Cerpen: Hujan Turun di Nirbaya

“JADI je pikir, je itu Robin Hood dari hutan Sherwood, hah?”

Saiman masih terduduk menahah pedih air hujan yang membasahi luka di sekitar pelipis matanya. Sementara macan putih yang terajah di dada kiri Saiman terus dibasahi hujan dan darah yang mengucur deras.

“Dasar kriminil, teroris, sampah!”

Serentetan suara peluru mendesing. Bau mesiu merebak. Hujan terus turun ke bumi, mengalir, hingga ke laut.

“Godverdomme!”

***

Di sebatang pohon pinus, Saiman menyandarkan tubuhnya yang penat dililit lelah. Sambil terus awas matanya mengedar ke seluruh hutan. Malam memang baru saja membungkus hutan itu. Namun rasanya sudah berhari-hari Karto dan Bahri, dua temannya, menghilang tak kunjung menampakkan wajahnya.

“Aku tak percaya, mereka semua tak menginginkan ini! Makinya pada diri sendiri. Saiman kemudian menghempaskan pantatnya begitu saja ke tanah. Di kaki kirinya, darah dari dua lubang peluru telur menetes. Saiman meringis. Tangannya menggenggam dedaunan yang gugur.

Itu hari pelariannya yang keduapuluhdua.

***

Sebuah pisau menancap di paha kiri van Aken. Lelaki setengah baya itu terus menghiba-iba ketika Saiman dan kawananya melumpuhkan lelaki malang itu.

“Ampun Saiman, je boleh ambil kuda ik, boleh ambil pula kantong uang ik. Asal jangan bawa gundik-gundik ik,” rintih Sir John.

“Kami tak mau kudamu, atau hartamu! kami mau kau pergi! Kau dan semua bangsamu mesti keluar dari tanah kami!”

“Nee Saiman, kalau Ik pergi, bagaimana dengan kebun teh di bukit itu? Ik sudah suruh itu orang-orang kampung bekerja dan itu orang kita bayar,”

‘Tidak, sekarang, tanah itu punya rakyat. Ingat, kalau tak pergi juga malam ini, rumahmu, dan kau, kami bakar,” ancam Saiman.

***

“Saiman itu rampok! Ekstrimis!”

“Bajingan!”

“Pembunuh!”

***

“Benarkah kita merampok untuk rakyat? Benarkah kita merampas tanah mereka demi rakyat?” tanya Karto. Saiman belum bereaksi. Di tangannya karabin masih mengeluarkan sisa asap. Mesiu menyeruak ke udara. Di lantai rumahnya, Koh A Ling telah tewas dengan lubang besar di dada kirinya.

***

“Panjang umur Saiman!”

“Jayalah Saiman!”

“Saiman pembela wong cilik!”

“Ayo, kita rayakan kemenangan dengan melagukan puji-pujian untuk Saiman dan kawan-kawan,” seru seorang warga. Saiman, Karto, Bahri dan rombongan rampok itu dijamu oleh pesta. Mereka bersenang-senang, sepanjang malam. Hingga larut, dan pagi baru datang menyapa.

Itu perayaan terakhir yang digelar untuk Saiman Cs. Sebab, usai pesta itu, Saiman Cs dan beberapa temannya terlibat sebuah insiden yang yang mengantarkannya pada sebuah peristiwa… arsenal di Batavia dibakar!

***

Empat hari setelah pembakaran dan peledakan, pemerintah kolonial Hindia Belanda langsung memburu Saiman dan komplotannya. Dan sejak itu, dimulailah pelarian Saiman, dari satu hutan ke hutan lain, hingga di sebuah tempat di Lebak. Dia tersuruk, jatuh oleh timah panas yang dimuntahkan dari karabin seorang marechaussee.

***

“Saiman, engkau di mana?” tanya Karto yang muncul dari rerimbunan pohon perdu di hutan Lebak. Sementara Bahri mengekor Karto dengan wajah tegang dan dingin. Tak ada balasan dari Saiman. Malam itu, sang jagoan dari Pejambon tak kuat menahan sakit di kakinya.

“Aku di sini,” sambut Saiman menahan sakit.

“Mereka sudah di sini,” ujar Karto sambil mengeluarkan makanan dari bungkusan yang dibawanya.

“Sekarang bagaimana?” tanya Bahri mendekat.

“Kita pasti mati,” kata Saiman. “kalau kalian takut, kalian boleh tinggalkan aku sendiri,” ujar Saiman. Karto menggeram. Tak mungkin ditinggalkannya sahabatnya.

