Blowback! (Konsekuensi yang Tak Terbayangkan)

a03_0RTRMNQW

PASCA Perang Dunia Kedua, bersama Uni Soviet, Amerika Serikat menjadi pemain utama di pentas internasional.

Uni Soviet menguasai belahan Eropa Timur secara militer dan ekonomi, serta mempengaruhi beberapa negara penting secara ideologis, seperti China dan Indonesia, juga beebread negara lain di Amerika Latin yang kemudian memilih ‘jalan kiri’ masing-masing.

Sementara Amerika menggelontorkan bantuan ekonomi—senjata utamanya ketika itu—untuk negara-negara sekutu di Eropa Barat yang hancur karena perang, serta memainkan peranan yang cukup besar secara ekonomi, politik dan militer di banyak negara mulai dari Afrika, Timur Tengah, Asia Timur juga Amerika Latin.

Amerika Serikat merancang banyak krisis di banyak negara yang mereka kuasai dan menggunakannya sebagai alat politik untuk menarik dukungan atau memperkuat dukungan dari setidaknya kelompok elit di negara-negara itu. Hanya dalam beberapa dekade, Amerika berhasil menjelmakan dirinya menjadi sebuah empire, dan menunggalkan proses politik, ekonomi (pasar-kapitalis) dan budaya negara-negara satelit yang mereka kuasai dan pemimpin-pemimpin boneka yang mereka ciptakan itu.

Di sisi lain, Uni Soviet juga melakukan hal serupa terhadap negara satelit yang mereka kuasai. Namun sejak pertengahan 1960-an, Uni Soviet mulai kehilangan pengaruh, dan perlahan-lahan mundur teratur setelah perlombaan merebut ruang angkasa, sampai akhirnya bubar.

Pertarungan dua emporium ini menjadi warna dominan dalam perjalanan sejarah bumi dan umat manusia sejak Perang Dunia Kedua usai. Perang Dingin ini dianggap berakhir setelah tembok Berlin yang memisahkan Jerman Kapitalis di barat dengan Jerman Sosialis di timur rubuh di akhir 1980-an, disusul pembubaran Uni Soviet di awal 1990.

Uni Soviet dan blok Timur yang dipimpinnya memang lebih dahulu collapse dihantam gelombang krisis besar yang sebetulnya lahir dari berbagai krisis kecil yang mereka ciptakan—dalam rangka memperuat hegemoni—di negara-negara dan kawasan satelit mereka. Adapun Amerika sedikit beruntung. Gelombang krisis besar baru menghantam mereka di paruh kedua era 1990-an. Dan sejauh ini emporium itu masih bertahan. Namun kebohongan demi kebohongan dan borok yang mereka torehkan di berbagai belahan bumi mulai terbuka dan tercium bau busuknya kemana-mana.

Blowback.Gambaran akan borok-borok inilah yang dibeberkan Chalmers Johnson dalam buku Blowback: the Cost and Consequences of American Empire yang diterbitkan Owl Book, New York, tahun 2000. Buku ini kembali diterbitkan setelah peristiwa 9/11 setahun kemudian.

Emporium yang dimaksud Chalmers adalah emporium dalam pengertian modern, dimana pengaruh dan hegemoni sebuah negara memiliki landasan ideologi (yang ditanamkan lewat berbagai cara), maupun dengan penerapan sejumlah konsep hukum internasional lainnya, seperti persemakmuran, aliansi, free-world, blok Barat, dan blok Komunis.

Dalam pengantar Blowback edisi 2000, Chalmers menjelaskan bahwa blowback adalah adalah istilah resmi yang digunakan Central Intelligent Agency (CIA) untuk menggambarkan konsekuensi yang tidak dibayangkan dari berbagai kebijakan mereka. Harga yang tak terbayangkan itu ditutup rapat-rapat, sehingga tak warga Amerika yang mengetahuinya.

“Apa yang diberitakan media massa sebagai “terrorist”, atau “drug lord” atau “rogue state” atau “illegal arms merchants” seringkali merupakan blowback yang lahir dari kebijakan Amerika sebelumnya,” tulis Chalmers.

Sementara dalam tulisannya yang juga berjudul Blowback, dan dirilis majalah The Nation edisi 15 Oktober 2001, Chalmers mengatakan bahwa istilah blowback dipergunakan pertama kali oleh CIA dalam sebuah dokumen yang dibuat di bulan Maret 1954 untuk menggambarkan operasi penggulingan pemerintahan Mohammed Mossadegh di Iran setahun sebelumnya.

