Ya Ganyang Malaysia, Ya Ganyang Indonesia

SULIT BENAR. Tadinya saya sudah “berjanji” dalam hati tidak akan mengirim posting apapun di milis manapun. Janji ini terutama setelah saya membaca (lagi) tulisan Kang Jalal yang saya hormati, yang diposting oleh Bu Ida beberapa waktu lalu. Terima kasih Bu Ida.

Tetapi beberapa hari lalu dan kemarin, terkirim jugalah dua cerita dari masa silam, yang tak ada hubungannya sama sekali dengan konteks apapun saat ini (kecuali kalau mau disambung-sambungkan).

Biasanya, dan mestinya, dalam etika permilisan ditulis kata “OOT:” atawa out of topic sebagai pembuka subject e-mail atau posting. Sehingga pembaca, anggota milis, dapat mengerti sifat dari e-mail itu, dan tak perlu repot membukanya kalau memang merasa sedang tak membutuhkan sesuatu yang OOT. Tetapi, kata beberapa aktivis permilisan di banyak milis, e-mail yang bersifat OOT kadang berguna juga.

Agaknya saya pun menerima pandangan ini, walau saya tak cukup yakin apakah OOT yang saya kirim, khususnya dua yang terakhir, ada gunanya atau tidak.

Tadinya, saya hanya ingin mengirim OOT sekali saja, atau melanggar janji saya sekali saja, yakni dengan mengirimkan OOT pertama tentang Abu Kamal, kota kecil di perbatasan Syria-Iraq yang sungguh eksotik untuk ukuran saya dan karena itu menawan hati saya sampai ke bagian paling dalam.

Saya masih ingat, kabut belum lagi pergi meninggalkan bumi ketika saya berhenti sebentar di tepi sungai Euphrates, menuruni tebingnya ekstra hati-hati, lalu jongkok dan membasuh wajah saya dengan airnya yang dingin itu. Ini adalah sungai yang menghidupi Mesopotamia sejak ribuan tahun lalu, sungai yang juga memberi kehidupan pada peradaban manusia sesudahnya.

Tetapi, karena Bu Rini bertanya mana kelanjutannya, maka saya kirim tentang Anne Frank di Bergen Belsen. Belakangan saya sadari bahwa OOT yang kedua juga bersifat OOT terhadap OOT yang pertama.

Selain di milis kita, saya juga melanggar janji di milis Mediacare. Menyambut peringatan malam jahanam 1965, saya kirim tulisan (sebenarnya mengutip saja) pernyataan Bung Karno tentang berita-berita yang menyebutkan bahwa kemaluan para jenderal disilet oleh Gerwani, yang beredar luas di awal Oktober dan disebarluaskan pertama kali oleh harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha yang memang dimiliki tentara.

Dalam tulisan itu saya juga mengutip pandangan Ben Anderson tentang mengapa dan untuk maksud apa berita-berita pemotongan alat kelamin para jenderal itu disebarkan Angkatan Darat, khususnya klik Soeharto. Saya juga mengutip sedikit tentang laporan teman dari RCTI yang mewawancarai dr. Arief, salah seorang anggota tim forensik yang memeriksa jenazah para jenderal, dan menyerahkan laporannya ke Bung Karno dan Angkatan Darat. Dr. Arief yang punya nama Tionghoa (saya sedang lupa) masih hidup dan tinggal di Salemba. Selama ini dia tiarap. Tetapi 20 tahun dia bekerja sebagai kepala forensik di RSCM, sebelah PPB UI.

Lalu, janji juga saya langgar di milis Jurnalisme, kemarin. Saya akhirnya bereaksi terhadap seruan untuk menghapuskan hukuman mati. Kalaulah saya berada di Jakarta hari ini, pastilah saya ikut bergabung dalam aksi damai yang digelar kawan-kawan Kontras bersamaan dengan kunjungan mereka ke Kejaksaan Agung. Tadi pagi saya mendapatkan SMS tentang kegiatan ini dari Jakarta.

