Tuanku Rao Hidup Lagi!

KISAH ini bermula dari penggeledahan Klenteng Sam Po Kong di Semarang pada tahun 1928, dua tahun setelah pemberontakan Partai Komunis berhasil digagalkan pemerintah Hindia Belanda. Perintah untuk Residen Poortman—sang pemimpin penggeledahan—cukup jelas dan tegas: cari tahu apakah Klenteng Sam Po Kong juga dijadikan salah satu basis gerakan pemberontak ketika itu.

Di sisi lain, pemerintah Hindia Belanda tengah berupaya mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai negeri yang sedang mereka jajah. Berbagai rumor telah terdengar sejak lama, bahwa, misalnya, Raden Patah sang pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa, buklanlah orang Jawa tulen. Darah Tionghoa mengalir deras di tubuh keturuan raja Majapahit itu. Konon lagi, dokumen mengenai hal itu tersimpan di Klenteng Sam Po Kong, dalam kumpulan kronik yang berusia lebih dari 400 tahun.

Tetapi selama ini, sebelum pemberontakan Partai Komunis 1926, pemerintah Belanda tak punya alasan yang cukup kuat untuk masuk dan memeriksa kronik-kronik tersebut.

Tak kurang dari tiga pedati dokumen dibawa Poortman ke Institut Indoologi (semacam Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri) di Negeri Belanda.

Poortman sangat merahasiakan penelitiannya atas kronik Klenteng Sam Po Kong ini. Dia memberi tanda GZG, singkatan dari Geheim Zeer Geheim alias “sangat rahasia”, ditambah kalimat uitsluitend voor Dienstgebruik ten kantore (hanya boleh dibaca di kantor).

Hasil laporannya pun hanya ditujukan kepada Perdana Menteri Colijn, Gubernur Jenderal, Menteri Jajahan, dan arsip negara di Rijswijk di Den Haag.

Nah, Mangaraja Onggang Palindungan yang sebenarnya fokus utama tulisan ini, agak beruntung. Ketika belajar di Sekolah Tinggi Teknologi di Delft, dia menjalin hubungan yang amat erat dengan Residen Poortman. Entah bagaimana pastinya, MOP dapat kesempatan untuk mempelajari dan menyalin bagian pembuka hasil penelian Poortman itu. Kelak kemudian hari, MOP menjadikannya bahan utama dari buku Tuanku Rao yang ditulisnya tahun 1964 mengenai penyebaran agama Islam di Nusantara.

Empat tahun kemudian, 1968, catatan dari kronik Klenteng Sam Po Kong (dan Klenteng Talang yang juga digrebek) dijadikan bahan rujukan utama dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara yang ditulis Prof. Slamet Muljana. Seperti Tuanko Rao, buku Slamet Muljana ini pun dibreidel pemerintah Orde Baru dengan alasan mengganggu stabilitas nasional.

Pemerintah Orde Baru yang lahir pasca “pemberontakan” Partai Komunis Indonesia (1965) mengaitkan apapun yang berbau Tionghoa dengan komunisme. Sementara di dalam kedua buku, karena berasal dari sumber yang sama, Tionghoa mendapat tempat yang amat spesial. Glorifikasi Tionghoa ini lah yang dihindari oleh Orde Baru, walau di sisi lain, Soeharto juga didukung oleh (cikal bakal) taipan Tionghoa ketika itu.

Setelah lama menghilang, buku Tuanku Rao kembali diterbitkan. Hari Kamis pekan ini (5/7), Tuanko Rao akan diluncurkan dan dikupas habis di Aula Library Senayan, Departemen Pendidikan Nasional, Jalan Jend. Sudirman, Jakarta. Bila di tahun 1964 Tuanku Rao diterbnitkan oleh Tandjung Harapan, maka dalam reinkarnasinya kali ini ia diterbitkan oleh LKiS.

Dua sejarawan andal, Asvi Warman Adam dan Batara R. Hutagalung akan menjadi pembahas buku yang berjudul asli cukup panjang itu: Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak 1816 – 1833.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

6 thoughts on “Tuanku Rao Hidup Lagi!”

