Blowback, Konsekuensi yang Tak Terbayangkan

a03_0RTRMNQW

Jepang akhirnya menyerah kalah tanpa syarat pada Sekutu. Perang Dunia Kedua sungguh telah memporakporandakan negara itu. Pengakuan kekalahan disampaikan Kaisar Hiroito pada 15 Agustus 1945, setelah dua kota penting Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, hancur lebur oleh bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat pada 6 dan 9 Agustus 1945.

Kekalahan Jepang menutup drama Perang Dunia Kedua. Namun di sisi lain, ia sesungguhnya membuka kotak pandora persaingan dua raksasa dunia: Uni Soviet dan Amerika Serikat. Pertarungan keduanya, berlangsung selama hampir lima dekade.

Sepanjang era Perang Dingin itu, Uni Soviet menguasai belahan Eropa Timur secara militer dan ekonomi, serta mempengaruhi beberapa negara pen­ting secara ideologis, seperti Republik Rakyat China, juga beberapa ne­gara lain di Amerika Latin yang kemudian memilih “jalan kiri” masi­ng-masing. Sementara Amerika Serikat menggelontorkan bantuan ekonomi yang menjadi senjata utamanya untuk membantu negara-nega­ra sekutu di Eropa Barat yang hancur dilantak Perang Dunia Kedua, serta memainkan peranan yang cukup besar secara ekonomi, politik dan militer di banyak negara mulai dari Afrika, Timur Tengah, Asia Timur juga Amerika Latin.

Amerika Serikat merancang banyak krisis di banyak nega­ra yang mereka kuasai, dan menggunakan rangkaian krisis sebagai alat politik untuk mendapatkan dukungan atau memperkuat dukungan yang sudah ada dari setidaknya kelompok elit di negara-negara itu. Hanya dalam beberapa dekade, Amerika Serikat menjadi sebuah empire yang begitu powerfull dan mampu menunggalkan proses politik, ekonomi dan budaya negara-negara satelit yang mereka ku­asai. Juga menunggalkan jalan pikiran pemimpin-pemimpin boneka yang mereka ciptakan di negara-negara satelit itu.

Di saat bersamaan, Uni Soviet juga melakukan hal yang kurang lebih sama terhadap negara satelit yang mereka kuasai. Namun sejak pertengahan era 1960an dan 1970an, Uni Soviet mulai kehilangan pengaruh, dan perlahan-lahan mundur teratur setelah perlombaan merebut ruang angkasa, diikuti kegagalan invasi Afghanistan selama satu dekade (1979-1989).

Pertarungan dua emporium baru dianggap berakhir setelah tembok Berlin yang memisahkan Jerman Kapitalis di sebelah barat dengan Jerman Sosialis di sebelah timur rubuh di akhir 1980an, disusul kehancur­an Uni Soviet di tahun 1991.

Uni Soviet, dan blok Timur yang dipimpinnya, memang lebih dahulu collapse dihantam gelombang krisis besar yang berbagai berbagai krisis kecil yang mereka ciptakan dalam rangka memperkuat hegemoni di negara-negara dan kawasan satelit mereka. Ameri­ka Serikat sedikit beruntung. Gelombang krisis besar baru menghantam mereka di paruh kedua era 1990an dan pertengah­an 2000an. Dan sejauh ini emporium itu masih berta­han.

Namun, jejak kebohongan dan borok yang mereka tinggalkan di berbagai belahan bumi mulai terbongkar dan tercium bau busuknya kemana-mana.

