Memadu Krisis Ekonomi dengan Pepesan Kosong

SETELAH empat tahun berkuasa, Presiden SBY dan tim ekonomi propasar yang membantunya masih juga tak mampu mendorong pertumbuhan sektor riil.

Satu-satunya yang bisa dilakukan SBY adalah mengalihkan perhatian rakyat dengan slogan dan pepesan kosong.

Kritik ini kembali disampaikan ekonom Rizal Ramli yang sedang meniti karier menjadi calon presiden lewat Partai Bintang Reformasi (PBR).

Foto: Rizal Ramli (jas hitam) saat mendeklarasikan keikutsertaan dirinya dalam konvensi capres PBR.

Di sela halal bi halal yang berlangsung di kediamannya, Jalan Bangka IX/40-R, Jakarta Selatan (15/10), Ketua Komite Bangkit Indonesia (KBI) itu mengatakan bahwa yang terjadi selama SBY berkuasa adalah percepatan proses de-industrialisasi yang tak tertahankan.

Imbauan yang disampaikan SBY baru-baru ini agar masyarakat Indonesia menggunakan produksi dalam negeri pun dipandang Rizal Ramli sebagai lips service belaka. Bagaimana tidak lips service bila di saat yang sama Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu masih memanjakan produk luar negeri dengan jalan menerapkan tarif bea masuk antara 0 hingga 3 persen.

Imbauan agar masyarakat kembali menggunakan produk dalam negeri itu disampaikan SBY menyusul krisis ekonomi yang tengah menimpa Amerika Serikat dan Eropa. Agar tidak terkena dampak krisis, demikian SBY, masyarkat Indonesia harus memprioritaskan produk dalam negeri.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Eropa yang melambat karena terpaan krisis yang bermula dari lantai bursa Wall Street akan mengubah peta perdagangan dunia. Ekspor Republik Rakyat China ke Amerika dan Eropa akan menurun. Kenyataan ini akan membuat China mengirimkan barang-barang mereka yang “tak tertampung” itu ke negara berkembang yang sangat liberal seperti Indonesia.

Rizal Ramli yang pernah menjadi menteri koordinator perekonomian dan menteri keuangan di era Gus Dur juga mengatakan, bila Indonesia membuka diri tanpa memberikan proteksi yang berarti kepada industri dalam negeri, maka perubahan peta perdagangan internasional dapat dipastikan akan semakin mempersulit ruang gerak industri dalam negeri.

Rizal Ramli mencontohkan kondisi pasar garmen di tanah air. Saat ini, produk garmen China baik yang legal maupun illegal setidaknya menguasai 70 persen pasar garmen nasional.

Dengan dukungan teknologi yang baik, China mampu memproduksi batik imitasi dengan harga 60 persen lebih murah dibandingkan produksi batik di dalam negeri. Teknologi desain yang juga berkembang pesat di China pun membuat negara itu menciptakan motif batik yang sama bahkan mungkin lebih bagus daripada batik Indonesia.

Faktor-faktor inilah yang membuat barang-barang China bisa laris manis bagai kacang goreng.

”Sayangnya, kabinet Presiden SBY tidak mempercayai ideologi dan strategi. Mereka lebih percaya pada mekanisme pasar bebas ugal-ugalan. Jadi, janganlah berharap industri padat karya seperti batik atau industri pada umumnya akan jadi lebih baik,” demikian Rizal Ramli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s