Saya mendukung seruan menghentikan hukuman mati ini bukan baru sekarang, dan bukan karena Amrozi cs yang akan berdiri di depan regu tembak. Saya masih ingat pada suatu tengah malam, pulang kerja, di atas ranjang, istri saya bercerita tentang eksekusi mati bagi Tibo cs. Ia, wanita yang perkasa itu, bercerita sambil mengucurkan airmata… Kalaulah ada yang dapat kami lakukan untuk menghentikan hukuman mati itu…

Janji itu sudah jebol. Tetapi saya akan coba berhati-hati. Saya tak mau menyakiti. Bukan karena Idul Fitri sebentar lagi. Tetapi karena–saya baru ingat lagi sekarang–betapa saya membenci komunikasi model begini, komunikasi yang didimediasi, yang diberi jarak oleh piranti. Membenci karena dalam komunikasi model begini seringkali A jadi A aksen, dan sebagainya dan seterusnya. Yah, agak inkonsisten bila ditilik dari pekerjaan saya sebagai media-man…

Kini soal Indonesia dan Malaysia. Benar bahwa Malaysia kini bukanlah Malaysia dulu di era Bung Karno. Ketika memperingati Hari Buruh 1 Mei 1965, BK berkata:

SAUDARA-SAUDARA, kita mengatakan bahwa Malaysia adalah proyek neo-kolonialis. Aku berkata, Malaysia adalah suatu proyek neokolonialis, dan aku berkata, Malaysia adalah juga suatu proyek imperialis.

Neo-kolonialis karena Inggris mengkonsolir, menjajah Malaysia itu, atau lebih tegasnya Malaya, Singapore, Brunei, Serawak, Sabah dengan cara-cara baru, dengan cara neo—neo itu artinya baru—bukan dengan cara terang-terangan seperti dulu Belanda disini mengatakan bahwa Hindia adalah Hindia-Nederland, mengatakan bahwa semua pemerintahan disini, di Indonesia ini, adalah di dalam tangan negeri Belanda.

Tidak, Inggris mengatakan bahwa Malaya, Singapore, Sabah, Brunei ini, oo, untuk mereka sendiri. Pemerintahannya dalam bentuk baru. Tetapi pada hakikatnya masih Inggris yang memegang tampuk pemerintahannya, oleh karena itu dinamakan neo-kolonialisme baru, bukan kolonialisme biasa.

Hari ini konteksnya jauh berbeda. Indonesia kini juga bukan Indonesia yang disuarakan BK ketika itu.

(Saya minggu lalu menyelesaikan tugas midterm untuk POLS 600, tentang nasionalisme Orde Baru dan nasionalisme Sukarno, juga kritik atas nasionalisme seperti yang disampaikan Ben, dan pemikiran nasionalisme oleh sejarawan Yahudi Hans Kohn. Setelah kurang tidur selama berhari-hari, akhirnya selesai dalam 13 halaman, satu spasi. Sempat ada niat juga mengirimkannya ke Ibu Mira. Tapi nanti-nantilah.)

Tengah terjadi perdebatan di sebuah milis (yang saya malas menimpali, karena satu dan lain hal) mengenai wajah kapitalisme Indonesia di zaman Soeharto (yang menurut saya masih berlangsung hingga kini, bahkan dalam tingkat keparahan yang lebih tinggi).

Satu pihak mengatakan bahwa premis kapitalisme yang dilahirkan oleh individualisme dan liberalisme tidak terpenuhi. Uang dan kekuasaan berada di tangan nyaris hanya satu pihak (Cendana dan cronies). Toh Indonesia bangkrut juga. Di sisi lain, masih kata orang yang sama, bukankah terapi neo-liberalisme yang ditawarkan oleh IMF, World Bank, CGI berusaha untuk memperbaiki keadaan.

Privatisasi, liberalisasi dan seterusnya itu, masih kata dia, mestinya dipandang sebagai antitesa untuk melawan pendekatan ekonomi dan politik Soeharto yang merugikan itu.

Tetapi ada baiknya saya tak berpanjang-panjang mengurai perdebatan ini.

Tahun 2002 lalu, saya sempat mengunjungi Nunukan. Kala itu, ribuan TKI dipulangkan secara paksa dari Malaysia (terutama yang bekerja di perkebunan sawit dan karet di negara bagian Sabah). Mendengar cerita mereka, geramlah hati saya pada banyak pihak yang memeras tenaga mereka, dan pada praktiknya menjual mereka untuk kepentingan sendiri.

Mereka bukan lagi diperkosa. Tetapi di “sum kuning”. Istilah ini ditujukan pada aktifitas memperkosa seseorang (ketika itu kebetulan korbannya wanita) secara beramai-ramai.

