Sensitifitas Misteri Bom Bali

INI adalah email yang saya kirimkan ke sebuah milis untuk menanggapi komentar yang dikirimkan anggota milis mengenai sebuah artikel saya. 

X, sensitifitas memang sering bikin masalah. Beberapa orang karena terlalu sensitif menjadi cepat puas, menerima apapun yang ada di depan mata. Sebagian lainnya karena terlalu sensitif menjadi tidak mau cepat puas, merasa bahwa selalu ada penjelasan di balik penjelasan. Selain itu, siapapun paham bahwa manusia menjadi sensitif pada ruang dan waktu tertentu, pada hal-hal tertentu. 

Saya mengasumsikan Anda dan teman lain yang (mau) berkomentar mengenai posting saya beberapa hari lalu mengenai hukuman mati Amrozy Cs, membaca posting itu sampai tuntas (masuk ke link yang saya berikan). Artikel itu adalah my personal account, dipublikasikan di media massa juga di blog pribadi saya. Dan seperti biasanya, sebagai jurnalis saya selalu *bertanggung jawab* atas apa yang saya tulis. 

Kalau Anda belum membaca artikel itu (atau merasa tidak perlu membacanya), maka diskusi kita cukupkan sampai disini, dan saya tak merasa perlu melayani debat kusir. Untuk apa pula saya menyampaikan penjelasan (tambahan, if you will) pada pihak yang merasa tak perlu mengetahui apa yang saya pikirkan dan tuliskan. Kata beberapa orang, tindakan seperti itu adalah sia-sia, seperti buang angin buka celana. 

Diskusi ini, bila perlu, kita lanjutkan (atau tidak lanjutkan) setelah Anda menyatakan apakah Anda telah membaca artikel itu atau belum, atau setelah Anda menyatakan apakah Anda merasa perlu membacanya atau tidak. Kalau pun, mohon dicatat, Anda tidak mau atau tidak merasa perlu menanggapi email ini juga tidak mengapa. Bagi saya tidak ada masalah. 

Untuk semua warga milis: percayalah, artikel singkat tentang misteri yang tersisa di balik bom Bali itu saya tulis dengan niat baik, tanpa maksud menebarkan kebencian, apalagi bikin kerusuhan seperti yang dikhawatirkan Sdr. Y. Juga tidak dengan maksud mengabaikan korban (apapun kewarganegaraan dan warna kulit mereka) dan perasaan keluarga korban seperti yang secara tersirat tampak samar dalam email Sdr. X. 

Saya bukan satu-satunya orang yang tidak puas dengan anggapan publik yang mengatakan kasus bom Bali sudah selesai dengan hukuman mati Amrozy Cs. Ketidakpuasan saya itu bukan karena saya berada di pihak Amrozy Cs. Perlu saya sampaikan bahwa saya menilai Amrozy Cs bersalah atas perbuatan yang mereka lakukan [bagian ini ada di dalam artikel itu]. 

Saya mengikuti dengan hati-hati *perkembangan* kasus itu, dan karenanya menangkap beberapa kejanggalan dalam perkembangannya. Ketidakpuasan saya tersebut didorong oleh rasa ingin tahu yang mendalam tidak hanya pada peristiwa pengeboman Paddy’s Cafe dan Sari Club, juga pada konteks yang melahirkannya dan konteks yang dilahirkannya. 

[Repot banget ya? Ya, beginilah kerja jurnalis. (Harus) mau repot ngurusi hal-hal yang, mungkin, bagi sebagian besar orang tidak perlu direpotkan lagi.]

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Sensitifitas Misteri Bom Bali”

  1. saya belum ngeh dengan analoginya. padahal sudah berulang-ulang praktek langsung *buka celana untuk buang angin* untuk lebih menyelami maknanya. dibuka atau tidak, anginnya kok tetap bau ya… =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s