Pidato Terlarang: Mencari Pemimpin Transformatif

Saudara-saudara, pemerintah saat ini terlalu percaya pada mekanisme pasar ugal-ugalan. Hasilnya, selama pemerintahan Yudhoyono, anggaran program anti-kemiskinan naik 2,8 kali.

Sambungan dari Pidato Terlarang bagian pertama.

Tetapi jumlah orang miskin bukannya berkurang, tapi justru bertambah. Kenapa? Karena program anti-kemiskinan itu tidak efektif. Lebih banyak sebagai alat untuk menyenangkan rakyat sesaat, sehingga rakyat senang samanya beliau.

Yang kedua, yang lebih berbahaya lagi, adanya proses pemiskinan secara struktural. Yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh kebijakan. Ini lebih berbahaya dari yang pertama.

Saya berikan contoh. Dulu banyak industri rotan di kawasan pantai utara Jawa, mulai dari Cirebon, Semarang, Surabaya sampai Sidoarjo. Ratusan ribu rakyat kita bekerja di industri rotan ini. Tetapi pemerintah kemudian mengijinkan ekspor rotan mentah. Sehingga para pengusaha rotan (UKM) itu kesulitan memperoleh bahan baku. Akibatnya, ratusan ribu pekerja industri rotan menganggur. Sebaliknya, Cina yang mengimpor rotan mentah dari Indonesia, tiba-tiba muncul menjadi industri rotan terkemuka di dunia.

Contoh kedua. Pemerintah ngomong membela petani, rekapitalitas petani, tapi pemerintah juga mengijinkan lebih banyak ekspor pupuk ke luar negeri. Akibatnya harga pupuk di dalam negeri naik 40 persen di seluruh Indonesia. Pupuk jadi langka, sehingga banyak pupuk palsu. Semua ini bermuara pada menurunnya hasil petani kita.

Saudara-saudara, saya baru saja dari Pati, Jawa Tengah, beberapa minggu yang lalu. Saya baru bertemu dengan pengrajin perak dan kuningan di sana. Mereka memakai bahan baku perak bekas dan kuningan bekas. Ternyata kuningan bekas ini juga diijinkan untuk diekspor oleh pemerintah, sehingga para pengrajin logam itu kehabisan bahan baku karena banyak diekspor. Maka banyak pengrajin logam yang bangkrut.

Nah, kebijakan-kebijakan pemerintah yang bikin miskin rakyat seperti ini tentunya yang harus kita lawan.

Saudara-saudara, Indonesia ini kaya sekali. Banyak memiliki cawan-cawan emas, banyak memiliki industri pertambangan. Kekayaan alamnya luar biasa. Tetapi kalau pemimpinnya bermental “inlander”, tunduk kepada asing, maka rakyat kita tidak menikmati secara maksimum cawan-cawan emas ini.

Tadi saya katakan, kita ini produsen gas nomor satu di Asia. Tetapi di dalam negeri kesulitan gas. Kita juga eksportir batubara nomor satu di Asia. Tapi PLN kesulitan cari batubara. Industri kesulitan cari batubara. Kita produsen sawit nomor dua terbesar di dunia, tapi rakyat kita kesulitan minyak goreng. Kenapa? Karena cara berpikir pemerintah kita persis dengan cara berpikir mahasiswa kos-kosan.

Ya. Mahasiswa kos-kosan itu kalau tidak punya uang, caranya kan cuma dua. Pertama, ngutang, ngutang, yang makin lama makin diinjak sama rentenirnya, yaitu Bank Dunia dan bank negara kreditor. Dan yang kedua, kalau tidak punya uang, jual atau lego barang. Mula-mula, kalau mahasiswa, jual celana jeans. Ya, kan? (Hadirin tertawa!)

Lalu jual handphone, jual jam tangan, jual laptop. Buntutnya, bisa jual diri.

Nah, pemerintah ini pola berpikirnya tidak jauh dengan mahasiswa kos-kosan. Nggak punya uang, ngutang. Bukannya melakukan penghematan, melakukan pengurangan pemborosan, tetapi justru malah bisanya mengutang. Kedua, mental jual-menjual itu. Nah, kalau semua bahan baku, bahan mentah itu dijual, maka tidak akan ada pekerjaan untuk kita, untuk rakyat kita. Tidak ada nilai tambah untuk bangsa kita.