“Aku disini, bagaimana denganmu Bahri?” tanya Karto. Bahri tak menjawab. Langit malam semakin kelam. Hutan telah dipenuhi suara serangga dan binatang malam.

“Kita harus lari,” ajak Bahri.

“Tapi, lihatlah, Saiman terluka parah,” bisik Karto. Saiman sudah memejamkan matanya. Hanya kembang kempis perutnya yang menandakan manusia itu masih hidup.

“Kita hanya punya sebuah golok dan karabin yang tak beramunisi,” ujar Bahri.

“Kalau malam ini kita lolos…” sambung Bahri lagi.

“Sudah tak ada guna bagi kita melawan. Lihat, luka Saiman sudah semakin memburuk. Kalau kita menyerah, mungkin saja pemerintah masih mau memberi pengampunan,” ujar Bahri meneruskan. Saiman masih tergeletak meringis menahan tangis.

“Pengampunan tak pernah ada bagi kita, kulit warna. Sama seperti kita tak pernah memberi ampun kepada siapa saja yang tak sewarna dengan kulit kita,” ujar Saiman.

“Apa saranmu?” tanya Karto

“Kita melawan,” jawab Bahri

“Tapi kita tentu mati konyol. Kau tak lihat satu resimen tengah memburu kita? Mereka bersenjata lengkap. Tentulah dari jarak lima meter, kita bisa dihujani peluru,” ujar Karto sengit. Sambil bersiap memapah Saiman.

“Dan kalau kita menyerah?”

“Paling tidak kita hanya disiksa, dipaksa kerja rodi, paling berat beberapa tahun kurungan, hingga nanti teman-teman kita yang ada di Holland datang membebaskan kita,” ujar Bahri.

“Lalu, kau percaya dengan teman-teman priyayimu yang cengeng itu?” tanya Karto. Bahri terperangah.

“Apa maksudmu Karto, sekarang kita tak punya siapa-siapa lagi untuk diandalkan.”

“Sudah, berhenti!” kalian hanya punya pilihan, lari atau mati. Itu saja,” ujar Saiman sambil berusaha bangkit. Karto menahan tubuh Saiman yang lemah tak berdaya. Hilang sudah keperkasaan jagoan Pejambon itu.

“Aku disini, hidup mati, ada di tangan Tuhan,” ujar Saiman.

“Saiman,” ujar Karto dan Bahri nyaris bersamaan.

“Kalau kau memilih tinggal, tinggallah, Karto. Kalau kau mau lari, larilah Bahri. Tapi Saiman tak takut maut. Selembar nyawa ini punya Tuhan, bukan milik pemerintah. Kalaupun aku mati, maka Tuhanlah yang mengambil nyawaku, bukan pemerintah Hindia Belanda,” ujar Saiman.

Dari jarak setengah kilometer derap lars marechaussee kian jelas terdengar membuncah malam.

“Apa kau takut mati Bahri?” tanya Saiman dalam papahan Karto. Bahri diam sambil terus memegang sebuah karabin yang kosong.

“Sejujurnya aku pun takut mati. Tapi apa boleh buat. Ini sudah jalanku, aku tak mungkin keluar dari jalanku,” lanjut Saiman.

“Saiman, aku…” potong Bahri.

“Masih ada waktu untuk lari. Cepatlah, sebelum nanti mereka juga menemukanmu.

“Saiman,”

“Kau tetap temanku. Selalu,”

Suara derap lars semakin dekat. Dengan sekejap nyala obor telah mengepung hutan Lebak. Saiman terjepit. Di langit, awan telah menggumpal pejal. Suara karabin bersahut-sahutan, memecah kesuraman hutan dan kegelapan malam. Bahri tersungkur. Kakinya remuk dihantam peluru dan popor karabin.

***

Penangkapan Saiman dan kawan-kawan menjadi berita besar di Batavia. De Lokomotif bahkan memuat ringkasan penangkapan hingga proses peradilan Saiman Cs.

***

“Eksekusi mati,”

“Mati?”

“Tidak, dipindahkan,”

“Dipindahkan?”

“Saiman yang malang,”

“Meski garong, Saiman tetap pahlawan dihati kami,”

***

Diantara kesah resah warga, ada pula yang menghujat Saiman dan komplotannya;

“Nyaho!, biarin. Biar cepat mampus,”

“Bikin susah Negara!”

“Garong, sial!”

“Bikin malu Pejambon!”

“Inlander mesti mampus!”

