Dari Paket Batik sampai Permias Hawaii

SETELAH menunggu sebulan, akhirnya paket yang aku tunggu-tunggu dari Jakarta tiba kemarin sore. Cerita soal paket ini agak lucu dan menggemaskan memang. Sekitar sebulan lalu, aku minta tolong istri di Jakarta (sebenarnya di Bekasi Barat, Jawa Barat) untuk mengirimkan baju-baju batikku yang tidak sempat terbawa. Waktu berangkat ke Hawaii aku hanya menenteng sebuah koper bercorak batik (agar gampang dikenali dari kejauhan). Tak dinyana kebutuhan akan baju ternyata cukup tinggi juga. Maklum, sepanjang tahun di Hawaii adalah musim panas (yang indah).

Intan, istriku, tentu saja menjawab dengan mesra, “Baik, Yah.”

Selain batik, Intan juga mengirimkan makanan: sambal teri Medan dan paru-paru goreng. Karena pasti akan sangat merepotkan, dia tak bisa mengirimkan gule kepala kakap kegemaranku. Paket itu dititipkan ke seorang teman kami yang bekerja di kantor Fedex Jakarta. Tiga minggu berlalu, paket itu tak kunjung tiba juga. Baru ketahuan penyebabnya setelah Intan mendatangi kantor Fedex. Ternyata, paket itu ngendon di kantor Fedex sejak hari pertama dititipkan. Menurut petugas di kantor Fedex mereka tak dapat mengirimkan paket karena tidak ada penjelasan tentang jenis makanan yang ada di dalamnya. Nah, doi bilang, mereka juga sudah menghubungi teman kami itu. Tetapi hapenya tidak diangkat-angkat, dan lagi orang yang kami mintain tolong ini sudah pindah kerja ke perusahaan lain. Jadi, waktu mengirimkan paket kami ke kantor Fedex, itu adalah hari terakhir dia ngantor.

Ya sudah. Paket itu dibawa pulang lagi. Dan dikirimkan kembali hari Senin lalu, tidak via Fedex, melainkan via EMS. Harganya lebih murah, dan sampai tepat waktu juga. Sebelum dikirimkan kembali, Intan menyempatkan diri bikin sambal teri Medan yang baru, dan kali ini menyisipkan rendang kering. Sementara paru goreng (aku juga tidak begitu suka) batal diberangkatkan ke Hawaii.

Selain mengirimkan baju-baju batik, Intan juga mengirim sebuah mobil-mobilan kodok plastik berwarna merah. Intan membeli mobil mainan itu dua buah. Satu lagi berwarna biru, dan jadi mainan kegemaran Timur anak kami. Kata Intan, mobil mainan itu dikirimnya agar aku tetap merasa dekat dengan Timur. Kata banyak orang, Timur ini lebih mirip aku, kecuali kulitnya yang lebih terang. Bisa dikatakan, Timur adalah aku versi putih.

Barang kecil lain yang dimasukkan dalam paket adalah gantungan dari plastik berbentuk hati (love). Kata Intan, itu adalah gantungan tas Farah, anak pertama kami. Nah, kata Farah, gantungan itu dititipkannya dalam paket batik untukku sebagai hadiah ulang tahun.

Waktu membuka paket itu, aku sambil chatting dengan Intan. Jadi, mobil mainan dan gantungan hati plastik itu aku perlihatkan di webcam. Farah tepuk tangan, sambil muach-muach.

Juga ada CD berisi lagu-lagu Benny Goodman, seorang pemusik jazz asal Chicago di era 1930-an. Aku berkenalan dengan Benny Goodman ketika sedang sekolah sebentar di Singapura. Seorang teman satu hall, warganegara Amerika Serikat pernah bekerja di Bank Sentral AS dan sekarang bekerja di Konjen AS di Bombay, memberikan kaset Benny Goodman miliknya. Kata dia, itu kenang-kenangan.

Beberapa tahun kemudian, di Plaza Senayan ketika jalan-jalan dengan Intan, aku menemukan CD lagu-lagu Benny Goodman. CD itulah yang dikirim Intan bersama paket batik untukku.

Kawan-kawan yang suka jazz, mungkin sudah tahu tentang Benny Goodman. Bagi yang ingin menyukai jazz, aku rekomendasikan Benny Goodman.