Sum Kuning adalah kisah nyata. Ia disebutkan sebagai seorang gadis penjual telur yang jelita dari Godean, Yogyakarta. Pada suatu hari di tahun 1970, Sum Kuning diperkosa beramai-ramai oleh anak seorang pejabat dan teman-temannya. Dia sempat disuap agar tak melaporkan pemerkosaan itu. Ketika ia mengadukan nasib sial yang diterimanya, para pelaku menyerang balik dan menuduh Sum Kuning memberi keterangan palsu. Sum Kuning yang malang itu pun dibawa ke pengadilan. Untunglah, sang hakim tak menjatuhkan hukuman pada Sum Kuning. Tahun 1978 kisah Sum Kuning diangkat ke layar lebar. Disutradarai Slamet Rahardjo Frank Rorimpandey dan dibintangi Yatty Surachman.

Ya, para TKI ini diperkosa beramai-ramai oleh pemerintah Indonesia berikut aparaturnya, pemerintah Malaysia berikut aparaturnya, PJTKI, rekanan PJTKI di Malaysia, pengusaha perkebunan di Malaysia, dan seterusnya. Ini adalah peristiwa sum kuning paling massif yang terjadi di muka bumi. Tidak di tempat gelap, tetapi di pertontonkan di atas panggung, dan kita semua bisa menyaksikannya. Gila.

Jalanan di depan dermaga Nunukan itu dipenuhi oleh TKI yang luntang lantung. Tidak tahu mau kemana. Mau pulang ke kampung halaman tak ada pekerjaan. Mau bertani, harga pupuk sudah melambung tinggi sementara harga jual gabah kering dan basah anjlok. Irigasi tak dibangun.

Kalau kembali ke rimba sawit di Sabah, ya mereka akan kembali dikerjai oleh banyak pihak sana. Pengusaha Malaysia menahan passport mereka, dan gaji mereka. Dan kalau mereka menuntut haknya, pengusaha Malaysia dengan gampang memanggil pasukan Rela dan mengatakan kepada pasukan Rela bahwa mereka adalah pekerja illegal.

Tak cukup makian mengalir dari mulut saya ketika itu untuk memperbaiki keadaan.

Tuhan, kita butuh lebih dari sekadar ganyang Malaysia. Maksud saya, jargon ganyang Malaysia pastilah tak akan cukup untuk menyelamatkan nasib mereka. Kita juga harus ganyang Indonesia!

Saya masih bisa makan di warung kaki lima di mulut dermaga. Warung ini berada agak ke bawah trotoar. Dari tempat saya duduk, yang tampak adalah ribuan pasang kaki orang-orang yang sungguh tak beruntung dalam hidupnya. Kalaulah bisa saya membagi keberuntungan saya selama ini kepada mereka…

Mereka mandi di got, sebagian tidur di rumah-rumah kosong. Ada juga yang nginap di kantor PJTKI yang berjejer di sepanjang Jalan Tien Suharto. Tak sedikit yang membawa anak-anak mereka. Ada yang katanya kehilangan anak ketika sedang terburu-buru meninggalkan Sabah. Ada yang menitipkan anak pada kerabat yang ada di sana.

Saya datang ke tempat penampungan mereka yang baru di bangun yang letaknya beberapa kilometer dari pusat Nunukan. Tak banyak yang mau tinggal di penampungan itu, karena mereka merasa lebih nyaman tinggal di pusat Nunukan yang dekat dengan kantor imigrasi.

See, mereka masih mau kembali ke Sabah.

Saya juga sempat ke Tawau, kota pelabuhan milik Malaysia di seberang sana. Dari Tawau saya pulang bersama 13 wanita muda yang semuanya mengaku terjebak bekerja sebagai pelacur di KK (Kota Kinabalu), ibukota Sabah. Seorang wanita yang saya wawancarai, dan keesokan harinya wawancara itu mengudara di Radio Ramako Jakarta, mengaku mesti melayani 10 laki-laki setiap hari.

Saya ditertawakan kawan di Jakarta, karena ketika bertanya tentang berapa laki-laki yang harus dilayani wanita itu, saya memulainya dengan kata-kata, “Maaf Mbak. Ini pertanyaan tidak sopan…”

Dan ada di antara mereka, yang paling muda dan paling bening dan karenanya paling diplototi orang di kantor polisi Nunukan itu, mengaku dulu mondok di pesantren sebelum direkrut “Sang Mami” jadi “Ayam”.