***

Di dalam selnya, Saiman terus mengenang lembaran-lembaran hidupnya. Bagi dia, apa yang didapatnya hari ini bukanlah hukuman atas kesalahan yang pernah dilakukannya, membunuh orang yang tak sewarna kulit sama sekali bukan dosa. Membakar gudang senjata milik pemerintah kolonial adalah sebuah pekerjaan yang tentunya akan diganjar dengan surga. Begitulah Saiman. Dia tertawa puas dengan hasil kerjanya. Perasaan itu kian besar ketika dia mengingat bahwa hasil kerjanya membuat orang senang dan bergembira sepanjang malam.

Hari datang, hari pergi. Terus berganti. Kerja paksa sudah tak dirasakan lagi. Bagi dia semakin cepat waktu berlalu, maka semakin baik.

“Sekarang apa yang bisa dilakukan teman-temanmu yang priyayi itu?” tanya Karto kepada Bahri di sela-sela kerja paksa, memecah batu menjadi kerikil.

“Tidak ada yang bisa dilakukan mereka sekarang. Mungkin engkau benar, mereka hanya pelajar bodoh yang manja. Yang mabuk cinta pada noni-noni Belanda,” jawab Bahri. Karto tertawa, Bahri tertawa. “yang mabul cinta pada noni-noni Belanda,” ulang Karto.

Mendengar kesah dua sahabatnya, Saiman terseyum pilu. Sekarang dia baru paham. Di saat begini, tak ada orang yang sudi menyelamatkan dan peduli dengan keadaan mereka. Kemana semua orang pergi? Kemana semua orang yang dulu ikut berpesta melarikan diri? Kemana priyayi-priyayi dan pegawai rendah itu lari? Saiman ditinggalkan, Saiman ketakutan.

Malamnya, seorang opas masuk membuka teralis sel. Di pojok, Saiman tengah merenung. Sementara dua sahabatnya sudah lama terlelap setelah seharian bekerja. Keduanya meringkuk dalam dingin udara.

Perlahan tempias hujan masuk, dibawa angin, tatkala si opas menghampiri Saiman. “Kowe orang musti siap,” ujar sang Opas.

Saiman bangkit. Digulungnya celana, dan dirapikannya bajunya. Dihampirinya dua sahabatnya.

“Kawan, saatnya kita melawan,” bisiknya kepada Karto dan Bahri.

Ketiganya kemudian dibariskan dan dihalau keluar sel. Ke sebuah tempat. Sebuah tempat.

Sepanjang jalan, hujan terus turun dengan deras. Sementara hutan lebat di belakang sel semakin lengang dan sepi. Sesekali, kilatan mengampar, membelah langit bergemuruh.

Di sana, di ujung matanya, Saiman melihat hamparan luas lautan yang hitam.

Tiga buah tiang sudah dipacakkan. Sementara sebarisan pasukan berjas hujan telah menanti ketiga garong itu.turun dari dalam mobil yang mengangkut mereka.

Gemuruh menyambar. Hujan belum berakhir. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pada hitungan ketiga, Saiman, Karto dan Bahri melawan, hingga letusan benar-benar kedengaran mengalahkan deru hujan yang turun di Nirbaya.

Palmerah, 18 November 2008

Cerpen dari Hujan

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Cerpen: Hujan Turun di Nirbaya”

  1. ………….
    Mengharukan.
    Membangkitkan.

    Mbah kakung saya dulu juga maling (Robin Hood?). Dia salah satu pasukan maling Tebu Ireng yang khusus mencuri logistik Jepang untuk kemudian diserahkan pada pasukan gerilya di hutan.
    Saya selalu mendapat cerita dari ibu saya, bagaimana dengan ilmu menghilang ajaran pesantren Tebu Ireng, beliau dkk selalu dengan santai membawa gerobak sapi (!) lewat depan hidung penjaga, menguras isi gudang jepang, lalu melenggang kembali pergi. Mereka cuma mendengar bunyi klonengan, tapi tidak melihat apa2.

    Mbah selalu menyatakan penyesalannya karena dia cuma bisa maling, dan tidak pernah berani turun langsung ke pertempuran. Penyesalannya yang terbesar waktu pertempuran 10 November di Surabaya, dimana dia menyaksikan sendiri teman karibnya gugur tertembak, lalu dia malah kabur ke hutan..

    Mbah kakung meninggal pada tahun 1995.
    Terima kasih untuk cerpen yang bagus ini.
    Salam kenal :mrgreen: .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s