Notes

Lebaran di Hawaii, Seperti Baru Kemarin

Masa studi saya di University of Hawaii at Manoa (UHM) sudah berakhir, dan sejak akhir Mei lalu saya kembali beraktivitas di Indonesia. Namun seperti baru kemarin rasanya saya merayakan dua Hari Raya Idul Fitri di Honolulu, Hawaii, negara bagian ke-50 Amerika Serikat yang berada persis di tengah Samudera Pasifik.

Seperti baru kemarin pula rasanya saya bangun dinihari untuk sekadar masak dan makan sahur bersama mahasiswa Muslim lain dari Indonesia dan beberapa negara Asia dan Afrika di asrama tempat kami tinggal, Hale Manoa yang terletak di komplek East West Center (EWC). Atau shalat tarawih berjamaah di Hale Manoa.

Jumlah mahasiswa Muslim di Hale Manoa tidak banyak. Menurut perkiraan saya tidak lebih dari 30 orang. Begitu juga dengan umat Muslim di Hawaii. Jumlahnya diperkirakan berkisar antara 1.500 hingga 2.500 orang. Fluktuasi jumlah umat Muslim di Hawaii naik turun, mengingat nyaris semuanya adalah pendatang. Kalau bukan pelajar dan kaum profesional yang berasal dari berbagai negara berpenduduk Muslim, seperti dari Timur Tengah, Afrika dan Asia, tentulah mereka Muslim Amerika Serikat yang terbang dari mainland ke Hawaii.

Di Hawaii hanya ada satu masjid, terletak di kawasan Manoa Valley, sekitar 30 menit jalan kaki dari kampus UHM dan kompleks EWC. Dari luar, masjid ini tak ada bedanya dengan rumah-rumah yang berjejer rapi di sekitarnya. Setiap kali shalat Jumat, masjid selalu penuh, bahkan terkadang jamaah shalat membludak memenuhi teras luar masjid.

Untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha, pihak masjid biasanya memindahkan lokasi shalat ke tempat publik. Shalat Idul Fitri pertama yang saya ikuti dilakukan di kawasan pantai Magic Island yang ramai dipenuhi orang yang hendak mandi atau sekadar berjemur di pantai. Sementara shalat Idul Fitri di tahun kedua dilakukan di sebuah taman umum di Manoa, tak jauh dari masjid.

Saya bisa membayangkan bahwa Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini di Hawaii akan sedikit, atau mungkin banyak, berbeda dibandingkan dengan Ramadhan dan Idul Fitri sebelumnya. Mengapa? Karena tahun ini untuk pertama kalinya umat Muslim di Hawaii dapat merayakan Hari Islam. Ya Hari Islam, seperti Hari Budha, dan Hari Bahai, atau Tahun Baru, atau Good Friday atau Hari Paskah.

Sejak bulan Mei lalu, pemerintah negara bagian dan parlemen Hawaii memutuskan tanggal 24 September setiap tahun sebagai Hari Islam. Itu berarti, Hari Islam pertama di Hawaii akan dirayakan beberapa hari setelah Hari Raya Idul Fitri 1430 H.

Tadinya parlemen Hawaii mengusulkan tanggal 21 November sebagai Hari Islam. Tapi belakangan usul itu diperbaiki karena berbenturan dengan perayaan Makahiki. Adalah Hakim Ouansafi, ketua Muslim Association di Hawaii yang mengusulkan tanggal 24 September sebagai Hari Islam. Tanggal itu merujuk pada peristiwa perjalan Isra dan Miraj Nabi Muhammad yang menandai lahirnya agama Islam pada tanggal 24 September 644 M. Usul itu disampaikan Hakim Ouansafi kepada Rep. Lyla Berg, anggota Kongres Hawaii yang memotori deklarasi ini.

Tak mudah meloloskan resolusi Hari Islam. Ketika Kongres Hawaii bersidang untuk memutusannya, ratusan warga Honolulu menggelar demonstrasi di gedung Kongres. Mereka memprotes keras rencana itu. Menurut mereka, Hari Islam akan menyakiti hati keluarga korban serangan teroris di WTC New York, 11 September 2001. Bagi mereka, Islam adalah agama terorisme yang menghalalkan serangan mematikan seperti yang terjadi di WTC dan banyak tempat lain di dunia. Aksi bom bunuh, mereka yakini, sebagai bagian dari doktrin teologi Islam.

Gubernur Hawaii Linda Lingle, dalam pemberitaan Star Bulletin edisi 20 Mei 2009 pun mengakui bahwa dirinya dihujani protes oleh kaum konservatif di Hawaii. Bahkan, sebutnya, dia mendapatkan telepon dan e-mail dari orang-orag di mainland yang mengatakan bahwa mereka tidak akan datang ke sebuah tempat yang merayakan Hari Islam. Otoritas Turisme Hawaii pun mendapatkan kecaman. Keadaan ini sungguh tak mengenakan bagi Hawaii yang sebetulnya juga tengah mengalami krisis ekonomi menyusul jumlah turis yang terus menerus turun dalam beberapa bulan terakhir.

“Tetapi Hawaii selalu dikenal sebagai tempat yang aman dan toleran,” kata Mike McCartney, ketua Otoritas Turisme Hawaii. Dia mendukung Hari Islam karena menurutnya penetapan Hari Islam, seperti juga perayaan hari agama lain, lahir dari tradisi Hawaii yang toleran dan semangat Aloha yang bersemi bersama peradaban negeri pelangi itu.

Kepada kelompok yang masih mengganggap Islam sebagai agama yang melahirkan terorisme, Hakim Ouansafi berkata: “Ini adalah Republik Aloha. Kita hidup bersama, menghargai sesama, mencintai sesama. Kita tahu bahwa sekelompok orang tidak dapat dihakimi karena perbuatan segelintir orang.”

Terorisme, sebutnya lagi, adalah masalah yang dihadapi oleh komunitas Muslim di banyak tempat di dunia.

“Terorisme adalah musuh bersama kita. Mereka membunuh lebih banyak Muslim daripada non-Muslim. Tentara Pakistan, atas nama masyarakat dunia, saat ini berperang melawan terorisme,” ujarnya lagi.

Begitulah. Seperti baru kemarin saya merasakan spirit umat Muslim di antara semangat Aloha yang diwariskan tradisi dan peradaban Hawaii. Di negeri itu, dimana pluralisme dan keberagaman adalah kenyataan, manusia hidup berdampingan dengan damai. Di tengah peradaban seperti inilah, manusia bernama Barack Hussein Obama, yang kini memimpin Amerika Serikat dilahirkan. Toleransi dan penghargaannya yang tinggi pada pluralisme adalah aliran udara sejuk yang kita rasakan di saat kecurigaan dan bibit kebencian masih saja disebarkan tangan setan di antara kita.

Aloha Nui Loa.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s