Gambaran akan borok-borok inilah yang dibeberkan Chalmers Johnson dalam buku Blowback: the Cost and Consequences of American Empire yang diterbitkan Owl Book, New York, tahun 2000. Buku ini kembali diterbitkan setelah peristiwa 9/11 setahun kemudian. Emporium yang dimaksud Chalmers Johnson adalah emporium dalam pengertian modern, dimana pengaruh dan hegemoni sebuah negara memiliki landasan ideologi yang ditanamkan lewat berbagai cara, maupun dengan penerapan sejumlah konsep “hukum internasional” lainnya, seperti persemakmuran, aliansi, free-world, dan free market. Dalam pengantar Blowback edisi 2000, Chalmers Johnson menjelaskan bahwa blowback adalah istilah yang digunakan dinas rahasia Amerika Serikat, Central Intelligent Agency (CIA), untuk menggambarkan konsekuensi yang tidak terbayangkan dari berbagai kebijakan mereka. Konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi namun tak terbayangkan itu ditutup rapat-rapat, sehingga tak banyak warga Amerika Serikat yang mengetahuinya.

“Apa yang diberitakan media massa sebagai “terrorist”, atau “drug lord” atau “rogue state” atau “illegal arms merchants” seringkali merupakan blowback yang lahir dari kebijakan Amerika Serikat sebelumnya,” tulis Chalmers Johnson. Dalam tulisannya yang juga berjudul Blowback, dan dirilis majalah The Nation edisi 15 Oktober 2001, Chalmers Johnson mengatakan bahwa istilah blowback dipergunakan pertama kali oleh CIA dalam sebuah dokumen yang ditulis di bulan Maret 1954 untuk menggambarkan operasi penggulingan pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran setahun sebelum laporan itu ditulis.

“Ini adalah metafora untuk menggambarkan konsekuensi yang tidak terbayangkan sebelumnya dari ber­bagai kebijakan politik internasional Amerika Serikat. CIA khawatir akan tercipta blowback dalam kadar yang sangat besar dari upayanya mengintervensi Iran. Menempatkan Shah Iran pada posisi puncak kekuasaan Iran pada akhir­nya telah melahirkan tirani yang berkuasa selama 25 tahun dan mendorong revolusi Ayatollah Khomeini.”

***

Seperti kebanyakan pemuda di zamannya, Chalmers Johnson yang ketika itu tengah menuntut ilmu di jurusan ekonomi University of California at Berkeley tidak mengetahui banyak hal tentang perkembangan politik di Asia Timur. Seperti kebanyakan warga Amerika lain­nya pula, Chalmers Johnson yang ketika tulisan ini di­buat memimpin Institut Penelitian Kebijakan Jepang di UC at Berkeley menganggap komunisme yang sedang mekar di China sebagai sebuah bahaya baru bagi Amerika Serikat. Bahaya baru yang sungguh-sungguh.

Ketika mengikuti wajib militer ia memilih bergabung dengan Ang­katan Laut, mengikuti ayahnya yang berkarier di Angkatan Laut saat Perang Dunia Kedua sampai awal Perang Korea 1950. Tetapi tidak seperti ayahnya yang sempat diterjunkan ke medan tempur Korea, Chalmers Johnson hanya ditempatkan di sebuah satuan cadang­an Pertahanan Udara Angkatan Laut, di Oakland, sampai Perang Korea usai di tahun 1953.

Tugas pertama Chalmers Johnson di era Perang Di­ngin adalah di kapal perang tanpa nama, U.S.S LST-883 yang berlayar menuju pangkalan Angkatan Laut Amerika di Yokosuka-Okinawa, Jepang. Ketika tiba di Jepang, Chalmers Johnson sama sekali tak menyangka ternyata Jepang hanya membutuhkan satu dekade untuk kembali tampil dan menjadi keajaiban ekonomi Asia. Jepang yang hancur lebur di akhir Perang Dunia Kedua setelah dua kota pentingnya, Hiroshima dan Nagasaki, dijatuhi bom atom, di masa itu menjadi salah satu pe­nantang hegemoni ekonomi Amerika Serikat yang harus diperhatikan dan diperhitungkan.

