Mega dan Sultan Masih Mentah

“MEGA tidak begitu sreg pada Sultan.”

Begitu kata seorang teman, redaktur pelaksana sebuah media cetak di Jakarta. 

“Doi lebih sreg pada Prabowo. Tapi Prabowonya jual mahal. Katanya masih mau menunggu hasil pemilihan legislatif,” sambungnya.

Tak lama setelah bertukar sapa dengan teman ini, muncullah berita berikut: bantahan dari Megawati Soekarnoputri bahwa dirinya sudah mencapai kesepakatan dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk membentuk apa yang belakangan dikenal dengan koalisi Mega-Buwono.

Memang sepatutnya Mega menahan diri untuk tidak buru-buru mengumumkan calon pendampingnya dalam pemilihan presiden mendatang. Kalau terlalu cepat diumumkan, apalagi sebelum pemilihan anggota legislatif, Mega bisa kewalahan. Siapapun pendampingnya hanya akan jadi sasaran tembak lawan-lawan politik Mega.

Berikut berita yang saya kutip dari Kompas

KETUA Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri membantah bila saat ini sudah meminang resmi Gubernur Yogjakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk berduet pada Pilpres 2009 mendatang. Mega, secara diplomatis mengungkapkan, hingga kini partainya belum menyatakan secara resmi siapa yang akan dipinang.

“Jadi, kalau saya ditanya tentu saja saya sebagai pribadi tidak akan bisa menjawab. Karena nanti pun hasilnya akan dievaluasi terus menerus. Rakernas ini bisa saja muncul nama, apakah diputuskan atau belum, tergantung dari proses ber- Rakernas ini,” ujar Megawati saat menggelar jumpa pers usai membuka Rakernas PDI Perjuangan IV di Solo, Selasa (27/1).

Terkait dengan sosok Sri Sultan, Megawati mengemukakan, Sri Sultan adalah salah satu tokoh dari Partai Golkar. “Beliau kan, Ketua DPD Jogja, jangan dilupakan,” kilahnya.

“Yang membuat saya capres dari PDI Perjuangan, itu bukan dari saya pribadi sendiri, tapi keputusan Kongres partai. Saya tentu harus mendengar aspirasi, paling tidak kader PDI Perjuangan, bukan sekedar kumpul-kumpul,” tegas Megawati.

Megawati kemudian membantah spekulasi yang berkembang saat ini, dirinya memang sudah melakukan pendekatan khusus dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X dibanding calon lainnya. Megawati mengaku, dirinya secara bertubi-tubi ditanya, siapa yang akan jadi cawapresnya. Ia menegaskan tidak ada satupun yang punya keinginan jadi cawapres, semuanya menyatakan sebagai capres, mereka yang datang di Rakernas kapasitasnya sebagai tamu terhormat.

“Memang tidak tertutup hanya dengan lima nama yang sudah disebut. Kamu pun kalau mau, tiba-tiba berkeinginan untuk mendampingi saya, tidak tertutup kemungkinan itu,” tukas Megawati.

Sementara itu, mantan Memperindag Luhut Panjaitan menilai, sebaiknya PDI Perjuangan mengumumkan siapa yang akan menjadi cawapres Megawati Soekarnoputri setelah menunggu hasil Pemilu legislatif. Ia menilai, dengan strategi seperti ini, manuver PDI Perjuangan untuk bisa memenangkan Megawati sebagai capres, dapat dilakukan dengan baik.

“Kalau sudah diumumkan sejak sekarang, sebelum menunggu hasil Pemilu legislatif, tentu saja, pihak lain akan mencari celah, berupaya agar duet ibu Mega dengan Sri Sultan misalnya, gagal di Pilpres. Pengalaman pada Pilpres 2004 lalu, tentunya menjadi pelajaran berharga bagi Megawati dan PDI Perjuangan,” kata Luhut.

Dari sumber di internal DPI Perjuangan, dukungan terhadap duet Megawati dan Sri Sultan Hamengkubuwono (Mega Buwono) belum didukung secara bulat bila harus diumumkan secara resmi sebelum Pemilu legislatif.

Banyak elemen-elemen moncong putih menilai penyebutan cawapres ibu Mega secara dini. Alasannya, Sultan belum diyakini bisa mengakar di Jawa. Selain itu, Partai RepublikaN juga belum teruji, dan SBY akan mudah mematahkan ibu Megawati, mengurangi dukungan yang selama ini memang anti Presiden SBY,” ujar sumber itu.

Dalam pembukaan Rakernas, hanya Sri Sultan, mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso dan mantan Ketua DPR Akbar Tanjung yang datang. Sementara Prabowo,Wiranto maupun Ketua MPR Hidayat Nurwahid, tidak hadir pada acara yang diikuti oleh ribuan simpatisan kader PDI Perjuangan dari berbagai daerah di Indonesia ini.

2 comments

  1. Setuju bung TIMOER. Ibu Megawati Sukarno Putri mmg belum perlu menunjuk calon wakil presiden. Nanti2 aja Bu, kalau peta politiknya sudah semakin jelas…

    Kalau kesusu, Ibu Mega bisa repot. Apalagi nama-nama yang katanya masuk bursa, Sultan kek, Prabowo kek, Sutiyoso kek, (kalau Nurwahid saya tidak paham), ada bau-bau busuknya..

    Atau Bung, Bu Mega dipasangkan dengan Rizal Ramli saja.

  2. Kok aku enggak sreg – sama pemimpin yang feodal. Seperti Megawati – Soekarno
    HB X – Sultan

    Pemimpin yang bersedia berkorban, membaktikan hidupnya untuk kepentingan masyarakat , berani untuk tidak populer, menganggap kekuasaan adalah amanah – seperti Ahmadinejab gitu lho- aku berharap ada calon seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s