10 Tahun Reformasi: Siapa yang Merusak Makna Masyarakat Madani

Oleh: Djoko Edhi S. Abdurrahman

SAYA tak tahu amanat umat yang bernama Madani itu berada di mana saat ini. Tapi saya tahu siapa yang wajib ditanyai jika Antum perlu mencari yang bertanggungjawab menghilangkannya.

Hal itu, karena saya melakukan pencatatan a la tasyri cukup bernas untuk menggenapi hasil-hasil penelitian saya (JMC Research) terhadap gerakan “mahasiswa demonstran” di Majalah Forum dan Gatra saat Jakarta dibakar, ditembaki, dijarah, diperkosa, dst: kini kian absurd. Coba Antum tanya Madani itu kepada Amien Rais, ia taruh di mana barang itu kini?

Juga dimuat di www.myrmnews.com.

Risalah ini bukan revance atas pe-recall-an saya dari DPR oleh Amien Rais (karena saya menolak mencabut Hak Angket Skandal KKN Kredit Macet Bank Mandiri berjumlah Rp 20,1 triliun yang mau di-write-off oleh ECW Neloe itu – ah, pakai beleid lain, recall saja penghulunya, otomatis batal hak angket itu: via Kunker Mesir dengan dakwaan bikin Abi Nuwas Qonun, by design obligor CS, recall itu mulus. Toh, saya ikhlas, karena uang rakyat itu gagal dirampok, Neloe masuk bui, judi terkubur rapi jali, lebih dari yang saya pikirkan).

Menulis Madani kini, semata permintaan Usman Hamid, bosnya Kontras, karena diantarnya dengan SMS yang merangsang libido ilahiah saya; karena saat ini Allah yang laisa-kamislihi-saiun itu, tak hadir di ruang publik, padahal sangat berhubungan dengan frasa Madani yang, pemilik hak patennya – Muhammad SAW — sedang coba dibajak oleh banyak orang untuk sekadar mewarnai kreativitas gaya hidup anyar demokrasi anyar.

Suatu petang magrib di Balai Rakyat Matraman, di base camp saya di sebelah kampus Universitas Islam Jakarta (UIJ), frasa Madani tadi diulang-ulang oleh para Korlap Demo FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta), KAMURRI (Kesatuan Mahasiswa Untuk Reformasi Republik Indonesia), dan FORKOT — yang bekerja sebagai peneliti saya, usai bulan-bulan ganas anarkis yang lalu melengser rezim Soeharto, 1998, dan yang telah membuat bidang usaha riset saya itu bangkrut.

Lebih semusim monsoon di Madura sejak Reformasi, Madani beroleh curah tuma’ninah anak-anak muda itu, berupa penjelajahan etimologis – epistimologis – ontologis, konfirmasi kritis antrop a la usthurah Muhammad Arkoen, dan emosi ilahiah yang tengah mencari format kekinian keindahan Rasulullah.

Assesment mereka serius. Dilakukan via ilmu sejarah dan filosofi madiniyyah hingga asal-wal-usul argu khilafat Shi’at ketika menolak Abu Bakar menjadi khalif karena dinilai tak mewakili ahklak.

Para “mahasiswa demonstran” itu, sebagian besar ialah peneliti pemula, merupakan aktivis FKSMJ, mahasiswa Cipayung, kelompok Usro’ dari UI, IKIP Jakarta, IAIN, KAMMI, dst. Jauh hari, mereka telah terlibat dalam proyek penelitian saya, dengan upah kecil, yang lalu dihabiskannya untuk ongkos menuju demo sejak Orba hingga Reformasi.

Manajemen mengambil beleid untuk mendorong mereka agar mampu mendulang pengetahuan detil tentang data, metodologi, teknik analisis, substansi kegiatan ilmiah riset, dan yang tidak, untuk keperluan pragmatis.

Subtansi itu, adalah pemahaman detil “apa” yang diteoremakan sebagai “development” dalam postulat Orba yang, alergi komunis dan sayap radikal Islam Indonesia demi sakralitas konstusi dalam menjaga status quo.

Tak mudah memahami pembangunan negara Orba. Argu pemahaman detil Trilogi Pembangunan Nasional dalam data processing, nyatanya berfungsi efektif mencuci otak “mahasiswa demonstran” dalam rangka mengakselerasi proses metamorfosisnya untuk membiak jadi “kader parlemen jalanan yang sangat militan”, justru karena memahami masalah dengan baik.

Fakta pula, mereka itu pengusung frasa Madani. Belakangan, anak-anak muda itu dijuluk ordo sejarah: Angkatan 98. Kiranya jelas korelasi eksistensial Angkatan 98 dengan gerakan Madani, dan siapa Angkatan 98.

Mereka seolah merujuk naskah SAYMEI yang saya tulis, akronim: SAYA DI BULAN MEI – menutur tentang Tionghoa yang dibunuh dan diperkosa secara biadab yang juga tak mampu kita bela. Jadi, frasa Madani dengan cepat berubah menjadi idiom Anti Biadab.

Idiom adalah bentuk akhir kesempurnaan digjaya simbol komunikasi verbal manusia yang tak butuh presentasi detil. Sampai di situ, Madani sudah generik. Tak peduli agama apa pun saat itu, nyaris semua lapis publik mengkonsumsi Madani sebagai icon karyanya: sebuah identitas.

Madani menjadi mode, motoris, mencapai zona elit publikasi pasar tingkat branded, juga dipicu mayat si Musa dan Elang Permana Cs yang tak mampu kita bela. Madani, tak lagi sekadar komunikasi merk produk yang harus dipajang. Luar biasa!

Arti Madani sama dengan madiniyyah ialah beradab. Rasulullah mengambil kata itu untuk mengganti nama kota Yatsrib menjadi Madinah. Artinya “kota yang beradab”, ialah ketika Rasullullah memberlakukan prinsip kepemimpinannya berdasarkan Trisila Piagam Madinah (Madani Makki): (i) Ukhuwwah Islamiyyah, (ii) Ukhuwwah Bashoriyyah, (iii) Ukhuwwah Wathoniyyah. Yaitu, kerukunan hubungan Muslim – Muslim, Muslim – NonMuslim, Muslim – Asing, ialah terminologi “rahmatan lil ‘alamin” dalam wahyu Madinah – sebuah sistem pemerintahan.

Sebelumnya, kota-kota itu berada dalam suasana jahiliah, jahat, bengis, tak beradab. Dengan momentum Piagam Madinah, Rasulullah mengubah kota biadab Yatsrib menjadi kota beradab, kota dengan satu adab, kota dengan kepemimpinan berkepastian hukum.

Namun yang diabsah oleh Majelis Subuh, adalah Madani Nabawi, dalam gerakan Rasulullah, ditandai peletakan pedang kembar sebagai simbol Islam selaku ad-daulah, dengan perintah utama pembersihan musyrik (internal).

SAYMEI adalah deskripsi saya tentang perjalanan Angkatan 98 di kota Jakarta yang tak beradab, ibukota yang memanggang hidup-hidup ribuan warga negaranya dengan alasan politik. Icon Madani berkembangbiak sejak tragedi panggang-memanggang itu, merupakan gerakan filosofi paradoksal di puncak peristiwa langsernya Pak Harto dari kursi kepresidenan 21 Mei 1998. Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s