Chalmers Johnson bertugas di Jepang sampai tahun 1955. Kala itu dia memandang penugasan di negeri sakura itu sebagai sebuah kewajiban sejarah yang mesti dia lakukan untuk membantu negara­nya dan seluruh umat manusia dari bahaya komunisme yang mengalir dari Uni Soviet. Arti Perang Dingin di Asia Timur, yakin Chalmers Johnson, sama pentingnya dan sama strategisnya dengan ketegangan serupa yang berlangsung di Eropa. Apalai pada kenyataannya kala itu negara-negara sekutu Amerika Serikat di Eropa, seperti Inggris, Prancis dan Belanda ketika itu sudah tak punya tenaga ekstra untuk mengurus negara-negara Asia yang mereka kuasai sampai Perang Dunia Kedua berakhir.

Maka, tugas lain Amerika Serikat di Asia, di sam­ping untuk menghambat arus komunisme, adalah juga untuk membangun ne­gara-negara sekutu mereka itu. Pulang dari Jepang, Chalmers Johnson melanjutkan studinya di University of California at Berkeley, dan secara serius meng­amati dari dekat perkembangan Jepang pasca Perang Du­nia Kedua. Selain Jepang, negara lain yang juga menjadi fokus perhatian Chalmers Johnson adalah China, yang belakangan ini turut pula menjadi ancaman ekonomi bagi Amerika Serikat.

***

Blowback pertama yang dicontohkan Chalmers Johnson dalam bukunya adalah peristiwa pembajakan dan pengeboman pesawat penerbangan sipil Pan Am 103 milik Ame­rika Serikat di atas Locerbie, Skotlandia, bulan Desember 1988. Pesawat itu baru saja take off dari bandara Heathrow, London, dalam perjalanan menuju bandara John F. Kennedy di New York City. Sebanyak 259 penumpang pesawat naas itu tewas bersama 11 warga Skotlandia yang tertimpa reruntuhan pesawat. Peristiwa itu, tulis Chalmers Johnson, adalah aksi balas dendam atas serangan yang dilakukan pemerintahan Ronald Reagen di Libya yang menewaskan anak angkat Muammar Khadaffi.

Contoh lain yang disebutkan Chalmers Johnson untuk menggambarkan blowback itu adalah penyebaran kokain dan obat terlarang lainnya yang semakin menggila di daratan Amerika Serikat dalam dua dekade terakhir. Obat-obat terlarang ini kemungkinan besar adalah efek lain dari operasi intelijen yang dilakukan CIA untuk menggulingkan pemerintahan Sandinista di Nicaragua. Untuk menghadapi Daniel Ortega, Amerika Serikat secara intens membangun dan memelihara kelompok oposisi yang dinamakan Contras. Begitu juga dengan krisis politik di Peru yang terjadi di pertengahan era 1990an, hingga krisis di Israel akibat Ameri­ka Serikat membiarkan aksi kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.

“Amerika adalah target yang paling mungkin untuk semua aksi blowback itu,” tulis Chalmers Johnson. Aksi Khmer Merah di Kamboja yang dipimpin Pol Pot juga adalah hasil dari pekerjaan tangan politik luar negeri Amerika. Di era 1970an, Presiden Richard Ni­xon dan penasihat pertahanannya Henry Kissinger memerintahkan pengeboman besar-besar­an di wilayah Kamboja yang menewaskan 750 ribu orang Kamboja yang diduga mendukung Vietkong. Tidak cukup dengan aksi karpet bom, Amerika Serikat juga menggunakan Pol Pot untuk menghadapi gerilyawan Vietkong dan para pengikutnya yang menyusup ke wilayah Kamboja.

Kelak Amerika Serikat memang mendukung pengadilan internasional untuk kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Khmer Merah. Namun mereka minta agar kejahatan yang dilakukan Khmer Merah antara 1975 hingga 1979, yakni setelah Amerika membombardir Kamboja dan sebelum Amerika menggunakan Pol Pot untuk memenangkan perang di Vietnam, tidak diutak-atik. Inti dari blowback, sebut Chalmers Johnson lagi, sebuah negara atau bahkan emporium yang sangat berpengaruh tidak dapat mengontrol dampak dari kebijakan politiknya untuk jangka waktu yang panjang.