Coba lihat Singapura. Negara itu sebenarnya tidak ada apa-apanya. Tidak punya bahan bakar. Impor minyak dari Indonesia. Dikilangnya diproses BBM dari Indonesia, lalu dijual kembali ke Indonesia. Beli dari Indonesia, jual kembali ke Indonesia. Tapi mereka dapat nilai tambah, dapat pekerjaan paling banyak.

Jadi, pemerintah yang tidak memiliki visi, pemerintah yang tidak memiliki strategi, pada akhirnya hanya jual-menjual sehingga tidak ada pekerjaan untuk jutaan bangsa kita. Tetapi kalau pemerintahnya punya visi, bahan mentahnya sebagian diproses di dalam negeri, sehingga ada jutaan lapangan kerja, maka jutaan rakyat Indonesia tidak menganggur.

Jadi pemerintah yang mentalnya seperti anak kos-kosan ini, yaitu ngutang dan jual dan jual, mulai dari jual sumber daya alam, jual BUMN, sampai jual rakyat Indonesia sebagai TKI, ya karena dari awal dirinya sudah dijual.

Saudara-saudara, saya percaya, kita bisa melakukan perubahan. Saya yakin kita mampu melakukan hal itu.

Nah, hari ini saya beberkan contoh sederhana. Pemerintah berencana menaikkan harga BBM. Kok enak saja. Setiap harga BBM di pasar internasional naik, bebannya dipindahkan kepada rakyat. Padahal pemerintah yang seharusnya mengakui kesalahannya. Misalnya, karena terjadi penurunan produksi 300 ribu barel per hari. Kalau produksinya masih sama, 1,2 juta barel per hari, kita bisa menikmati kenaikan harga BBM itu. Tapi ini, lho, kok enak saja, situ yang kagak mampu, bebannya malah diturunkan kepada rakyat.

Saudara-saudara, Indonesia itu impor 300 ribu barel minyak mentah setiap hari dari Timur Tengah. Seharusnya kita bisa memperbaiki tata niaga minyak ini, agar biaya produksi BBM turun 20 persen, sehingga apa yang dikatakan subsidi itu akan menjadi lebih rendah. Kenapa kok nggak mau? Kan itu gampang. Banyak pertanyaan seperti itu: kenapa nggak mau? Tidak mau karena ada seseorang, orang Indonesia yang punya kantor di Singapura, yang disebut “Mr. Two Dollar”, artinya setiap dia impor dapat minimal US$2/barel, jadi pendapatan orang ini setiap harinya: US$ 600 ribu atau Rp 6 milliar.

Nah, kenapa pemerintah nggak berani ganggu dia, ngusut dia? Kenapa pemerintah ini bukannya menghapuskan sistem itu? Maunya main gampang, kerjanya main naikan harga BBM, ya sudah pasti kecipratan. Nggak mungkin pemerintah tidak cerdas. Masa soal gitu saja nggak ngerti. Jadi kalau pemerintah ini umumkan kenaikan harga BBM, kita harus lawan…! Kita harus lawan! Kecuali mereka (pemerintah) berani babat orang ini, yang tukang setor ini. Berani babat apa tidak!.

Saudara-saudara, sama juga dengan listrik. Kini tarif listrik dinaikan terus. Dikatakan pemerintah, subsidi listrik tinggi sekali. Tapi kalau kita tanya berapa kerugian PLN atas kerugian ketidakefisienan transmisi listrik, diprediksi kerugiannya hampir 14 persen. Paling tinggi di Asia.

Jadi, yang namanya subsidi, yang katanya besar dan lain-lain itu, sebetulnya lebih banyak akibat Pertamina dan PLN yang tidak efisien. Akibat pemerintahnya nggak mampu mengefisiensikan Pertamina dan PLN. Rakyat yang kena bebannya!

Saudara-saudara, apa itu “Jalan Baru”? Saya tidak mau menjelaskan detail dan teknisnya. Nanti ada papernya. Kita akan bagikan, dan nanti ada saatnya untuk diskusi. Nanti malam.

Jadi dalam acara hari ini ada presentasi dari kami. Kita diskusi sedikit. Nanti siangnya ada diskusi masalah sosial dan politik. Sehingga nanti ada rapat tertutup. Wartawan-wartawan nggak boleh hadir supaya kita bisa merancang tindak dan rencana aksi, jangan pasif.

