Seperti Tandukan Zidane pada Dada Materazzi, George JA Lawan Ramadhan Pohan bukan Partai Utama

Pertandingan Final Piala Dunia 2006 antara Prancis dan Italia yang digelar di Berlin, Jerman, menyisakan satu cerita yang rasa-rasanya akan terus diingat oleh para penggila bola.

Setelah bermain imbang 1-1 melewati dua kali 45 menit, pertandingan yang dipimpin wasit Horacio Marcelo Elizondo asal Argentina itu dilanjutkan ke babak tambahan yang juga tidak mengubah posisi imbang. Di babak tambahan inilah, di saat situasi sedang genting-gentingnya bagi Italia yang terus dikepung Prancis, pemain Italia Marco Materazzi, berhasil memprovokasi pemain Prancis Zinedine Zidane. Di tengah lapangan, Zidane menandukkan kepalanya ke dada Materazzi yang terjengkang dan langsung terkapar sambil mengaduh kesakitan.

Aksi Zidane ini tentu mengejutkan banyak pihak, termasuk pendukung Prancis. Keterlaluan. Itulah yang pertama kali terlintas di benak pemirsa. Hal kedua yang terpikirkan adalah, mengapa sang maestro Zidane sampai menanduk dada Materazzi yang memang sering tampil norak.

Zidane tak banyak bicara menjelaskan insiden itu. Dia menerima begitu saja kartu merah yang diberikan wasit Horacio kepadanya. Dengan kepala tegak, Zidane meninggalkan lapangan hanya sepuluh menit sebelum babak tambahan kedua berakhir. Zidane mengakhiri kariernya di lapangan hijau dengan sebuah insiden yang memalukan, tulis beberapa pengkritik Zidane.

Pertandingan itu sendiri akhirnya dilanjutkan dengan adu penalti. Banyak orang percaya, tanpa kehadiran Zidane sebagai salah seorang eksekutor, motivator dan inspirator lah Prancis akhirnya takluk ditekuk Italia dengan skor 3-5.

Di luar lapangan hijau, Zidane pun masih menutup mulut. Hanya rumor dan spekulasi yang menyebar yang mengatakan ia menanduk Materazzi karena penghinaan yang berbau SARA dan menyinggung tentang keluarganya.

Adalah Materazzi yang setahun kemudian menjelaskan mengapa insiden itu terjadi. Agustus 2007, di sebuah program televisi Italia Sorrisi e Canzoni atau Senyuman dan Nyanyian, si norak Materazzi mengakui bahwa ia memang memprovokasi Zidane, dan provokasi itulah yang melahirkan insiden tandukan tersebut.

Materazzi mengakui bahwa ia mendapat tugas tambahan untuk memprovokasi dan memanas-manasi Zidane. Caranya sederhana, tempel Zidane dan tarik kaosnya. Begitu terus.

Zidane awalnya tidak terpancing oleh provokasi itu. Tetapi Materazzi tak mau menyerah. Intensitas provokasi ditingkatkan, sampai Zidane masuk perangkap.

“Kalau Anda begitu menginginkan kaos saya, nantilah di akhir pertandingan,” kata Zidane yang mulai terganggung.

Materazzi pun memanfaatkan umpan lambung Zidane ini.

“Saya lebih suka adik perempuanmu yang pelacur,” jawabnya singkat.

Nah, sekarang kembali ke tanah air.

Peluncuran buku “Membongkar Gurita Cikeas” karya George Junus Aditjondro kemarin (Rabu, 30/12) di Doekoen Coffee di kawasan Pancoran, Jakarta, juga diwarnai insiden yang mirip dengan insiden head butting yang dilakukan Zidane ke dada Materazzi.

George yang sebetulnya sudah berada di atas angin, tiba-tiba menyapukan buku “Membongkar Gurita Cikeas” yang berada di tangan kirinya ke arah wajah anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Ramadhan Pohan, “pemain cadangan” yang menggantikan Staf Khusus Presiden, Andi Arief yang batal hadir.

Ramadhan meninggalkan lokasi bedah buku, langsung ke RS untuk memvisum “luka memar” yang dideritanya dan setelah itu melaporkan George ke polisi.

“George tidak siap berdemokrasi, tidak siap berbeda pendapat. Dia sesungguhnya menganiaya demokrasi. Itu yang parah,” ujar Ramadhan.

Tidak seperti dalam insiden tandukan Zidane, permirsa langsung dapat mengetahui kalimat provokatif yang diucapkan Ramadhan Pohan untuk membakar emosi George. Menurut Ramadhan Pohan, George sedang berhalusinasi. Data yang disebut George tentang aliran dana dari Sampoerna untuk Harian Jurnal Nasional yang dipimpin mantan wartawan Jawa Pos itu, misalnya, sama sekali tidak benar.

Kata “berhalusinasi” ini telah berkali-kali disampaikan Ramadhan Pohan dalam berbagai kesempatan. Termasuk ketika keduanya bertemu dalam sebuah program debat di salah satu stasiun televisi.

Menurut pengamat politik Universitas Indonesia Boni Hargens yang juga hadir sebagai pembicara dalam bedah buku itu, ocehan Ramadhan tersebut tidak konstekstual, dan itu justru lebih mengganggu daripada aksi pengeplakan buku itu. Adalah Boni yang kemudian menyamakan insiden George lawan Ramadhan Pohan dengan Zidane lawan Materazzi.

Bolehlah kita, pemirsa, sedikit terpukau pada insiden itu. Tetapi ingat, walau mirip insiden Zidane lawan Materazzi, tetapi sesungguhnya hal ihwal yang berkaitan dengan buku “Membongkar Gurita Cikeas” sama sekali tidak selevel dengan pertadingan final Piala Dunia 2006 antara Prancis lawan Italia.

Kalau menggunakan istilah dalam pertandingan tinju, bedah buku “Membongkar Gurita Cikeas” itu hanya partai tambahan dan bukan partai utama. Kalau menggunakan istilah dalam pertandingan sepak bola, insiden itu terjadi di luar lapangan pertandingan.

Kok bisa?

Ya bisa. Karena sesungguhnya, untuk semua yang berkaitan dengan skandal dana talangan untuk Bank Century yang membengkak hingga sebesar Rp 6,7 triliun yang melibatkan pejabat tinggi negara, pertandingannya tidak digelar di stadion Doekoen Coffee, melainkan di stadion DPR Senayan dan KPK Kuningan.

Buku “Membongkar Gurita Cikeas” karya George memang dahsyat. Tetapi kitab yang digunakan “kesebelasan” Pansus Centurygate dan KPK jauh lebih dahsyat lagi, yakni hasil audit investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Di dalam kitab itulah tersembunyi rahasia-rahasia alam gaib di balik keputusan Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) yang dipimpin Menkeu Sri Mulyani menggelontarkan triliunan rupiah untuk menyelamatkan bank kecil yang sejak lahirnya sudah megandung cacat bawaan.

Ke dua stadion itulah mata dan hati kita, para penggila bola hukum dan keadilan, harus difokuskan.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s