  1. Assalamu’alaikum
    Apa kabar Mas Teguh? Semoga sehat-sehat selalu. Mas, terima kasih nih sudah meresensi buku Tuanku Rao. Luar biasa ya, buku ini menjadi barang antik. Tapi, saya ingin menanyakan kepada mas Teguh. Apa benar dalam buku itu dituliskan, bahwa Islam masuk ke Sumatera Utara dengan perang dan penyerbuan dari masyarakat Bonjol?info ini saya temukan dari mailist. Saya menjadi bingung. Apakah benar masuknya islam ke Sumatera Utara dilakukan dengan penyerbuan? saya mohon penjelasan mas Tegus setelah membaca buku itu.
    Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih mas
    Wassalam
    Rahmat Hidayat Nasution
    http://menikmati-resensi.blogspot.com

  2. Aloha.
    Wah, Bung RHN yang baik. Saya belum baca buku Tuanku Rao
    Tulisan di atas saya buat untuk menyambut peluncuran kembali buku itu, tangal 5 Juli lalu. Saya sendiri sedang berada di Honolulu, Hawaii. Baru dua minggu di sini, untuk studi master yang mungkin dua tahun. Nah, adik saya di Jakarta sedang membaca buku itu. Katanya, ditulis dalam ejaan lama. Saya minta dia menuliskan resensinya agar kita-kita yang sedang berada jauh dari tanah air juga dapat mengetahuinya. Ini buku unik, mestinya.
    Mahalo, trims telah mengunjungi blog ini.

  3. Sudah sampai pada lembaran 128, aku kembali terkenang kata-kata Buya HAMKA, bahwa, Tuanko Rao itu novel fiksi. Tapi aku mengherankan, kok bisa buku fiksi nyaris begitu tepat menghitung kejadian. Tapi aku menimbang-nimbang agaknya emang tepat kalau Karya MOP itu dmasukkan ke dalam katalog sastra sejarah. Karena, ternyata eh, ternyata, penyampaian MOP kepada “Sony Boy” adalah penuturan dongeng seorang bapak kepada anaknya menjelang tidur. Biar manis, biar heroik, biar terkesan alurnya mengesankan, maka ada penambahan dan pengurangan secara berlebihan.

    Maka aku heran, kok bisa dongeng bapak kepada “Sony Boy” menjadi sebuah buku sejarah.

    Terlepas, bahwa faktanya Bonjol memang menginvasi tanah Batak dengan bantuan orang Batak.

    Akhirnya aku tarik simpul sederhana, agama manapun di dunia selalu ditegakkan dengan menumpahkan darah. “Memanusiakan manusia” begitu kira-kira alasannya.

  4. RESENSI BUKU TUANKU RAO DI JAWA POS, MINGGU, 24 JUNI 2007.

    “PRAHARA DI TANAH BATAK”

    Judul Buku: Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali Di Tanah Batak.
    Penulis: Mangaradja Onggang Parlindungan
    Editor: Ahmad Fikri A.F.
    Penerbit: LKiS, Jogjakarta
    Cetakan I, Juni 2007
    Isi buku: iv + 691 halaman-Hardcover
    Harga: Rp 135.000

    “Tak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir,” begitu kata Nietzsche berkenaan dengan masalah kebenaran dan pengetahuan. Katakata itu tampaknya berlaku juga untuk sejarah, sebab sejarah erat kaitannya dengan serpihan-serpihan kebenaran dan pengetahuan, yang supaya bermakna perlu ditata dan ditafsir kembali. Karena itu, sejarah juga merupakan tafsir, dan sebuah tafsir bukanlah segumpal kebenaran mutlak. Ia baru merupakan upaya untuk mendekati kebenaran.

    Buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan ini merupakan salah satu upaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman masa lalu itu, terutama yang terkait dengan Perang Paderi. Melalui buku ini, penulis mengajak kita mengunjungi kembali ke masa lalu Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.

    Berbeda dengan sejarawan lain, penulis memilih untuk menuliskan sejarah Batak dengan gaya bertutur (story telling style), yang semula memang ditujukan kepada anak-anaknya. Di sinilah sesungguhnya letak daya tarik buku ini. Ia muncul orisinal karena fokusnya lebih diletakkan pada praktik penciptaan sejarah Batak itu sendiri ketimbang menjajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan naratif seperti praktik sejarawan konvensional selama ini.

    Menurut penulis, setidaknya ada dua alasan mengapa penyerbuan ke Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua, dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak. Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar, pun sampai mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh marga Siregar, akan kembali ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.