Selain CD Benny Goodman, Intan juga mengirimkan CD lagu-lagu John Denver, pemusik country yang tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat California tahun 1997 kalau tidak salah. Seperti bapaknya yang dinas di Angkatan Udara AS, John juga hobi terbang. Lagu Leaving on the Jet Plane kembali dipopulerkan oleh film Armageddon tahun 1998. Selain Leaving on the Jet Plane, beberapa hits John juga di-compiled dalam CD ini: Take Me Home, Country Roads; Starwood in Aspen; The Eagle adn the Hawk; Sunshine on My Shoulder; Poems, Prayers and Promises; juga Rocky Mountain Highs.

Itu bagian pertama. Bagian kedua adalah tentang Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) Hawaii.

Kemarin di sela perayaan HUT Indonesia ke-62 di Waikiki, panitia juga menggelar pemilihan ketua umum Permias Hawaii. Perayaan itu juga dihadiri oleh warganegara Indonesia yang berada di Hawaii. Di kepanitian aku jadi koordinator perlengkapan. Erda jadi koordinator acara dan perlombaan. Sementara Rahma dan Linda mempersiapkan makan siang di rumah Ibu Roosman. Mereka nginap satu malam di rumah sang Ibu.

Menurut cerita yang kami dengar, sesuai tradisi pemilihan ketua Permias Hawaii memang dilakukan bersamaan dengan kegiatan 17-an itu. Selain aku, nama Erda dan Rahma juga beredar di bursa pemilihan. Tetapi di putaran kedua, pemilihan hanya diikuti oleh aku dan Ninik, anak IFP angkatan tiga. Pemilihan yang biasa-biasa saja di sebuah organisasi yang juga biasa.

Kemarin memang tidak ada pilihan lain buatku, kecuali mengiyakan saja ketika beberapa kawan memintaku ikut pemilihan. Beberapa mahasiswa menurut penilaianku sebetulnya punya kemampuan lebih dan lebih tepat untuk memimpin Permias Hawaii. Misalnya Pramono, Agung, Andreas, Alfian. Setidaknya mereka lebih mengenal Hawaii dan masyarakat Indonesia di Hawaii. Permias Hawaii ini memang organisasi mahasiswa. Tetapi dari informasi yang aku kumpulkan, Permias Hawaii juga menjadi katakanlah perekat, atau motor masyarakat Indonesia di Hawaii.

Tetapi mereka, kawan-kawan yang menurutku lebih bisa ini, menolak dengan alasan yang cukup teknis: grant akan berakhir kurang dari setahun lagi. Jadi, kriteria utama dalam pemilihan itu adalah, apakah sang calon punya waktu yang cukup panjang untuk memimpin Permias Hawaii sampai tahun depan. Ada juga beberapa suara yang menolak pencalonanku, karena aku memang anak baru.

Oh ya, yang punya suara dalam pemilihan itu hanya 20 orang. Sementara masyarakat Indonesia yang tidak lagi jadi mahasiswa, juga beberapa foreign fellows yang ikut bersenang-senang dalam perayaan itu menonton dari dekat.

Usai pemilihan, aku dikalungkan lei oleh ketua sebelumnya, Ansori, juga anak IFP yang sedang ambil PhD di sosiologi.

Begitu cerita tentang Permias Hawaii.

Setelah ini, aku akan mengirim e-mail kepada Jim Dator, pakar future study di jurusan ilmu politik UH. Aku akan minta izin untuk sit in di kelasnya. Tadinya aku mau mengambil mata kuliah dia di semester ini. Aku bahkan sempat mendaftar kelasnya. Tapi apa daya, beban kuliah sudah cukup banyak.

Di semester ini aku ambil POLS 600 tentang scope dan methode in political science (yang amat disarankan oleh academic adviserku) serta POLS 610 tentang state theory (mata kuliah wajib). Juga dua kelas bahasa Inggris. Nah, karena beban sudah penuh, aku terpaksa dropped kelas future study. Tetapi sejak beberapa hari lalu beberapa mahasiswa menyarankan agar aku sit in saja di kelas Jim Dator. Okelah, Jim Dator dan future study adalah salah satu alasan pentingku ke Hawaii sini.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s