“Ini adalah metafora untuk menggambarkan konsekuensi yang tidak terbayangkan sebelumnya dari berbagai kebijakan politik internasional Amerika Serikat. CIA khawatir akan tercipta blowback dalam kadar yang sangat besar dari upayanya menginterfensi Iran. Menempatkan Shah Iran pada posisi puncak kekuasaan Iran pda akhirnya telah melahirkan tirani yang berkuasa selama 25 tahun dan mendorong revolusi Ayatollah Khomeini.”

***

Seperti kebanyakan pemuda di zamannya, Chalmers Johnson yang ketika itu tengah menuntut ilmu di jurusan ekonomi University of California at Berkeley tidak mengetahui banyak hal tentang perkembangan politik di Asia Timur. Dan seperti kebanyakan warga Amerika lainnya, Chalmers yang kini memimpin Institut Penelitian Kebijakan Jepang di UC at Berkeley menganggap komunisme yang sedang mekar di China sebagai sebuah bahaya baru bagi Amerika.

Ketika mengikuti wajib militer ia memilih bergabung dengan Angkatan Laut, mengikuti ayahnya yang berkarier di Angkatan Laut saat Perang Dunia Kedua sampai awal Perang Korea 1950. Tetapi tidak seperti ayahnya yang sempat diterjunkan ke medan tempur Korea, Chalmers hanya ditempatkan di sebuah satuan cadangan Pertahanan Udara Angkatan Laut, Oakland, sampai Perang Korea usai di tahun 1953.

Tugas pertama Chalmers di era Perang Dingin adalah di kapal perang tanpa nama, U.S.S LST-883 yang berlayar menuju pangkalan Angkatan Laut Amerika di Yokosuka-Okinawa, Jepang.

Ketika tiba di Jepang, Chalmers sama sekali tak menyangka negara yang porak poranda dalam Perang Dunia Kedua dan harus menerima dua bom atom di dua kota pentingnuya, Hiroshima dan Nagasaki, dan setelahnya diharamkan membangun kekuatan militer ternyata hanya membutuhkan dua dekade untuk kembali tampil dan menjadi keajaiban dalam ekonomi Asia. Kini Jepang adalah salah satu penantang hegemoni ekonomi Amerika yang harus diperhatikan.

Chalmers bertugas di Jepang sampai tahun 1955. Baginya ketika itu, tugas itu adalah sebuah kewajiban sejarah yang mesti dia lakukan untuk membantu negaranya dan seluruh umat manusia membendung komunisme dari Uni Soviet. Perang Dingin di Asia Timur, yakin Chalmers, sama pentingnya dan sama strategisnya dengan yang berlangsung di Eropa. Negara-negara sekutu Amerika di Eropa, seperti Inggris, Prancis dan Belanda ketika itu sudah tak punya tenaga ekstra untuk mengurus negara-negara Asia yang mereka kuasai sampai Perang Dunia berakhir. Maka, tugas lain Amerika di Asia disamping untuk menghambat arus komunisme, adalah juga untuk membangun negara-negara koloni sekutu mereka itu.

Pulang dari Jepang, Chalmers melanjutkan studinya di University of California at Berkeley, dan secara serius mengamati dari dekat perkembangan Jepang pasca Perang Dunia Kedua. Selain Jepang, negara lain yang juga menjadi fokus perhatian Chalmers adalah China, yang belakangan ini turut menjadi ancaman ekonomi bagi Amerika.

***

Blowback pertama yang dicontohkan Chalmers dalam bukunya adalah peristiwa pembajakan dan pengeboman pesawat penerbangan sipil Pan Am 103 milik Amerika Serikat di atas Locerbie, Skotlandia, bulan Desember 1988. Pesawat itu baru saja take off dari bandara Heathrow, London, dan dalam perjalanan menuju bandara John F Kennedy di New York. Sebanyak 259 penumpang dan 11 warga Skotlandia yang tertimpa reruntuhan pe sawat itu tewas.

Peristiwa itu, tulis Chalmers, adalah aksi balas dendam dari serangan yang dilakukan pemerintahan Ronald Reagen di Libya yang menewaskan anak angkat Muammar Khadaffi.

Contoh lain yang disebutkan Chalmers untuk menggambarkan blowback itu adalah penyebaran kokain dan obat terlarang lainnya yang semakin menggila di daratan Amerika dalam 20 tahun terakhir. Obat-obat terlarang ini kemungkinan besar adalah efek lain dari operasi intelijen yang dilakukan CIA untuk menggulingkan pemerintahan Sandinista di Nicaragua. Untuk menghadapi Daniel Ortega, Amerika secara intens membangun dan memelihara kelompok oposisi yang dinamakan Contras. Begitu juga dengan kriris politik di Peru yang terjadi di pertengahan era 1990, hingga krisis di Israel akibat Amerika Serikat membiarkan aksi kekerasan yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina.