    Agama Islam Mazhab Hambali yang masuk ke Mandailing dinamakan penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol, meski dipimpin orang-orang Batak sendiri, seperti Pongkinangolngolan Sinambela (Tuanku Rao), Idris Nasution (Tuanku Nelo), dan Jatengger Siregar (Tuanku Ali Sakti). Dalam silsilah yang terlampir di buku ini, disebutkan bahwa Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Gana Sinambela (putri Singamangaraja IX) dengan pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela (adik Singamangaraja IX). Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra Singamangaraja VIII, sedangkan Gana Sinambela adalah kakak Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya (hlm. 355).

    Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh tiga orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin Datu Amantagor Manurung. Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati kepada keponakan yang disayanginya dengan menenggelamkandi Danau Toba. Tapi, bukannya mati tenggelam, Pongkinangolngolan terselamatkan arus hingga mencapai Sungai Asahan dan ditolong seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan pergi ke Minangkabau karena takut dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.

    Di Minangkabau, pada 1804, Pongkinangolngolan diislamkan oleh Tuanku Nan Renceh, lalu dikirim ke Makkah dan Syria serta sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri Janitsar Turki. Sekembalinya, pada 1815, Pongkinangolngolan diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan mendapat gelar Tuanku Rao.

    Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadan 1231 H (1816 M) terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis. Muarasipongi berhasil diluluhlantakkan dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorang pun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukan guna penyebaran agama Islam Mazhab Hambali.

    Setelah itu, penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara dilaksanakan 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang untuk memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding satu lawan satu. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi.

    Penyerbuan pasukan Paderi terhenti pada 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak pada 1818, hanya tersisa sekitar 30.000orang. Sebagian terbesar bukan tewas di medan pertempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, pada 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengislaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Sementara itu, Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Akhirnya, Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo tewas dipenggal kepalanya, sedangkan tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

    Akhirnya, buku yang terbagi dalam tiga bagian besar dan berisi 34 lampiran ini jelas memiliki tempat khusus di dalam penulisan sejarah berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai interpretasi yang tidak mutlak.

    Penulis telah menunjukkan adanya kekuatan pada naskah tertulis dalam merekonstruksi visi sejarah Batak bagi perkembangan politik, sosial, dan budaya. Tak dapat disangkal, kontribusi utama buku ini terletak pada temuannya atas faktor lain di luar domain historiografi konvensional. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan mengenai historiografi Indonesia. (*)

    Oleh: TASYRIQ HIFZHILLAH Peminat sejarah asal Probolinggo, bergiat di Lembaga Studi Pembebasan (LSP), Jogjakarta.

  5. bagaimana pendapat anda tentang sanggahan Hamka, tentang buku tuanku rao, karena secara geografis bonjol lebih dekat ke tanah batak (mandailing) dari pada ke Padang (Sumbar), oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan panglimanya banyak berasal dari tanah mandailing, termasuk tuanku tambusai di Riua, keturunannya mengakui sebagai marga harahap, komentar anda bagaimana?

  6. Memang Kalau berbicara tentang Tuanko Rao memang tidak ada habis-habisnya, ada yang bilang dari Tanah Batak, ada juga yang bilang dari Minang Asli, dan ada juga yang menanyakan tentang sejarah timbulnya gosong (karang yang keluar dari dasar Laut) Tuanku Rao di Pasaman Barat tidak berani menceritakannya.
    Ada juga yang mengatakan Tuanku Rao sebaiknya diangkat sebagai Pahlawan Nasional juga jika dilihat dari Perlawanan Terhadap Belanda yaitu menurut arah Mata Angin (jika pusatnya di RAO) , di Utara ada Sisingamangaraja XII , Dari Timur ada Tuanko Tambusai di Riau ( Pasir Pangarayan) , dan di Selatan Tuanku Imam Bonjol ada Benteng di Lubuk Sikaping , Rao sebagai Pusat mata Angin juga ada benteng Belanda (benteng Amorangon di Padang Matinggi ) ,
    Diketahui bahwa kalau di Militer di mana dibangun Benteng Maka perlawanan Rakyat melawan Belanda Pasti sangat Besar dan tempat tersebut cukup Strategis.

    Dikarenakan masih adanya perselisihan paham tentang dari mana asal beliau, itu yang menjadi keprihatinan saya pribadi sehingga nilai kebesaran seorang Tuanku Rao tidak ada artinya sampai saat ini.

    Sehingga saat ini memang benar menjadi ” Cerita Dongeng ” untuk pemuas tidur saja.

    Sangat di sayangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s