Begitulah sedikit gambaran keadaannya, mengapa saya sepakat bila kita ganyang Malaysia dan ganyang Indonesia Soeharto yang memusatkan pembangunan hanya di tangan sekelompok orang di Jawa, lalu memiskinkan daerah-daerah.

Ah… Cukuplah sampai disini e-mail saya ini.

32 comments

  1. Trims, Anggara yang sedang mempersiapkan diri Lebaran di Singapura…

    Nice story? Ah, kamu bisa aja.
    Model penulisan seperti ini disebut bergaya ular mematuk… Satu patukan di saat korban lengah… Ciaatttt…

  2. Tadinya, ini adalah sepucuk e-mail saya untuk kawan-kawan satu angkatan di IFP-2006. Tetapi belakangan saya pikir, boleh jugalah dimuat di blog ini. Nggak mau rugi…
    🙂

  3. kita tidak boleh membiarkan malaysia bertambah sombong!!! malaysia itu tidak tau diri!!!!!! mereka kekurangan warisan budaya, sehingga budaya kita turut dirampok oleh mereka. mereka sudah menjadi bangsa pencuri, dulu pulau kita direbut oleh mereka, tkw indonesia dianiaya, lagu2 kita dibajak oleh mereka. untuk apa kita membiarkan bangsa yang tidak tau diri itu? GANYANG SAJA SUNDEL UBEK ITU!!!!!!!!!! just fuck that son of a bitch!!!! ***** saja!!!

  4. sebagai orang yang bertuhan mestinya kita tahu, bahwa Allah itu tau apa yang kita perbuat dan terlintas dalam pikiran ini….
    klo kita sadar akan semua itu niscaya akan tentram lah dunia ini…cuma kita sebagai hamba Allah sering mengabaikan hal ini..
    padahal kita negara yang penduduk dan pemimpinnya orang islam..malu dunk…sebagai muslim….

  5. Mohon Maaf sedikit koreksi.
    Film tentang Sum Kuning yang diceritakan di atas bukan disutradarai oleh Slamet Raharjo, melainkan oleh Franky Rorimpandey

  6. JEALOUS? DENGKI? MAKAN HATI? SAKIT HATI? FIKIRAN KOLOT…GANYANG MALAYSIA TIADA ERTINYA…INI ZAMAN MODEN KAMI HANYA PERLUKAN BUTTON AND PRESS IT…TAK PERLU GANYANG GANYANG CARA KUNO.

    ALL THE BEST AND GOOD LUCK. PENDAPAT ANDA TIDAK MENCERMINKAN PENDIRIAN KERAJAAN INDONESIA YANG BAGUS SEPERTI BAPAK SBY. ANDA….TERUSKAN MAKAN TEMPE…GANYANGLAH TEMPE KAMU SAMPAI BASI…..KERANA KAMI AKAN TERUS MAJU…DAN TERUS MAJU….FIKIRAN TERUS MAJU BUKAN MACAM KAMU YANG ALWAYS WANT TO STRESS ON SILLY ISSUES………

  7. BULAN PUASA YANG BERKAT INI JANGANLAH BERHASAD DENGKI…BANYAKKANLAH AMAL…PERSAINGAN HIDUP INI AMAT MENCABAR DI DUNIA MODEN INI. JANGAN JADI MACAM SAUDAR SAUDARA INDON ATAU PAK BUGIS/JAWA DI ATAS….KURANGKANLAH MAKAN TEMPEN TU…

  8. Assalamua’laikum Semua.

    Saya amat sedih melihat sebilangan besar sikap rakyat Indonesia, mengapa mereka menjadi warga yang amat emosional dikuasai oleh nafsu syaitan. Hanya kerana isu tarian atau budaya seolah2 merebut wilayah. Adakah dengan isu ini benar? Jika benar malaysia bersalah perlukah peperangan? Kamu suka peperangan seolah-olah kamu tidak takut Allah.. kamu angkuh wahi warga Indonesia.. Allah berikan kamu bumi yang luas, umat yang ramai..tapi kamu tidak mahu bersyukur dan menggunakan hasil pemberian Allah utk kebaikan. Kamu mahu bermusuh dengan jiran yang banyak bertolak ansur dengan kamu.. Semoga Allah jua ajar kamu kenal mana satu yang benar dan salah..

  9. Hati2 Pak ! Kalau apa2 terjadi, 3 juta TKI di Malaysia dalam bahaya. Orang Malaysia tidak guna bululh runcing tp Machine Gun. Senjata yg lebih effective dr buluh runcing kamu.