Saudara-saudara, saya kira saya sudah bicara panjang lebar. Saya mau bicara sedikit lagi. Satu cerita. Saya mau bicara sedikit kejadian pada 2004, ketika saya menjadi penasihat ekonomi tiga calon presiden: Gus Dur, Pak Wiranto dan Pak Yudhoyono.

Saya nggak akan cerita siapa orangnya, tetapi salah satu di antaranya menang, jadi presiden. Waktu itu kami katakan, “Mas, kalau nanti jadi presiden, kita ikuti caranya Mahathir. Rakyat Malaysia itu kebanyakan tinggal di pantai barat, pantai timurnya kosong. Mahathir mengatakan, siapa yang mau pindah ke timur, satu keluarga akan dikasih 7 hektar tanah, dan dikasih kredit biaya hidup yang cukup untuk setiap keluarga. Mereka diminta tanam cokelat, sawit, dan lain-lain.”

Lima tahun kemudian, rakyat yang pindah ke kawasan timur tiba-tiba menjadi kaya. Dibayar habis kreditnya. Dua tahun kemudian, rakyat Malaysia yang kaya itu menjadi malas. Mereka lalu memanggil dua juta rakyat Indonesia sebagai tenaga kerja untuk menggarap kebun-kebun mereka.

Saya katakan kepada capres itu. Malaysia saja bisa, mosok kita nggak bisa? Tanah Indonesia kan jauh lebih luas dari Malaysia. Kita kasih tanah kepada rakyat kita yang mau pindah ke luar pulau Jawa. Daripada dikasih kepada konglomerat 3-4 juta hektar, kita kasih sama rakyat kita. Tetapi jangan ikuti program transmigrasi. Program transmigrasi itu sejak zaman Belanda hasilnya apa?

Tanah di luar pulau Jawa itu tidak sesubur di Jawa. Tanah yang diberikan kepada transmigran hanya 2 hektar. Generasi pertama betul-betul kerja keras, baru setelah satu generasi tanah itu subur. Tapi setelah itu anak-anaknya yang rata-rata tiga sudah besar. Lalu tanah yang dua hektar itu dibagi tiga. Hasilnya 0,7 hektar per orang. Lha, sama lagi seperti petani miskin di pulau Jawa.

Jadi kita nggak boleh mengikuti model transmigrasi seperti itu. Kita harus ngasih per keluarga itu 10 hektar. Agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial, penduduk daerah asli dikasih 20 hektar per keluarga. Itu lebih dari cukup. Kita kasih kredit biaya hidup, satu tahun satu keluarga satu juta, eh…satu bulan satu juta. Setahun hanya Rp 12 juta. Lima tahun, sampai panen Rp 60 juta. Plus bibit dan lain-lain, satu keluarga paling banter selama 5 tahun menghabiskan dana Rp 100 juta.

Kalau mereka nanti panen cokelat, sawit atau lainnya dari kebun yang luasnya 10 hektar, mereka akan menjadi kaya dadakan. Bisa naik pesawat, bisa jadi turis ke seluruh dunia, bisa kirim anak-anaknya ke sekolah yang bagus.

Saya ingat, saya ingat betul, capres mengeluarkan dua pulpen. Satu pulpen merah, satu pulpen hijau. “Mas Rizal, ini (ide) bagus sekali, saya akan lakukan,” katanya sambil menggarisbawahi paper saya itu. Tapi hingga tiga tahun kemudian, nggak pernah dengar ceritanya itu.

Satu lagi. Pada waktu itu kami katakan, kami kasih unjuk (kepada capres itu), anak-anak Indonesia pada usia sekolah banyak yang kurang gizi, terutama kurang protein. Kalau kita biarkan ini, akan ada generasi bodoh, brain-damage satu generasi. Kita mesti ikuti pengalaman pemerintah Jepang sehabis Perang Dunia II. Pada waktu itu Jepang kalah perang, pemerintahnya miskin sekali. Tetapi mereka tidak ingin generasi mudanya bodoh. Karena mereka masih ingin mengejar ketinggalannya dari Amerika, mengalahkan Amerika, paling tidak di bidang ekonomi.

Pemerintah Jepang memaksakan setiap anak dikasih satu butir telur setiap hari. Saya katakan kepada calon presiden tersebut, “Mas, kita kasih anak di bawah 12 tahun di sekolah-sekolah satu telur saban hari. Nanti kami cari susu, ya gimana cara dapat susu dua kali seminggu. Ini bujetnya untuk 5 tahun…!”

