Diprotes, Kekerasan Tentara di Jayapura

HARI ini, pada pukul 14.00 Waktu Indonesia Timur, sejumlah tentara mengamuk, merampas kamera dan mengejar para jurnalis di Jayapura, Papua.

Kejadian ini bermula saat para jurnalis memenuhi undangan Komando Daerah Militer Cendrawasih Papua untuk meliput acara di Batalyon 751 Sentani, Jayapura. Sambil menunggu acara dimulai, 4 wartawan (Oka Bharata/Antara, Anang Budiono, satu jurnalis TV dan satu jurnalis tak dikenal) makan di warung depan Korem. Tiba-tiba mereka melihat sejumlah tentara mengamuk, melempari batu kantor korem tersebut. Para tentara itu merebut dan membanting kamera Anang Budiono

Beberapa tentara melihat 4 jurnalis yang sedang makan tersebut. Mereka lalu merampas tas dan kamera mereka. Satu kamera dibanting. Lalu para jurnalis lari ke perkampungan warga. Mereka disembunyikan warga di rumah mereka dan diberi pakaian warga.

Para tentara terus mengejar mereka, sambil bertanya ke warga “Mana para wartawan itu?”. Para jurnalis ketakutan dan tidak bisa meliput peristiwa itu. Kini para jurnalis sembunyi di kantor Polsek Sentani, tidak satupun berani meliput. Polisi tidak bisa menjamin keamanan mereka apabila mereka meninggalkan kantor Polsek. Cunding Levi, anggota AJI Papua sudah menghubungi Pandam Trikora Mayjen AY Nasution agar mengendalikan anak buahnya, namun tidak direspon. Begitu juga AJI Indonesia sudah berusaha menghubungi telepon genggamnya, namun tidak diangkat.

Sampai saat ini beberapa jurnalis masih bersembunyi di rumah warga. Angel, kontributor VHRmedia.com mengaku tiarap di rumah warga dan mendengar tembakan. Seorang jurnalis Kompas mengatakan sampai saat ini tentara masih memblokir jalan-jalan umum. Jurnalis TOP TV luka pada kepalanya.

Para prajurit berunjuk rasa karena kecewa dengan atasan mereka yang tidak member santunan sewajarnya bagi seorang prajurit yang baru saja meninggal secara tidak wajar.

AJI Indonesia menilai, peristiwa ini membahayakan kebebasan pers. Kebebasan jurnalis untuk meliput dilindungi oleh UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers, dan pihak-pihak yang menghalang-halangan jurnalis diancam pidana penjara 2 tahun dan denda maksimum Rp. 500 juta.

AJI Indonesia meminta polisi melindungi para jurnalis, baik saat meliput maupun sedang tidak meliput. AJI Indonesia juga meminta agar TNI mengendalikan anak buahnya dan melakukan tindakan yang tegas bagi mereka yang menghalang-halangan jurnalis.

Jakarta, 29 April 2009

Informasi lebih lengkap:
1. Cahyono, anggota AJI Papua (08114900796)
2. Cunding Levi, ketua AJI Papua (08124899646)
3. Nezar Patria, Ketua AJI Indonesia (0811829135)
4. Margiyono, coordinator Advokasi AJI Indonesia (08161370180)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s