  10. jika indonesia serang malaysia mereka nak makan ape..?
    pasir,tahi..kita sesama nusantara dan agama perlu berbaik
    kerana ada musuh yang ingin mengambil peluang dari masalah ini..
    HIDUP MALAYSIA.. HIDUP INDONESIA

  11. Sungguh tidak waras tulisan ini. Hanya tahu mencoret dan menfitnah tanpa usul periksa. Baru satu kali turun ke Tawau, Sabah sudah merasa dirinya saja yang benar. Jangan bercakap semberono, cuba tanyakan kepada 13 wanita yang konon kamu selamatkan itu siapa yang menjebak mereka menjadi pelacur?

    Bukankah orang indonesia sendiri yang menggunakan ilmu hitam meniup mereka dengan asap cengkih hingga mereka dipukau ikut saja ke rumah pelacuran? Saya sudah jadi pengacara di Tawau berpuluh tahun lamanya. Perihal TKI dan kasus pelacuran sering saya dengar. Saya tahu dahulu memang ramai wanita jawa dijebak di Penginapan Anggun dan Jalan Kelapa menjadi pelacur. Tapi bapa ayamnya semua orang bugis Indonesia sendiri bukan? Malahan pelacur-pelacur ini bukan saja dilacurkan oleh orang Indonesia yang berada di Sabah, malah warga indonesia sendiri di Nunukan menjebak wanita-wanita ini di pelabuhan, dipukau dan diculik lalu dikurung di rumah “orang-jual-orang” di Nunukan.

    Hakikatnya penjebaknya adalah orang Indo lalu dijual juga kepada orang Indo. Kalau bukan kerana Pak Mahathir yang mngeluarkan arahan kepada Polis Malaysia agar benteras pelacuran di seluruh Malaysia, pasti pelacur-pelacur itu masih diserkap di rumah-rumah kontrakan di Jalan Kelapa. Kamu orang Indo hanya tahu menuduh saja. Saya juga tahu mengenai TKI-TKI yang kononnya di ‘perkosa hak mereka’ oleh warga Malaysia. Enak lagi ya memfitnah! Kalau ngak pernah turun melihat sistem keadilan Malaysia jangan coba-coba merasa dirimu juara!

    Di Malaysia memang ada majikan yang menyimpan passport pekerja indonesia, tapi mereka diberikan selinan xerox passport mereka untuk dibawa kemana-mana. Jadi walaupun ditangkap polisi, namun sekiranya mereka mampu menunjukkan bukti mereka punya passport yang masih valid, maka mereka akan dilepaskan. Malahan sekiranya mereka dibawa ke Mahkamah pun, sekiranya ada warga pekerja Indonedia yang memprotes mengatakan mereka punya passport valid, maka hakim Malaysia akan memerintahkan pihak Imigrasi memeriksa database di komputer bagi memastikan benar atau tidak warga Indo itu mempunyai passport valid.

    Itu TKI-TKI yang kamu dengar omongannya itu mungkin pernah ada passport, namun mereka tetap diusir kerana hakikatnya passport mereka sudah lama mati tempoh. Di Malaysia sekiranya majikan sengaja menggajikan TKI yang mati tempoh passport maka majikan itu sendiri akan ditangkap atas kesalahan menggaji PATI (Pendatang Tanpa Izin).

    Jadi apa yang sering berlaku adalah ramai warga indon sendiri pada asalnya datang ke Malaysia minta dijamin passport oleh kompeni Malaysia tapi kemudian sengaja kabur buat pekerjaan di tempat lain. Jadi kompeni Malaysia segera tarik diri daripada menjadi majikan mereka manakala pekerja-pekerja yang kabur ini pula masih mau keluyuran ke sana kemari sedangkan passportnya sudah tidak valid.

    Bila sudah ditangkap di jalanan baru menyeru-nyeru kononnya majikannya si polan itu dan ini yang tidak bertanggungjawab. Kemudian bila sudah dipenjara 4 bulan dan dicambuk 2 kali baru berdendam pada Malaysia dan memfitnah bukan-bukan pada orang yang kononnya terpelajar macam kamu. Cehhh..

  12. lagi satu ya, itu pelacur-pelacur indonesia yang dilacur oleh penjahat indon sendiri sekurang-kurangnya masih ada masa depan di malaysia. Ramai yang akhirnya diterima dan disayangi oleh orang Malaysia.