Bujetnya, anggarannya untuk itu semua, nggak ada artinya. Ini juga bagus dampak ekonominya, karena untuk itu kita perlu jutaan telur. Pasti peternakan (ayam) rakyat akan hidup. Saya katakan juga, kalau nanti program-program yang lain gagal, paling tidak orang akan ingat sama telurnya Mas…” Kembali Capres itu mengeluarkan bolpen merah dan bolpen hitam. “Ini bagus sekali,” katanya.

Sekarang, 3 tahun kemudian, tidak ada cerita tentang telur dan susu itu. Anak-anak kita yang kena gizi buruk banyak sekali. Terus bertambah.

Dan, ini belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia modern, orang Indonesia mulai banyak yang bunuh diri. Kok berani-beraninya? Wong tahu kalau mati bunuh diri, menurut ajaran agama mana pun, itu pasti masuk neraka. Jadi saking sulitnya ekonomi di Indonesia, saking tidak adanya harapan, sementara pemimpinnya nyanyi-nyanyi di televisi, ya lebih bagus bunuh diri saja.

Nah, kita berdosa kalau kita tidak lakukan sesuatu. Kita berdosa kalau suasana yang sebetulnya bisa kita ubah ini, tidak kita ubah. Ada jalannya, yang kalau tidak kita lakukan, kita berdosa…!

Saudara-saudara, dengan pikiran dan semangat seperti itu, kami ingin mengajak saudara-saudara untuk merapatkan barisan, untuk mendorong proses perubahan itu. Karena Indonesia memerlukan perubahan. Dan model pemimpin saat ini hanya pemimpin tawar menawar, pemimpin transaksional, yang tidak akan membawa Indonesia ke tingkatan yang lebih maju.

Kita perlu pemimpin-pemimpin yang transformatif. Nabi Besar Muhammad saw dan nabi-nabi lainnya adalah contoh pemimpin transformatif. Bangsa Arab yang jahiliyah, yang tidak beradab, bisa diubah menjadi bangsa yang beradab, menjadi bangsa yang madaninya maju.

Di kelas manusia biasa, di negara tetangga kita, ada juga pemimpin transformatif, seperti Lee Kuan Yew, yang membuat Singapura dari negara kecil yang tidak ada apa-apanya, menjadi negara berpengaruh di Asia. Mahatir Muhammad di Malaysia, yang rakyatnya 40 tahun lalu sama gembelnya dengan kita, dia ubah, dia bangkitkan, dia beri kesejahteraan kepada mayoritas masyarakat Malaysia.

Deng Xiaoping dan Zu Rong-ji di China, nggak ngurusin 200 juta orang, mereka mengurusi 1,3 miliar orang. Dan mereka bisa kasih makan semua rakyatnya. Kita yang penduduknya 230 juta orang, digudangnya Bulog nggak cukup beras. Cuma ada satu juta ton lebihlah. Yah, karena banyak tikusnya. (Hadirin tertawa!)

Saudara-saudara, Indonesia perlu pemimpin transformatif. Karena itu, tahun 2009 nanti, jangan pilih mobil-mobil bekas, karena seluruh Asia Timur dipimpin oleh pemimpin yang pakai mobil balap, bukan mobil bekas.

Sebetulnya Indonesia sudah dalam proses perubahan. Ada lima kejadian pilkada (pemilihan kepala daerah), di mana mobil bekas, tidak dipilih. Satu, yang bersih dan memiliki integritas, tiba-tiba terpilih, tokoh-tokoh besar kalah semua. Kedua, di Sulawesi Selatan, tokoh yang tidak dikenal, yang tidak didukung partai besar, tiba-tiba malah jadi gubernur.

Di Jawa Barat, mobil-mobil bekas juga kalah, digantikan oleh anak-anak muda. Dan di Sumatera Utara, nah, di Sumatera Utara agak aneh. Pemiilihan gubernur dimenangkan oleh kombinasi tua dan muda, tapi dua-duanya bukan tokoh terkenal, bukan mobil bekas.

Saudara-saudara, rakyat dan bangsa kita sudah dalam proses perubahan. Pemuda, aktivis pergerakan dan mahasiswa justru harus di garda paling depan, bukannya malah ngikut. Rakyat melakukan perubahan, pemuda mahasiswa malah duduk di belakang. Pemuda, mahasiswa dan aktivis pergerakan harus berada di garda paling depan dari perubahan. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 24 April 2008

Salam Perubahan!

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s