Antara Saeful Badar, “Malaikat” dan Malaikat

MALAIKAT//Mentang-mentang punya sayap/Malaikat begitu nyinyir dan cerewet/Ia berlagak sebagai makhluk baik/Tapi juga galak dan usil/Ia meniup-niupkan wahyu/Dan maut/Ke saban penjuru//2007

SAEFUL Badar sedang jadi buah bibir. Puisi “Malaikat” di atas, karya pengelola Sanggar Sastra Tasik (SST) yang dimuat di rubrik Khazanah harian Pikiran Rakyat edisi 4 Agustus itu telah memicu protes keras kelompok Islam.

Dewan Dakwah Islamiyah Indoneisa (DDII) Jawa Barat mengecam puisi itu, yang menurut mereka jauh dari nilai estetika seni dan sastra, sekaligus tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama, khususnya Islam.

“Oleh karena itu, sajak tersebut dapat dikategorikan menghina agama, khususnya agama Islam,” tulis Wakil Ketua Umum DDII Jawa Barat, H.M. Daud Gunawan, dalam surat protes mereka.

Masih tulis Daud Gunawan, bila tidak ada maksud menghina agama Islam, tentulah sajak itu menggambarkan “kebodohan” penulis dan redaktur tentang konsep malaikat dalam agama-agama samawi, khususnya Islam.

“Jika penulisan dan pemuatan sajak tersebut dilakukan dengan sengaja untuk memancing amarah umat Islam dan menista ajaran Islam, tindakan tersebut serupa dengan apa yang dilakukan para penista Islam, seperti kasus Salman Rushdie dengan novel “Ayat-ayat Setan”, koran Jylland-Posten Denmark dengan karikatur Nabi Muhammad saw., dan kasus-kasus lainnya yang dinilai melecehkan Islam dan kaum Muslimin.”

Walau mengapresiasi permintaan maaf yang disampaikan pihak PR, namun DDII Jabar menilai kasus tidak dapat ditutup begitu saja. Mereka menuntut tindakan yang lebih jauh, termasuk mengklarifikasi sosok malaikat yang sebenarnya, sekaligus meng-counter opini yang dibangun penulis sajak lewat judul sajak “Malaikat” yang telanjur dipublikasikan.

Mereka juga menuntut agar PR mencekal Saeful Badar.

Adapun pihak PR menyampaikan permintaan maaf sehari setelah memuat puisi itu, menyusul protes yang dialamatkan kepada mereka. Dan di hari yang sama dengan pemuatan surat dari DDII itu, menyampaikan permintaan maaf, menyadari perbuatannya dan mencabut puisinya itu.

“Saya telah dibuat merenung dan kemudian menyadari bahwa saya telah melakukan suatu kekhilafan dengan membuat puisi seperti itu,” tulis Saeful. “Ini adalah kekhilafan dan kesalahan besar yang saya lakukan sepanjang karier kepenyairan saya.”

Sikap Saeful ini juga dikecam oleh sementara kalangan. Permintaan maafnya yang dinilai terlalu pagi dinilai justru merusak dunia sastra, dan menjadi preseden buruk. Bukan tidak mungkin, setelah ini setiap kali ada karya sastra yang dinilai menghina agama dan diprotes keras oleh kelompok agama, si penyair dengan gampang menyampaikan permintaan maaf sebagai tanda takluk atas tekanan kelompok yang membawa-bawa nama agama.

Mestinya, hal pertama yang dilakukan Saeful menyusul protes itu adalah membedah karya sastranya, dan melakukan klarifikasi dari sisi sastra.

Tetapi yang jelas dari permintaan maafnya itu, Saeful memang telah mengibarkan bendera putih. Dia berkata tidak mau berkilah lebih lanjut atas pemahamannya terhadap malaikat.

“Apa yang telah saya tulis di puisi tersebut merupakan bentuk kedhaifan saya sebagai manusia dalam menginterpretasikan gagasan dan imajinasi tentang malaikat. Sama sekali, tak terbersit niatan untuk menghina apalagi melecehkan. Sebetulnya sebagai umat Islam, saya yakini pula bahwa malaikat itu sebagai makhluk Allah SWT yang sangat suci dan mulia. Saya tidak hendak berkilah lebih lanjut tentang hal ini, sebab kesalahan itu memang nyata telah saya lakukan. Oleh karenanya, saya merasa menyesal telah melakukan itu.”

Selesaikan kasus ini? Belum. Berbagai kelompok diskusi demokrasi dan sastra, hari Selasa lalu (14/8) di Bandung mengeluarkan pernyataan sikap menentang tekanan yang dilakukan kelompok Islam terhadap Saeful dan PR.

Para penandatangan pernyataan sikap itu antara lain adalah Komunitas Azan, Tasikmalaya; Sanggar Sastra Tasikmalaya (SST); Teater Bolon, Tasikmalaya; Komunitas Malaikat, Ciparay Institut Nalar, Jatinangor; Aliansi Jurnalis Independen, Bandung; Forum Studi Kebudayaan ITB; Masyarakat Antikekerasan; Gerbong Bawah Tanah, Bandung; dan BPK 0I, Tasikmalaya.