“Amerika adalah target yang paling mungkin untuk semua aksi blowback itu,” tulis Chalmers.

Aksi Khmer Merah di Kamboja yang dipimpin Pol Pot juga adalah hasil dari pekerjaan tangan politik luar negeri Amerika. Di era 1970-an, Richard Nixon dan penasihat pertahanannya Henry Kissinger memerintahkan bombardemen di wilayah Kamboja yang menewaskan 750 ribu orang Kamboja yang diperkirakan sebagai pendukung Vietkong. Tidak cukup dengan aksi karpet bom, Amerika juga menggunakan Pol Pot untuk menghadapi gerilyawan Vietkong dan para pengikutnya yang menyusup ke wilayah Kamboja.

Kini Amerika memang mendukung pengadilan internasional untuk kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Khmer Merah. Namun mereka minta agar kejahatan yang dilakukan Khmer Merah antara 1975 hingga 1979, yakni setelah Amerika membombardemen Kamboja dan sebelum Amerika menggunakan Pol Pot untuk memenangkan perang di Vietnam, tidak diutak-atik.

Inti dari blowback, sebut Chalmers lagi, sebuah negara atau bahkan emporium yang sangat berpengaruh tidak dapat mengontrol dampak dari kebijakan politiknya untuk jangka waktu yang panjang. Dia mencontohkan perang yang berkecamuk di Afghanistan sejak era 1970-an. Di saat Uni Soviet menduduki negara itu, Amerika Serikat dan CIA menyokong kelompok manapun yang ingin mengusir Tentara Merah Soviet dari Afghanistan, termasuk Taleban, para pejuang suku Pasthun yang melarikan diri dari Afghanistan dan mengkonsolidasi kekuatan di Pakistan atas bantuan rezim Zia Ul Haq yang didukung Amerika dan tentu saja CIA.

Tetapi bulan madu dengan Taleban ini tak berlangsung lama. Setelah Uni Soviet angkat kaki di akhir 1980-an, kelompok-kelompok mujahiddin yang tadinya bersatu mulai saring serang. Taleban dapat giliran berkuasa di tahun 1996. Kelompok mujahiddin yang beberapa tahun sebelumnya dipersenjatai dan didanai oleh CIA mulai menyerang induk semangnya, secara faktual juga melindungi Israel, musuh bersama dunia Arab dan orang-orang Islam.

Tahun 1993, Taleban mengebom World Trade Center di New York, serta membunuh beberapa anggota CIA di Langley, Virginia. Empat tahun kemudian, setelah pelaku pembunuhan di Virginia dijatuhi hukuman oleh pengadilan Amerika, beberapa warga Amerika yang sama sekali tidak punya kaitan dengan CIA dibunuh di Karachi, Pakistan. Amerika percaya, ini adalah aksi balas dendam.

Berbagai aksi koboi yang dilakukan Amerika di banyak negara sempat memaksa Presiden Clinton menyampaikan permohonan maaf pada bulan Maret 1999, enam tahun setelah dia menyampaikan permintaan maaf atas keterlibatan Amerika dalam konsirasi penggulingan Kerajaan Hawaii. Permintaan maaf di bulan Maret 1999 itu berkaitan dengan keterlibatan CIA dalam pembantaian 400-an desa suku Maya di Guatemala yang dilakukan sepanjang 1981 hingga 1983.

“Sangat penting bagi saya untuk menekankan bahwa dukungan militer dan intelijen yang terlibat dalam kekerasan dan tekanan adalah salah. Dan Amerika Serikat harus tidak mengulangi lagi perbuatan itu. Amerika Serikat tidak akan terlibat lagi dalam aksi yang menggunakan cara-cara kekerasan,” kata Clinton.

Dalam Blowback yang ditulisnya pasca serangan atas WTC di bulan September 2001 yang menewaskan ribuan orang dan menghancurkan menara kembar itu, Chalmers menguraikan sekali lagi tentang keterlibatan Amerika dalam menciptakan Taleban, dan Osama bin Laden.

“Osama bin Laden memenuhi seruan kita untuk menghadapi Uni Soviet yang menginvasi Afghanistan di tahun 1979, menerima bantuan dan latihan militer serta senjata yang kita kirimkan, bersama dengan pejuang mujahiddin lainnya yang jumlahnya tak terhitung. Bantuan ini kita berikan segera setelah Uni Soviet memborbademen Afghanistan sehingga negeri itu kembali ke zaman batu dan mengalami kehancuran seerti Vietnam… Hal terakhir yang menjadi perhatian bin Laden adalah, setelah Perang Teluk (1991) kita menempatkan pasukan ‘kafir’ Amerika di Saudi Arabia.”

Advertisements

1 thought on “Blowback! (Konsekuensi yang Tak Terbayangkan)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s