Dia mencontohkan perang yang berkecamuk di Afghanistan sejak era 1970an. Di saat Uni Soviet menduduki negara itu, Amerika Serikat dan CIA menyokong kelompok manapun yang ingin mengusir Tentara Merah Uni Soviet dari Afghanistan. Sokongan diberikan termasuk kepada Taliban, para pejuang suku Pasthun yang melarikan diri dari Afghanistan dan mengkonsolidasi kekuatan di Pakistan atas bantuan rezim Zia Ul Haq yang didukung pemerintah Amerika Serikat dan tentu saja CIA. Tetapi bulan madu dengan Taliban ini tak berlangsung lama. Setelah Uni Soviet angkat kaki di akhir 1980an, kelompok-kelompok Mujahidin yang tadinya bersatu mulai saring serang. Taliban dapat giliran berkuasa di tahun 1996.

Di sisi lain, kelompok Mujahidin yang beberapa tahun sebe­lumnya dipersenjatai dan didanai oleh CIA mulai menyerang induk semangnya, yang secara faktual juga melindungi Israel, musuh bersama dunia Arab dan orang-orang Islam. Tahun 1993, Tali­ban meledakkan bom di World Trade Center di New York City, serta membunuh beberapa anggota CIA di Langley, Virginia. Empat tahun kemudian, setelah pelaku pembunuhan di Virgi­nia dijatuhi hukuman oleh pengadilan Amerika Serikat, beberapa warga­negara Amerika Serikat yang sama sekali tidak punya kait­an dengan CIA dibunuh di Karachi, Pakistan. Amerika Serikat percaya, ini adalah aksi balas dendam.

Berbagai aksi koboi yang dilakukan Amerika Serikat di ba­nyak negara sempat memaksa Presiden Bill Clinton menyampaikan permohonan maaf pada bulan Maret 1999 atas keterlibatan CIA dalam pembantaian ratusan desa suku Maya di Guatemala yang dilakukan sepanjang 1981 hingga 1983. Enam tahun sebelumnya, Bill Clinton juga menyampaikan permintaan maaf atas keterlibatan Amerika Se­rikat dalam konspirasi penggulingan Kerajaan Hawaii.

“Sangat penting bagi saya untuk menekankan bahwa dukungan militer dan intelijen yang terlibat dalam kekerasan dan tekanan adalah salah. Dan Amerika Serikat harus tidak mengulangi lagi perbuatan itu. Amerika Serikat tidak akan terlibat lagi dalam aksi yang menggunakan cara-cara kekerasan,” kata Clinton ketika itu.

Dalam Blowback yang dirilis setelah serangan atas WTC di bulan September 2001 yang menewaskan tidak kurang dari 3.000 orang, Chalmers menguraikan sekali lagi tentang keterlibatan Amerika dalam menciptakan Taliban, Al Qaeda dan Osama bin Laden.

“Osama bin Laden memenuhi seruan kita untuk menghadapi Uni Soviet yang menginvasi Afghanistan di tahun 1979, menerima bantuan dan latihan militer serta senjata yang kita kirimkan, bersama dengan pejuang Mujahidin lainnya yang jumlahnya tak terhitung. Bantuan ini kita berikan segera setelah Uni Soviet memborbademen Afghanistan sehingga negeri itu kembali ke zaman batu dan meng­alami kehancuran seperti Vietnam,” tulisnya.

“(Sementara) hal terakhir yang menjadi perhatian bin Laden adalah, setelah Perang Teluk (1991) kita menempatkan pasukan “kafir” Amerika Serikat di Saudi Arabia,” demikian Chalmers Johnson. [guh]

One thought on “Blowback, Konsekuensi yang Tak Terbayangkan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s