Kudeta Timor Leste: Reinado ke Rumah Horta untuk Berunding

SPEKULASI di balik aksi tembak menembak di rumah Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta (Senin pagi, 11/2) yang menewaskan pemimpin kelompok Petisioner Mayor Alfredo Reinado semakin berkembang.

Mengapa Reinado turun gunung? Apakah ia memang berniat menghabisi nyawa Horta? Bukankah Horta yang dalam beberapa kesempatan memperlihatkan sikap lunak dalam menghadapi pemberontakan kelompok Petisioner? Bukankah Horta yang meminta agar pasukan PBB menghentikan pengejaran terhadap Reinado? Bukankah Horta yang meminta agar pembicaraan damai dengan kelompok Reinado kembali digelar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar tanpa menemukan jawaban yang meyakinkan.

Tulisan ini juga dimuat di myRMnews.

Pertanyaan berikutnya, mengapa dengan mudah Alfredo Reinado dan kelompoknya datang ke rumah Horta? Mengapa tidak ada penjagaan yang ketat di sana?

Sedemikian mudahnya Reinado mencapai mulut pintu halaman rumah Horta, sampai banyak orang Timor Leste yang bertanya-tanya: jangan-jangan kehadiran Reinado bukan dalam rangka untuk menghabisi nyawa Horta, melainkan untuk berunding demi mencari jalan keluar atas krisis yang berkembang sejak Mei 2006 itu.

Kelompok mahasiswa Timor Leste di Hawaii yang terus mengikuti perkembangan di tanah air mereka mendengarkan begitu banyak informasi mengenai peristiwa di balik kejadian ini. Namun sedemikian jauh, belum ada informasi yang meyakinkan. Semuanya baru sebatas kabar burung.

Namun begitu, beberapa peristiwa sebelumnya yang terjadi di Timor Leste berkaitan dengan pemberontakan kelompok Petesioner membawa pada satu kesimpulan bahwa kedua pihak, Reinado dan Horta, bersedia memulai kembali dialog.

Sejauh ini banyak orang Timor Leste yang percaya bahwa Horta adalah tokoh nasional yang dapat memediasi pertentangan antara kelompok Reinado dengan pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Xanana Gusmao. Horta, si penerima Nobel Perdamaian 2006 itu, masih percaya pada jalan dialog untuk memecahkan kebuntuan.

Pendekatan yang dimiliki Horta memang berbeda dengan pendekatan yang digunakan Xanana, juga Mari Alkatiri ketika masih menjabat sebagai perdana menteri dalam pemerintahan sebelumnya. Ketiga orang ini pun memiliki latar belakang yang sedikit banyak berbeda.

Baik Xanana dan Alkatiri dibesarkan dalam iklim perang gerilya. Hukum militer, terutama bagi Xanana, berada di atas segalanya. Desersi seperti yang dilakukan Reinado dan pengikutnya dua tahun lalu, dalam tradisi militer, adalah kesalahan fatal yang tak bisa diampuni.

Jalan pikiran serupa juga dimiliki Alkatiri, walau ia tak menghabiskan waktu bergerilya sebanyak Xanana yang menjelajahi hutan Timor Leste sambil memimpin gerilya saat negara itu masih diduduki Indonesia.

Keduanya berbeda dengan Horta, diplomat yang percaya pada jalan diplomasi; diplomat yang percaya bahwa dalam pertikaian dan konflik, jalan pertama untuk menyelesaikan masalah adalah dengan dialog. Dan selama ini, sejak kerusuhan terjadi dua tahun lalu, dia menilai belum ada dialog yang cukup memadai digelar kedua belah pihak.

Horta hendak membuktikan bahwa jalan pikirannya, membuka pintu dialog bagi kelompok Reinado, adalah tidak salah. Bagaimana mungkin, barangkali begitu pikir Horta, dirinya yang menjadi mediator di banyak konflik di banyak negara, tak bisa menangani konflik di negara sendiri.

Jalan pikiran seperti ini yang mendukung asumsi kalangan yang percaya bahwa niat utama Reinado datang ke rumah Horta pagi itu bukan untuk menghabisi nyawa sang presiden, melainkan untuk berunding.

Tetapi kalau memang ingin berunding, apakah perundingan itu atas undangan Horta. Atau apakah Reinado hanya go show, seperti orang Jakarta yang mau terbang ke luar kota datang begitu saja mencari tiket di bandara?

Katakanlah kemungkinan kedua ini yang terjadi. Reinado ingin pembicaraannya dengan presiden dilakukan begitu saja, tanpa protokoler dan tanpa basa-basi. Maka ia datang di pagi hari.

Pun begitu, Reinado tetap membagi dua pasukannya. Sementara ia bersama beberapa pengawalnya menuju kediaman Horta, satu pasukan lagi diminta siap siaga menanti apapun kemungkinan yang bakal terjadi.

Pagi itu anggota Reinado hanya tahu bahwa tujuan mereka ke rumah Horta adalah untuk berunding. Begitu setidaknya pengakuan seorang pendukung Reinado yang terdengar sampai ke Hawaii.

Adapun Horta, seperti dalam tulisan yang kemarin, di pagi hari itu sedang jogging seperti biasa.

Begitu mobil tiba di depan rumah Horta, Reinado turun dan mendatangi pos penjaga. Ia yang datang dengan pakaian lengkap, berikut rompi berisi magazine senjata otomatisnya, diminta menyerahkan senjata. Lalu entah bagaimana, bagian ini masih samar, terjadilah aksi saling tembak antara dua pasukan itu.

Seperti tulisan sebelumnya, dalam tembak menembak inilah Reinado tewas. Kemungkinan tangan kirinya yang lebih dahulu terkena tembakan sehingga senjata terlepas dari tangannya. Dalam gambar mayat Reinado yang beredar luas sejak kemarin, dapat kita saksikan jari kelingkingnya rusak, dan darah segar mengalir deras.

Luka di tangan kiri itu membuat Reinado kehilangan kontrol. Dia sudah tidak awas lagi. Dalam keadaan inilah satu, atau mungkin dua, peluru menghantam mata kirinya. Reinado tewas.

Kehilangan Reinado adalah pukulan besar bagi pasukannya. Belum lagi pertempuran berhenti, datanglah rombongan Horta besama pengawalnya yang lain. Dan, kontak senjata kedua pun terjadi. Pada kontak senjata inilah kabarnya Horta tertembak pada bagian perut, punggung, dan dada.

Setelah tembak menembak berhenti, pasukan Reinado melarikan diri. Mungkin beberapa dari mereka menyampaikan kabar kepada “pasukan cadangan” Reinado yang diperintahkan bersiap-siaga. Mendengar kabar kematian sang panglima, mereka pun berang dan berniat membalas dendam. Satu-satunya tempat yang mereka tahu adalah kediaman Xanana di atas bukti.

Di saat bersamaan, Xanana yang telah mendengar kabar tentang tembak menembak itu pun dalam perjalanan ke rumah Horta. Di tengah jalan dia dan pengawalnya bertemu pasukan kedua Reinado. Kembali terjadi aksi saling tembak. Dan setelah itu yang kita tahu Xanana tak terluka dan dapat menyelamatkan diri ke pusat kota Dili.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s