribut dan berita di koran.

“Contrast antara AU dan AM justru ada di hati pemilih. AU sudah terlebih dahulu membina hubungan hati itu. Ketika SBY tidak menunjukkan pemihakannya secara sangat eksplisit, dan tak ada money politics, kedekatan hati itu yang bicara. Itu sebabnya mengapa AU menang,” ujar Denny JA.

Denny JA yakin bahwa sesungguhnya pemilik suara di Partai Demokrat telah mengetahui siapa di antara kandidat ketua umum yang telah berjasa membesarkan partai, dan siapa yang hanya seolah-olah berjasa membesarkan partai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s