10 Tahun Reformasi: Demokrasi Lapar Duit, Lahirkan Agamawan Koruptor

Oleh: Djoko Edhi S. Abdurrahman

POSISI kekuasaan presiden versus legislatif, sangat jomplang: presiden minus kekuasaan, sedang legislatif surplus kekuasaan. Bersedianya PDIP masuk dalam pendongkel Gus Dur, telah mematangkan Sidang Istimewa Penggusuran Gus Dur final.

Gus Dur paham, bahwa ia mustahil menang melawan legislative heavy yang dipimpin Amien Rais itu. Perlawanan yang ia lakukan, adalah perlawanan seorang NU melawan Muhammadiyah, persis mokongnya perlawanan Hasyim Asy’ari melawan Achmad Dahlan dalam kasus Komite Hejaz yang diekstrimkan dengan idiom “nahdlah” – bangkit untuk melawan!

Juga dimuat disini.

Dari kualitas kesetiaan Islam seperti sejarah lampau itu, nasib Madani yang mutlak butuh ummatan wahidah, sebenarnya sudah sekarat. Juga di masa depan, sepanjang Madani hanya bertemu orang-orang yang pendidikan agamanya bagus, posisi sosial agamanya bagus, ibadatnya aduhai, tapi tabiatnya, hobi mendulang laba a la Snouck Hugronje.

Gus Dur kalah. Nahasnya, sekonyong pula libido mengkolase replika kepemimpinan Rasulullah ikut goodbye dalam hiruk pikuk penggusuran Gus Dur yang terkapar mengenaskan bersama mayat Madani. Jangan bilang Amien Rais tak mudheng harga yang dibayar umat: ia seksama ikhwal itu.

Uniknya, Amien Rais bangga menyerahkan kekuasaan itu kepada Megawati: mau ke mana sih Antum? Belakangan jatuh ke jenderal militer lagi, rapi jali pula dijagai eks penguasa Orba, masih tetap ABG (ABRI – Birokrat – Golkar). Tengok saja chemical konstantanya, cuma berubah solek, juga masih tak kapok dengan Yatsrib! Total jenderal, laksana hukum Avogadro, sebelum dan sesudah reformasi, hasilnya sama, ha, ha, ha, hik, hik, hik…

Refomasi pasti tak secelaka kini jika akad Madani tak dikhianati. Antum makarillah order Al Maidah, (1): “Hai orang yang beriman, tepati janjimu…

Pemimpin yang khalif, tunai janjinya sama besar dengan imannya, sehingga penguasa seperti itu lebih ilahiah, lebih bermoral, lebih beradab – antinomi Niccolo Machiaveli dalam Il Principe — niscaya imajinasi berkorupsi tak sedahsyat India, Malaysia, atau Timur Tengah. “Jangan menerima amanat jika khawatir tak mampu menunaikannya,” pesan Quraisy Syihab, Ramadhan lalu di Metro TV.

Saya terkesiap waktu menanggapi asumsi Wakil Rektor Universitas Paramadina, Yudi Latif di forum pra kongres Prodem. Bahwa, kata Yudi, Islam bekerjasana dengan kekuatan pasar (kapitalis), ialah filantropis yang merongrong dan menyabotase instrumen demokrasi prosedural, biang determinan kian jauhnya reformasi dari demokrasi subtansial.

Subtansinya, sebagai sunber moral, Islam menderita unusual behavior of power, perilaku menyimpang berkuasa dengan pengkhianatan cita Madani.

Ya itu tadi, demokrasi tanpa moral building itu, yang tak menyertakan ilahi itu, yang lapar duit itu, yang memilih khalif cukup berdasar keterwakilan banyak duit – tanpa asal usul duit — bukan mewakili akhlak seperti didawuhkan Rasulullah. Lima tahun mendatang, kita akan sibuk menurunkan para penjahat itu!

Seorang karib, pemimpin LSM, cepat membisiki saya, “Jangan bicara Islam, orang tak suka, tak laku”, katanya serius. Busyet. Saya tak suudzon. Ia Madura sekampung saya, dan banyak respon senada sebelumnya. Di berbagai hasil penelitian pun, gencar dipublikasi bahwa parpol Islam adalah parpol paling tak disukai responden. Cukup jelas, ada yang tak beres di tubuh Islam Indonesia. Dulu, tak disukai rezim, kini publik.

Sulit memfalsifikasi kejatuhan Islam yang sebelum pengkhianatan terhadap Madani — reformasi itu — kedudukannya mencapai derajat tertinggi dreaming publik sepanjang sejarah. Setelah dikhianati, terperosok ke titik nadir, peripheral. Andai logika laisa-kamislihi-saiun itu sama seperti logika saya, “si baharu” dalam istilah Maturidi, kiranya mudah mendakwa: laknat itu akibat perilaku menyimpang Antum kepada Madani! Antum mengkhianati Rasulullah!

Tengok cemooh dan nista kian banyak, vulgar. Akidah diserang, rasul diganti Mosadeq dan Mirza Gulam Ahmad, yang terakhir seolah membangkitkan kembali dialog romantisme Syari’ah Pakistan di Indonesia, padahal sudah kehilangan kontekstual tirani, sedang masalah utamanya karena gagal membangun Hukum Publik Islam Indonesia, lalu mengukuhkan fatalisme apriori publik terhadap Islam Politik.

Publik tak bodoh, tahu bahwa kegagalan Madani akibat ulah Islam Politik, yaitu Parpol Islam. Kini mereka menghukum Islam Politik yang dalam hasil penelitian Skh Kompas, Parpol Islam adalah parpol yang tak menarik. Dan, salah satu korbannya adalah PPP, padahal cuma follower.

Sekarang kita juga sadar, hasil reformasi tanpa Madani itu, menghasilkan demokrasi yang lapar duit, telah mendorong para agamawan jadi koruptor untuk membiayai demokrasi lapar duit itu. Sejak penangkapan Rokhmin Dahuri hingga Hamka Yamdu, semua tangkapan KPK adalah Agamawan Muslim. Ini jelas laknat, hasil uji premisnya, agamawan = bandit, wow.

Jika Madani yang jalan, niscaya demokrasi tak seganas kini. Minimal aura ilahiah hadir di ruang publik — bukan cuma rangkaian berhala dan berhala kekuasaan di mana negara rame-rame kita dorong ke ranah biadab. Jika Madani menang, ahlak yang jadi parameter rekruitmen khalifah dalam ridho Allah, bukan laknat Allah. Ironisnya, pemimpin yang naik ke singgasana karena mewakili akhlak, justru muncul di AS, yaitu Barrack Obama.

Saya yakin, laknat kepada Islam Indonesia itu akan berakhir, jika para pengkhianat Rasulullah itu minta maaf. Tapi saya tak tahu caranya. Mungkin Angkatan 98 punya kiat lain? Selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s