Menurut mereka, setiap individu berhak mengungkapkan diri baik secara lisan maupun tulisan. Mereka menentang dan menyesalkan segala bentuk pemutlakan tafsir atas karya sastra oleh individu dan golongan tertentu, serta menentang dan menyesalkan segala bentuk sikap yang tidak toleran terhadap karya sastra.

“Kami juga menentang dan menyesalkan sikap dan tindakan yang cenderung membawa-bawa agama, atau menekankan pertimbangan bernada keagamaan, sebagai tameng bagi pemutlakan dan pemaksaan sikap dan pandangan individu dan golongan tertentu. Janganlah mempermain-mainkan agama demi tujuan-tujuan yang sempit, picik, dan pendek.”

Kelompok ini juga meminta agar media massa sebagai salah satu institusi sosial yang mengelola ruang ekspresi kolektif, sepatutnya dapat menjaga integritas sehingga tidak mudah dipermainkan oleh individu dan kelompok tertentu.

Dalam surat protesnya, DDII juga menyampaikan konsepsi malaikat dalam ajaran Islam. Malaikat, tulis organisasi ini, adalah satu dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah SWT yang mendapat keistimewaan tersendiri. Mereka merupakan makhluk rohani bersifat gaib, tercipta dari cahaya (nur), selalu tunduk patuh, taat, dan tak pernah ingkar kepada Allah SWT. Malaikat menghabiskan waktu siang-malam untuk mengabdi kepada Allah SWT. Mereka tidak pernah berbuat dosa dan tidak pernah mengerjakan apa pun atas inisiatif sendiri, selain menjalankan titah kuasa perintah Allah SWT semata. Mereka diciptakan Allah SWT dengan tugas-tugas tertentu.

DDII juga mengatakan bahwa bagi umat Islam, percaya (iman) kepada Malaikat, adalah bagian dari rukun Iman yang enam, di samping iman kepada Allah, Rasul-rasul Allah, Kitab-kitab Allah, takdir, dan hari akhir.

“Iman kepada Malaikat menjadi bagian terpenting dari tauhid (mengesakan Allah) dan membebaskan manusia dari syirik (menyekutukan Allah).”

Dengan demikian, sambung DDII, bagi umat Islam, Malaikat bukan sosok yang bisa dipermainkan atau diolok-olok, baik oleh ucapan, kalimat, maupun tindakan, oleh seorang penyair, sekalipun atas nama kebebasan berekspresi.

10 thoughts on “Antara Saeful Badar, “Malaikat” dan Malaikat

  1. puisinya ngga bagus-bagus amat. tak perlu diributkan seharusnya. toh malaikat itu bukan barang kepunyaan satu agama tertentu. semua orang bebas memiliki malaikat. orang komunis punya malaikat, orang nyembah batu juga punya malaikat. nobita juga punya malaikat. begini aja jadi polemik. dasar bangsa yang aneh.

    tapi salut buat kang saeful. sudah tenar pula sekarang euy.

  2. wah hebat kang saeful! “umat islam” baru pada ngumpul kalau ada puisi nyeleneh ya! besok2 semua bikin puisi yang lebih banyak lagi, biar tambah rame… wehehehe…

  3. kayaknya bangsa kita terlena dengan gaya hidup instant sehingga berpikirpun serba instant…dan saya sarankan sama kang Badar supaya mengadakan acara bedah puisi supaya publik yang tak paham bisa ngerti…saya salut dengan jalan yang ditempuh kang Badar yaitu menghindari konflik dengan meminta maaf meskipun hati kecil tidak merasa bersalah….dengan insiden ini artinya penyair harus lebih dekat lagi dengan para ulama/tokoh agama dan begitu juga sebaliknya…dan berikrar tidak ada dosa diantara kita.

  4. ah, saipul badar itu sebenerya paling2 ada masalah dengan ceweknya, terus dalam puisinya yang remeh itu kata “perempuan” di gati “malaikat”
    bukan penyair dia!

  5. puisi kok tujuannya bikin rame-rame. mau cari popularitas?
    banyak hal lain yang mesti dipikirkan, tau…
    bayangin aja kalo dulu sokrates pikiranya kayak giu, mungkin sekarang masih abad gelap

  6. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  7. Meski terlambat tau akibat ngalalana ka luar nagri jeung lila teu muka2 internet, Kang Badar gara2 gasoling pagentos.sobat lama 4 club.DJ-Brunei Darussalam

  8. Saya kira dialog adalah jalan yang elok. Saya faham apa yang jadi kehawatiran DDII, saya juga memahami proses kreatif seorang saeful badar…

    oleh karena itu, saya rasa masalah pemaknaan yang menjadi soal. dialog adalah jalan tengahnya

  9. Ooooo…. Banyak orang orang besar rupaya di Indonesia teurcientai ini, sehingga bagi mereka semua serba kecil, sepele, remeh temeh, seugietue doaeng..?! Jangan lupa kamu semua berasal dari sesuatu yang sepele bahkan tak berharga sepersenpun, cairan berwarna putih kental, itulah asal mulaya kamu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s