    Saya tahu ramai yang kabur dari dunia lacur dan jadi isteri kepada orang Malaysia yang masih mau menerima. Ya ramai suaminya orang tua tapi yang penting kan dihargai? Malahan ada yang sekarang sudah kaya dan sampai-sampai bina perusahaan di Jakarta dengan uang yang diberi suaminya di Malaysia. Hakikatnya mereka di Malaysia masih ada secebis masa depan, bukannya seperti di negara sendiri dimana mereka dipandang jijik oleh orang daerah sendiri.

    Di Malaysia tidak pernah ada peristiwa pelacur indonesia dipukul oleh pelanggan Malaysia, sebaliknya yang memukul itu semua bapa dan ibu ayam orang indonesia sendiri yang memaksa mereka melayan 10 orang sehari.

    Saya juga jadi marah kamu menggunakan perkataan “sum kuning”. Apa kamu lupa Sum Kuning itu dirogol oleh warga Indonesia sendiri?

    Apa juga kamu tidak tahu ramai penjahat-penjahat dari negara kamu terlibat merogol, membunuh dan merampok di Malaysia? Tidak malu mengatakan kami jahat semata-mata kerana satu dua kasus, tapi masih merasakan kamu baik sedangkan warga kamu disini sudah buka beribu-ribu kasus?

  13. Tq ama tulisan ini. Tq juga sama tanggapan2nya. Terutama tanggapan dari pihak jiran malay.
    Aku jadi tahu, ternyata selama ini kita jadi musuh bagi diri kita sendiri.
    Sukses semuanya!!!

  14. Sebenarnya bukan Ganyang Malaysia dan Ganyang Indonesia tetapi ganyang orang jahat di mana-mana sahaja melalui peraturan dan undang-undang. Tak kira di Malaysia ke, Indonesia ke, Singapura ke, Arab ke, Amerika ke, Eropah ke. “Ganyang Orang Jahat”. Itu yang sebetulnya. Kat akhirat nanti orang jahat akan betul-betul diganyang.

  15. Assalamualaikum..

    saya x paham kenapa nak bergaduh sesama sendiri?? moyang saya sendiri dtgnya dr jawa..saya x malu mengatakan saya ni berasal dari keturunan jawa..nama saya pon mirip2 nama Indonesia…malah selalu org ingat saya ni orang indonesia wpun hakikatnya saya warga Malaysia.. maknanya indonesia & malaysia sama saja..sama ada org malaysia ker org indonesia ker yg penting kita ni umat ISLAM..umat Nabi Muhammad..

    rakan saya pon ada bibik..dtgnya dr Indon..tp cara layanan rakan saya sekeluarga kepada bibik tuh amat baik..dilayan seperti ahli keluarga..malah kalau saya ke rumahnya..bertegur sapa dengan bibik..xde plak dibezakan bibik tuh dr indonesia..yg penting kita ni sesama ISLAM..ISLAM pon mementingkan silaturrahim..x kira agama, bangsa mahupun negara..

    rasa sedih bila tgk kita sesama Islam nak bergaduh..yg lain2 bertepuk tgn..berjaya menjatuhkan Islam..Nauzubillah la..semoga ALLAH lindungi rakyat Malaysia n Indonesia dr sebarang bencana..amin…

  16. its all…erm….false…setuju dengan melayu nusantara….kalo pasport xde..kalo kena tangkap dgn polis..boleh check la kat jabatan imegresen..dah tu,masuk dah la secara haram,betapa baiknya gverment malaysia..siap tolong hantar balik ke indonesia…and,bukan stakat orang indon je,orang dari negara china pun ada salah guna pasport untuk jadi pelacur…for ur in4mation…penjara2 di malaysia..dipenuhi dengan rakyat indonesia yg terlibat dengan jenayah…dah la wat jahat..menghabiskan duit kerajaan malaysia untuk menyediakan budget untuk menanggung makan banduan dari indonesia..
    berkaitan kes dera..jgn ingat amah je yg kena dera tau…even byk dah kes anak2 majikan yg kena dera…dah tu menggoda majikan(man)…tki plak…masa aku g melacca central..nak balik rumah…aku dah rasa macm kat indonesia dah…rasa tak slamat walaupun dkt negara sendiri..x termasuk yg dari bangladesh,africa,vietnam..huh…memang berbilang bangsa betol malaysia ni

Leave a Reply to Khalifah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s