Lagi, Tentang Cipinang (Judulnya Belum Ketemu)

HUJAN turun sederas-derasnya. Langit semakin gelap. Sesekali halilintar menggelegar. Angin bertiup tak kalah kencang. Magrib baru saja lewat. Aku masih menunggu di ruang tamu LP Cipinang. Hanya ada aku dan dua orang wartawan yang menemaniku sejak beberapa saat lalu. Mereka menungguku dan menunggu hujan reda.

“Mas, jadi gak keluar hari ini.” Salah seorang dari mereka bertanya.

“Mestinya sih jadi,” jawabku singkat.

Kupingku awas mendengar bunyi air jatuh yang menghantam bumi. Kantong plastik berisi beberapa helai baju dan buku-buku berada di sampingku. Baru tadi tadi pagi buku-buku itu diantarkan adikku. Seingatku ada novel Kite Runner karya penulis Afghan-Amerika Khaled Hosseini, juga biografi Jenderal M Yusuf yang sebenarnya sudah selesai kubaca sebelum aku dijebloskan ke hotel prodeo ini.

Malam itu 20 Juli 2006. Sudah lebih dari 24 jam aku berada di LP Cipinang. Aku tiba di LP Cipinang sehari sebelumnya, sekitar pukul 17.00 WIB. Sore itu setidaknya Jakarta dua kali digoyang gempa berkekuatan lima sampai enam koma sekian skala Richter. Dua hari sebelumnya, Pangandaran di pesisir selatan Jawa Barat telah lebih dahulu digoncang gempa dan tsunami.

Tetapi aku tak merasakan sedikit goncangan pun. Tidak juga ketika aku masih menunggu di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Jalan HR Rasuna Said hari itu. Kabar tentang gempa justru kudengar dari narapidana, teman-teman satu selku di lantai dua Blok TP5 CD.

Aku masih ingat bagaimana Jaksa Penuntut Umum (JPU) bernama Firmansyah itu memanggilku ke ruangan di depan rumah tahanan Kajati DKI. Berkas kasusku yang hanya beberapa lembar tergelatak di depannya.

“Pak, Anda mesti kami tahan,” katanya. Aku menghela nafas. Di sebelah kiri, Sahroni, pengacara yang mendampingiku, mempertanyakan keputusan itu. Selama diperiksa polisi aku tak pernah ditahan karena dianggap dapat bekerjasama, katanya kira-kira.

Aku tahu, bahwa aku cukup gentar mendengar kalimat: Anda mesti kami tahan. Tapi rasa gentar itu tak boleh kutampakkan. Biarlah aku dan hatiku yang tahu.

“Mana surat yang harus saya tandatangani,” tanyaku cepat memutus perdebatan mereka. Aku tahu si JPU pasti akan bertahan pada keputusannya.

Dia lantas menyodorkan seberkas surat penahanan. Enam lembar, dan kutandatangani dengan cepat satu persatu. Setelah itu aku meninggalkan ruangan.

Di luar, sebuah mobil tahanan kijang tua berwarna hijau tua telah menungguku. Mesinnya telah dinyalakan sedari tadi.

Aku masuk dari pintu belakang. Baru saja aku duduk, seorang petugas membanting pintu dan mengunci gemboknya. Cklek. Sahroni yang ingin menemaniku duduk di belakang diminta sang jaksa duduk di depan, di sebelah supir.

Lalu mobil itu bergerak, keluar dari gedung Kejati DKI, berbelok ke Jalan Gatot Subroto, dan masuk tol, menuju Jatinegara dan Cipinang. Sepanjang jalan sirenenya meraung-raung.

Dalam perjalanan ke LP Cipinang itu baru aku menghubungi kawan-kawan yang lain. Yang pertama kuhubungi adalah kawan di Rakyat Merdeka, mengabarkan bahwa aku tidak bisa masuk kantor hari itu. Dia kaget. Ada apa, tanyanya. Aku jelaskan sedikit, karena waktuku tak banyak dan aku mesti menghubungi beberapa orang lagi.

Sejak kasus itu muncul ke permukaan, aku memang memilih tak bercerita kepada banyak orang. Tak ada petinggi Rakyat Merdeka yang tahu bahwa sepanjang bulan Mei dan Juni aku diperiksa di Cyber Crime Unit Polda Metro Jaya. Hanya beberapa kawan di kantor yang tahu tentang kejadian itu. Dan kepada mereka, aku minta agar tak usah gembar-gembor segala. Aku hanya tak ingin pembicaraan yang meluas tentang kasus ini akan membuat keadaan semakin rumit.

Menurutku cukuplah membicarakan kasus ini dengan kalangan terbatas. Setelah menerima panggilan pertama dari Cyber Crime Unit Polda Metro Jaya aku melaporkan kasus ini ke rapat AJI Jakarta, dan berharap agar AJI bersedia menggelar sidang Majelis Etik. Aku ingin mendengar pertimbangan dari Majelis Etik, apakah yang aku lakukan masih berada di dalam koridor jurnalistik, atau tidak.

Seminggu kemudian sidang digelar, dan di akhir sidang Majelis Etik menyatakan bahwa aku tak melanggar prinsip kerja jurnalistik. Rekomendasi ini adalah modal berharga bagiku.

Bagaimana dengan pendekatan kepada kelompok-kelompok Islam, baik radikal maupun moderat? Langkah itu juga sudah kupikirkan sejak awal. Tapi aku memilih untuk menunggu lebih dahulu apakah kasus ini akan diseriusi. Kalau semakin serius, oke, aku akan menguhubungi para tokoh Islam yang kukenal maupun yang tidak kukenal, untuk mendiskusikan perkara ini.

Strategi ini, atau setidaknya jalan pikiran untuk tak membicarakan kasus ini dengan kalangan yang lebih luas belakangan terbukti tepat.

Selama dalam perjalanan ke LP Cipinang yang juga kuhubungi adalah papaku di Binjai. Lalu mertuaku. Pesanku kepada keduanya sama: everything will gonna be alright.

Dan tentu saja aku juga menghubungi istriku yang baru pulang dari rumah sakit bersama anak kedua kami, Timur yang lahir empat hari sebelumnya.

Istriku, wartawan yang kemudian memilih untuk mengasuh kedua anak kami, tak gentar sedikitpun mendengar ceritaku. Dia bilang, pandai-pandailah menjaga diri di dalam LP Cipinang. Dia yakin aku tak bersalah. Dia yakin aku tak akan lama berada di LP Cipinang.

Bersambung.
“Saya tak punya tatto. Kalau bekas sunat ada…”

One comment

Leave a Reply to you-know-who Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s